Kamis, 16 April 2009

Kisah Bocah Penjual Rempeyek

Bagi yang kuliah di UI dan sekitarnya, daerah kober pasti bukan tempat yang asing lagi. Entah kenapa sebutan Kober (yang berarti kuburan) bisa cocok untuk namain tempat hamparan barang-barang murah untuk segala keperluan. Sampai-sampai muncul pertanyaan di kepala gw, "Apa sih yang mahal di kober?". Dari beragam hal menarik yang gw jumpai di sana, tapi ada satu yang menarik perhatian gw. Bukan... bukan tempat ngejilid skripsi cepat nan murah atau jasa nyablon satuan, melainkan seorang anak kecil yang sering banget nongkrong di depan indomart. Di daerah kober dan ui ada 2 minimarket, indomart kober sama alfamart psiko UI, dua-duanya adalah penyuplai kebutuhan mahasiswa situ dan pastinya cukup sering dikunjungi para mahasiswa. Salah satu pengunjungnya adalah gw, dan anak kecil yang nongkrong di depan indomart itu membuat gw jatuh cinta pada pandangan pertama.

Gw inget, pertama kali liat dia di Indomart kober, gw bertanya-tanya, ni anak ngapain ya duduk di sini? lagi minta-minta atau gimana ya? Tapi gw terlalu fokus dengan kebutuhan logistik jadi langsung masuk aja dulu. Pas gw keluar, gw amati lagi tuh anak dengan cermat. And the best thing was he's not begging but put up some things for sale. Barang dagangannya ditaruh ember trus ditutupin koran gitu, jadi gw nangkepnya dia jualan. Gw dekati dia, lantas gw bertanya komoditi apa yang dia jual dan ternyata beberapa jenis gorengan (tempe, bakwan, etc), kue pisang, dan rempeyek kacang. Tanpa pikir panjang, gw beli aja beberapa rempeyek dari dia.

Beberapa waktu kemudian, gw liat dia lagi di depan Indomart kober. Masih dengan style dan dagangan yang sama. Gw juga berminat lagi beli rempeyeknya. Entah kenapa setiap gw liat anak itu, gw selalu bertanya-tanya: dari jam berapa dia jualan? rumahnya dimana? sekolah nggak? dan berbagai pertanyaan GU (gila urusan) lainnya soal doi. Gw cuma nggak habis pikir aja, dia masih jualan sampai sekitar jam 10, berhubung masih sekecil itu. Kalau sudah seperti ini pasti pikiran gw kemana-mana. Dari anggaran pendidikan negara sampai orang yang punya mobil jaguar. Rasanya gw pengen banget ketemu engkong Marx terus curhat sama dia sambil makan nasi kucing.

Tadi malam gw dan dimdim ngambil ATM di deket Alfamart Psiko UI dan bocah itu udah stay tune di sana. Padahal tadinya pas parkir di depan Indomart, gw bertanya-tanya : tumben nggak keliatan tuh bocah? Eh, taunya pas ke Alfamart, dia udah ada aja di situ. Seperti biasa, gw selalu terkesima sama dia dengan gaya nongkrong yang datar, dia juga bukan tipe anak yang memaksa kita untuk membeli dagangannya. Dia cuma jembrengin dagangannya dan sesekali menawarkan ke orang yang lewat. Malah menurut gw, gaya dia jualan cenderung pasrah dan pasif. Pas keluar Alfamart, gw langsung beli lagi rempeyeknya, tapi kali ini si dimdim tertarik liat gulungan daun pisang yang ternyata berisi kue pisang. Alhasil gw beli rempeyek dan kue pisang. Terus gw jalan ke arah kober, dan ternyata anak kecil itu juga lagi jalan, berhubung gw udah gatel banget pengen tahu tentang dia, si dimdim gw suruh manggil doi. Ternyata dimdim mau beli kue pisang lagi (aksi basa basi aja), kemudian kita tanyakan pertanyaan-pertanyaan itu ke dia.

Ternyata dia udah mulai jualan dari jam 5 sore. Cemilan yang dia jual dibuat oleh ibunya (home made). Dia masih sekolah dan duduk di kelas 4, rumahnya di srengseng sawah. Pas tahu rumahnya di situ, si dimdim yang fasih sama daerah situ bertanya lebih jauh. Rumahnya terletak di bilangan Kali Bates (where the hell tuh kali?) untuk mencapai daerah itu bisa naik angkot... dari kober. Tapi si dimdim tau angkot itu nggak sampe malem dan bener aja, dia kalau udah jam 10 harus naik angkot ke lenteng trus naik ojek. hah? Kita berdua terperangah, "Naik Ojek? Berapa tuh?". Lantas dia menjawab dengan ekspresi datar "Rp 5.000". Kita akhirnya berkesimpulan kalau total biaya yang dibutuhkan untuk sampai kober dan pulang ke rumahnya adalah 8.500 (berangkat naik angkot.. 2.000, pulang naik ojek + angkot= 6.500). Sekedar ilustrasi ya kawan, kue pisang yang dia jual satunya 700 perak dan rempeyeknya 1.500. Untuk bisa pulang dan berangkat berarti dia harus bisa menjual setidaknya 4 rempeyek dan 4 kue pisang (hitungan kasar). Ya kalau sehari komoditinya terjual 20 biji, kalau ternyata hanya laku 8 biji? Berarti dia pulang dengan tangan kosong. Belum selesai dengan soal ongkos ini, muncul pertanyaan dari kepala gw : Kapan ya dia mengerjakan PRnya? Kan jualan itu tetap butuh biaya produksi, berapa ya? Untung nggak ya? Sekolahnya gimana bayarnya ? Makannya gimana? Gimana cara dia beli buku dan seragam? Dia pernah liburan ke Dufan nggak ya? Punya sepeda nggak kira-kira? Bakalan ngelanjutin sekolah ke SMP nggak ya? Gimana cara dia belajar biar lulus UAN? and so on and on... Pertanyaan-pertanyaan yang kalau dilanjutkan bisa bikin mata gw berkaca-kaca. FYI, ketika dia memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kami, badan gw sampai gemetar. Bukannya lebay, tapi emang itu yang gw rasain.


Bocah penjual rempeyek ini hanya secuil dari gambaran nasib negara yang kita tinggali. Jangankan membandingkan nasib ade gw sama dia (umurnya nggak beda jauh), sama nasib anak penjaga kos gw aja kayanya masih jauhhh! Bocah ini mungkin hanya jadi seberkas api yang bisa membakar semangat para pejuang perubahan. Tapi bocah ini bisa bikin gw berjanji dalam hati. Dan mungkin bisa membuat kita semua keluar dari zona nyaman itu. Menurut gw nasib bocah itu erat kaitannya dengan gw, dan anda-anda sekalian. Jadi kalau gw atau lo pada membuat sesuatu yang sedikit berarti, pasti nasib bocah itu bisa berubah. Entah kenapa gw percaya itu bisa. Ya nggak?








Minggu, 15 Maret 2009

Slow and Steady Wins The Race

Kamu begitu cinta dengan sepatu nike yang limited edition itu?

Kamu merasakan nikmatnya frapucinno caramel dengan teman-teman di Starbucks saat itu?

Kamu mengidamkan cincin berlian dengan emas putih lebih dari 4 karat saat pernikahanmu nanti?

Kamu dengan bangganya memasuki gerai GAP di PIM 2 untuk membeli sebuah sepatu flat dengan harga Rp 550.000/pasangnya?

Kamu menganggap Shell telah menyelamatkan mesin mobilmu dengan bahan bakarnya yang 'katanya' berkualitas tinggi?

Kamu selalu nongkrong di restoran cepat saji 24 jam setelah lelah mengunjungi sebuah acara untuk mencicipi beef burger terenak itu?

Kamu sanggup membayar resep dokter yang kamu tebus dengan harga Rp 24.000/tablet (dan kamu harus membeli 10 tablet agar 'sembuh')?

Kamu percaya bahwa sepatu conversemu adalah lambang perlawanan dan sepatu doc martenmu menjadikanmu bintang di tengah pergaulanmu?

Kamu tidak pernah absen makan nasi yang berasnya diimpor dari Thailand setiap harinya?

Kamu merasa nyaman di dalam mobil honda jazzmu meskipun kota ini sudah terlampau macet?

Kamu menyetujui kata ustadz bahwa perempuan harus dimuliakan dengan membuatnya tetap di dalam rumah, menutup auratnya, mengurus anak dan suaminya. dan tetap berada di belakang suaminya?



Kalau kamu menjawab ya dan mungkin dalam frekuensi yang sering, berarti kamu harus berdoa agar mereka tidak tahu apa yang kamu lakukan itu.


Mereka siapa? Mereka adalah...

Para demonstran di berbagai belahan dunia yang setengah mati berjuang agar perdagangan bebas (free trade) itu tidak akan pernah ada (walaupun sedang berjalan), Globalisasi itu hanya mimpi, dan korporasi itu lebih bau dari kentut.

Para buruh pabrik sepatu kebanggaanmu yang dibayar sangat rendah itu tidak penah tahu apa itu Nike Dunk atau Air Force, seberapa mahalnya sepatu itu padahal hanya untuk menginjak kotoran atau puntung rokok, dan betapa anak yang membelinya tidak pernah mau tahu darimana sepatu itu berasal. Pitty enough huh?


Para warga di sekitar daerah pertambangan yang harus rela keracunan secara tidak sadar dan tidak pernah mengenyam pendidikan setinggi kalian karena harga berlian dan minyak itu tidak menolong keseharian mereka.

Para pembela penurunan harga produk farmasi bagi negara berkembang yang harus bertarung dengan perusahaan farmasi besar seperti pfizer agar para penderita aids, kanker, dll di seluruh dunia (terutama negara2 macam kita) bisa cepat ditolong.

Para petani yang harus rela anaknya hanya sekolah sampai SD dan meneruskan jejaknya karena mahalnya pendidikan, ditambah gempuran komoditi impor yang membuat hidupnya semakin sulit hingga tidak bisa makan-makanan bergizi padahal mereka yang menanam padi.

Para pohon yang tidak sempat merasakan nikmatnya air hujan lebih lama lagi karena mesin gergaji itu terus memangkas dan menggunduli tempat mereka berpijak.

Para partikel udara segar yang harusnya kita hirup sehingga tubuh kita jarang sakit, tidak cepat stress, dan menaikkan mood kita saat sumpek.

Para penjual pecel lele dan ayam di pinggir jalan yang sudah berusaha menyajikan makanannya lebih cepat tapi ternyata tidak secepat di Mcd.

Para feminis yang selalu menagih hutang peradaban yang dihasilkan oleh kaum patriarki yang berlindung di balik kata dosa , ayat-ayat suci tanpa cinta, adat istiadat, bahkan konstitusi demokrasi.



Apa yang melintas di pikiranmu?



Kenapa diam saja?



Mereka sudah mengorbankan dirinya demi kenyamanan hidupmu, lantas apa yang sudah kamu lakukan demi keberlangsungan mereka?

Kalau kamu membuka mata dan peduli dengan mereka, kita pasti bisa menciptakan dunia yang lain dari sekarang.

Saya, Dia, dan Mereka percaya pengorbanan tidak sia-sia, Bagaimana denganmu?


Let's do something,

Let's believe

We're slow but steady and we're gonna win the race...


*Tulisan ini adalah buah lamunan dini hari si penulis.

Kamis, 05 Februari 2009

Berlalu setelah Dilalui




"Would you erase me?"

"Do I know you?"


Kalimat pertanyaan tersebut adalah penggalan dari dialog film brilian karya Michel Gondry dan Charlie Kauffman, Eternal Sunshine of The Spotless Mind (ESTSP). Film ini sangat menarik dan menyisakan sedikit ruang hampa di dalam pikiran bagi setiap penonton yang menyelaminya. Ruang hampa itu sebenarnya tidak benar-benar steril karena gerakan kilas balik menggerakkan arusnya. Arus mengorek masa lalu menjadi kegiatan lumrah untuk dilakukan oleh stimuli pengingat. Tidak heran memori menjadi kunci dari masa lalu dan hal inilah yang menjadi tokoh utama film ESTSP. It's all about precence and absence of your past memory. Si lacuna inc laris manis didatangi para tokoh dalam film tersebut, kenapa? Karena memori adalah gerbang utama untuk membuka masa lalu. Tokoh-tokoh tersebut berlomba-lomba membunuh memori atas nama masa lalu.

Kenapa masa lalu perlu dibunuh? karena membuka gerbang masa lalu sama haramnya dengan membuka kotak pandora. Menelusuri masa lalu, selain berarti nostalgia masa-masa indah juga berarti membuka tensoplast dari luka yang menganga. Perlahan-lahan perih dan memaksa kita untuk mengaduh. Di dalam masa lalu terletak hal-hal yang pantas dikenang untuk kembali diceritakan tetapi ada juga yang ditutup-tutupi karena itu adalah bekas luka atau koreng yang tidak pantas untuk diceritakan. Para tokoh tersebut ingin membuat memori mereka tentang sesuatu menjadi ground zero. Karena menghapus masa lalu adalah obat dari segalanya. Sesuatu yang tidak beres itu lah yang menyelinap dalam alam bawah sadar dan merusak lamunan kala sadar.

Sama halnya dengan masa lalu orang lain. Mengetahui ataupun menyelami masa lalu orang lain adalah hal yang paling anda inginkan dan tidak inginkan dalam waktu bersamaan. Hal yang paling ingin anda ketahui sekaligus yang tidak ingin anda ketahui. Kenapa? sekali lagi, karena menyelidiki masa lalu sama dengan membuka kotak pandora. Ada penyesalan yang diiringi perasaan impas atas pertanyaan yang selalu muncul. Ada orang yang dengan senang hati membagi cerita masa lalunya (berarti dia merasa berada di posisi yang aman sekarang) tetapi ada orang yang sangat selektif untuk membaginya (entah karena merasa posisi amannya terancam jika ia memberi tahu atau ia benar-benar butuh untuk buat janji dengan dokter lacuna inc).

Ada yang bilang masa lalu adalah bagian yang berkontribusi untuk membentuk siapa anda sekarang. ya iyalah ya... Dia memang hiasan yang ditempelkan dalam adonan, ada yang terlihat bagus setelah dipanggang tapi ada juga yang gagal. Menyembunyikan masa lalu berarti menyembunyikan siapa anda sebenarnya, menghapus masa lalu (manuver yang lebih kejam) berarti mengosongkan kalimat lengkap tentang anda. Siapapun pasti pernah melalui sesuatu yang nggak asik dan ini wajar. Semua orang pasti pernah menyesali sesuatu dan hal ini memang tahap yang harus dilewati. Menyelesaikan sesuatu di masa lalu tidak harus dilakukan dengan mengundang Doraemon untuk memohon mesin waktunya. Mungkin penyesalan bisa diobati dengan hal-hal yang kita perbuat sekarang, mungkin... That's why The Time is Now, not long ago or upcoming.

"You can erase someone from your mind, but getting them out of your heart is another story." -Eternal Sunshine-

Jika diberi voucher lacuna inc, saya akan mengahapus memori tentang momen-momen kehilangan



Bagaimana dengan anda?


Minggu, 18 Januari 2009

Gratissss...


"Free space is history"

-mbak Naomi klein-


Apa yang paling nikmat dan lezat di dunia ini? Gue akan menjawab dengan mudah dan akan dibarengi oleh suara temen-temen se-angkatan gue dengan satu kalimat "SEMUA YANG GRATISSS". Nggak pake embel-embel lagi. Yup, everything that's free is the only answer we can offer. Dan kenikmatan menggunakan atau menghabiskan barang gratisan jauh lebih besar daripada barang yang bayar. Sensasinya itu bener-bener beda! Iya nggak? Coba aja lo dikasih sepotong pizza gratis, cuma-cuma, pasti rasanya jauh lebih enak daripada beli. Bayangin download album 'Dark Captain Light Captain' secara gratis dibandingkan beli cd impornya seharga 200rb-an, pasti lebih meresap dan terngiang-ngiang. hahahha...

Kenapa ya bisa begitu? Apa memang manusia itu makhluk gratisan? hehehhe... Setelah merenung sambil dengerin album 'Dark Captain Light Captain' gratisan tadi, gue menyimpulkan bahwa rasa nikmat tiada tara itu muncul karena... ehm... satu kalimat juga.. karena "Nothing's free today!" atau "Hareee gene mana ada yang gratisss?". Sering kan kita mendengar orang-orang ngomong kaya gitu? Apalagi kalau kita masih dianggap polos karena terus berharap bahwa masih banyak barang gratisan tersisa di dunia ini, omongan itu memang pengelakan yang tepat!

Kenyataannya memang begitu... mau minum beli aqua, mau mandi bayar PAM, mau nge-charge HP bayar listrik, mau pacaran beli pulsa, mau eksis beli Blackberry, mau pipis bayar seceng (Rp 1000), mau parkir bayar minimal Rp 1000 juga, mau tidur setor uang kontrakan atau KPR ke bank, masuk penjara tetep kudu bayar, mau lulus kuliah jangan absen fotokopi bahan, mau nongkrong ke taman menteng bayar parkir juga, mau liat pameran di galeri nasional harus rela ditagih ongkos sama kenek kopaja P20, mau terus hidup ya harus terus kerja, mau kerja ya bayar ongkos lagi. Wakakkaka... Pusing kan?

Jangan ngisup (Pusing-red) deh mendingan... Ini adalah kenyataan pahit yang harus kita hadapi bersama di dunia kapitalisme fana ini. hehehe Hari gini sih apa juga bisa diduitin, bahkan jasa lalu lintas di jalanan didagangin sama polisi gopek (udah nggak mau duit cepek-an). Ini semua memang lingkaran setan jahanam. Dimana semua manusia harus membayar segala sesuatunya untuk terus hidup oleh karena itu mereka harus menghasilkan uang untuk menumpuk cadangan uang, jadi jangan heran semua-semuanya nanti didagangin. Bisa aja kalau gebetan lo kepepet butuh duit, cintanya pun diperjualbelikan. hehhee (lebay...)

Sudah pasti hal-hal yang gratis itu enak karena memang banyak dari tetek bengek itu pada kodratnya hadir cuma-cuma. Mulai dari taman tempat nongkrong yang nggak perlu bayar apa-apa, memang seharusnya ruang publik yang menjadi sarana pergaulan kawula muda. Air yang dulu berlimpah dan menjadi hak semua manusia harus rela diprivatisasi perusahaan asing dan tidak digunakan untuk kemaslahatan orang banyak melainkan kemaslahatan orang yang mampu. Inilah ujung dari komodifikasi (sok keren bgt gw) ketika nilai guna atau pakai itu harus diuangkan. Dari Perceraian artis sampai jalan menemukan Tuhan. Semuanya tidak luput dari biaya. Gimana nggak tambah kere nih kita... hehehe...

Ini hanya keluh kesah gue aja kok. Berhubung kondisi keuangan gue lagi menipis, jadinya sok kritis gini. hahahaha.... Soalnya kalau kita lagi susah, baru deh berasa... betapa kejamnya dunia. Mau ngapa-ngapain bayar! hiks, hiks, hiks... Padahal Gue percaya kalau Tuhan itu nggak matre, Dia kan ngasih semua sumber daya secara cuma-cuma. Jadi salah tuh yang bilang bahwa Adam & Hawa jatuh dari surga itu menderita karena Tuhan sudah memberikan mereka berbagai fasilitas (plus wi-fi! hahahha). Keturunannya aja banyak yang mata duitan dan membuat dunia ini semakin kehilangan "Ruang untuk Anugrah" (ruang untuk yang gratis-gratis). Jangan-jangan saking sedikitnya ruang untuk sesuatu yang gratis, konsep bagi-bagi (share) bakalan lenyap. Mudah-mudahaqn jangan ya... (Aminn). Tapi kalau kata John Lennon (tetepp..) "Love is free... Free is Love". Apalagi "Free as a bird" (halah!)....


*Terinspirasi oleh lingkungan sekitar dan buku "Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar" oleh Marina Silvia K.

Jumat, 02 Januari 2009

Akhirnya LULUS juga...

181208

23.00


Phiuhh.... inilah nafas terlega yang bisa dihembuskan selama 15,5 tahun berada dalam labirin tertutup bernama akademik. Tidak terhitung berapa sumpah serapah dan caci maki dalam hati yang selama ini dipendam selagi diekspresikan. Akhirnya si makhluk keras kepala dan setengah gila ini berhasil mengalahkan raja terakhir dalam game yang telah lelah dimainkannya. Setelah berbagai macam strategi dan tahapan, 2 kata itu muncul juga. MISSION ACCOMPLISHED!

Ibarat agen KGB yang sedang becengkrama bersama agen CIA saat perang dingin, perasaan menaklukan lawan memang tidak ada tandingan. Gw setuju kalau pergulatan hidup gw dengan dunia akademik itu kaya sleeping with the enemy. Gw harus tunggu momen yang tepat untuk memebasmi musuh yang selama ini terus gw tiduri.hehehehe... Ok.. jujur aja... Siapa yang suka dan cinta sama dunia akademik di Indonesia? Sebagai anak muda tentu nonton konser jauh lebih menyenangkan dari mengerjakan PR Matematika 50 soal atau tugas penelitian SPSS. Tapi anak muda itu harus bisa menidurinya sebelum membunuhnya. Because my dad said so! Dalam modernitas, logika ilimah adalah segalanya. Dunia akademik bisa dibilang diwajibkan untuk memodernkan pikiran gw yang nggak ada ilimiah-ilimiahnya ini. Orang tua maunya anak sekolah terus kuliah biar jadi 'bener'. 'Bener mah urusan ntar, yang penting mereka mau liat kita lulus dulu, ya nggak?

Meskipun otak gw pas-pas an (dalam artian beripikir ilimiah tadi), pada akhirnya bisa juga tuh skripsi, yang tebelnya cuma 80 halaman, selesai. Yang menentukan pasti ketika sidangnya, saat-saat ketemu raja terakhir inilah yang membuat gw makin gregetan untuk ngadepinnya. Emang sih nggak pake jurus yang muluk-muluk dan kaya jagoan, tapi akhirnya lulus juga. LULUS... menjadi 4 kata yang bikin gw terobsesi selama setahun terakhir ini. And finally, I made it!!!

Kelulusan gw yang termasuk sedikit lebih cepat dari standar bukan hal yang perlu dibanggakan melainkan direnungkan. Soalnya perjalanan menuju momen ini sama sekali nggak gampang. Dari cerita yang hampir mirip sama termehek-mehek sampai kejutan-kejutan menggoda iman. Gw cuma percaya, kalau gw mau lulus 3,5 tahun, yang perlu gw lakukan hanya perlu percaya bahwa gw bisa lulus saat ini. Dengan kepercayaan itu, kemauan gw jadi sedikit lebay dan usaha gw jadi lebih gokil. Gw beruntung punya temen yang senasib dan sepenanggungan macam Inal. At least jadi lebih yakin dan bisa saling mendorong. Gw sadar banget waktu itu cuma 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Tapi ada banyak hal yang harus dikerjakan, apalagi yang ada deadlinenya. Hiks, hiks, hiks. Thank God gw dianugrahi kemampuan multitasking jadi otak gw punya banyak cluster untuk mengerjakan banyak hal. Namun pada akhirnya skripsi adalah segalanya, beberapa kerjaan pun kudu terlantar demi dia. ckckck.... Apa besok kalo punya anak dinamain skripsi? (hehehhehe jangan ampe deh!)

Gw takjub dengan alam semesta yang bisa berbahasa, gw juga kagum banget sama selera humornya Tuhan. Banyak banget kejadian dan temuan lucu selama proses ini. Dari mulai penentuan siapa yang jadi dosen pembimbing gw (yang sering dianggap rada killer ama anak2) sampai siapa yang jadi penguji gw (salah satu dosen yang jadi suporter setia gw selama ini). Dan gw teramat bersyukur dengan hal itu. Banyak banget pelajaran yang gw dapet selama proses pengerjaan skripsi ini. Gw belajar banget untuk tidak menilai (judge) orang dari awal berkat wawancara sama informan2 gw. Masih banyak banget hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya kemudian menambah bumbu dan kenikmatan pengerjaannya.

Membandingkan waktu pengerjaan dengan persidangan sungguh sangat tidak sepadan. Ketika sudah memperoleh hasil rasanya semuanya terbayar, tapi disidang memang tidak senikmat proses pengerjaan. Yah... mungkin inilah yang namanya orgasme akademik. Kerasa banget kalau happiness is in doing not getting or accomplishing. Tuhan yang sangat misterius juga menghadirkan dosen penguji yang baik hati. hehehehe.... Terima kasih Mbak kiki...!

Orang tua sebagai investor bisa mendapatkan hasil dalam waktu yang sedikit lebih cepat dengan sedikit resiko (jadi cukup menguntungkan berinvestasi di gw). Lega banget, seneng banget, dan banget2 lainnya sudah menanti untuk diungkapkan. Hari ini tiba juga, saat afra menyelesaikan studinya...untuk kemudian mengerjakan segudang impiannya!!! Hehehehe... terima kasih ya atas dukungan dan doanya..!



Senin, 20 Oktober 2008

Boys Do Cry

Sebenernya ini tulisan di blog lama gw. Tapi karena rapat edisi kemarin isu ini diangkat dan posting ini sempet gw apus dari blog lama gw, jadi gw putuskan untuk reissued tulisan ini. Emangnya cuma MOGWAI doang yang bisa reissued...hehhehe



-18032007-

Wow…udah lama juga ya gw gak ngisi blog? Kangen juga….tapi sekarang gw agak bingung mau nulis apa, mau ngomongin apa kira2. Apa ya…??oh gw tau...!! jadi begini ceritanya…hari jumat kemaren gw lagi nongkrong di takor(kantin Fisip UI) bersama beberapa teman2 sejurusan. Niatnya sih tadi ada salah satu temen ce gw yang mau curhat soalnya doi abis putus gitu dan putusnya emang rada gak wajar. Karena conya(atau mantannya) mengemukakan alasan2 yang konyol pas mutusin temen gw itu. Pas dia lagi curhat , datenglah temen2 gw yang lain, ikut nimbrung dengerin doi curhat. Temen gw yang notabene sedang berada pada kondisi pasca sakit hati menceritakan segala sesuatunya dengan begitu serunya. Pas kita lagi ngomongin perihal pemutusan dia, salah satu temen co gw ada yang bilang klo “Kebanyakan Cowok, ketika dihadapkan pada pilihan cewek biasa aja atau cewek pintar untuk dijadikan pacar, mereka akan memilih cewek biasa aja” Munculah pertanyaan di kepala gw “Kenapa???” Apa yang salah dengan cewek pintar? Mdgan cewek yang fisiknya biasa aja tapi pinter daripada yang cantik tapi gak pinter. Tapi itu menurut gw dan tentu saja kebanyakan dari wanita yang kebanyakan enggan diekspos secara fisik. Beda ama cowok, mereka tentu saja akan merasa terintimidasi jika berhubungan dengan cewek pinter. Mereka takut cewek itu banyak nuntut,kritis,banyak ngeles, dan mereka takut cewek itu gak bisa mereka bego2in. skeptis amat gw kayanya. Tapi bagi gw pernyataan yang dilontarkan temen gw itu cukup untuk membuat gw bertanya “sekonyol itukah cowok?”

Budaya yang selama ini ada memang sangat patriarki di luar maupun di Indonesia. Mereka (cowok) dari kecil udah dididik, ditanamkan nilai-nilai, dan dirancang sedemikian rupa untuk berkuasa, menjadi yang terhebat, termacho, terberani, dsb. Jadi ketika mereka nantinya dihadapkan pada calon pasangan yang pintar, mereka akan merasa tersaingi, tidak berkuasa (lemah kedudukannya), Kontrol yang mereka punya akan berkurang, dan tentu saja mereka tidak mau terlihat bodoh/rendah di depan orang-orang lain. Dulu ada temen yang pernah ngomong ke gw gini: “Fra, lo si kelewat mandiri dan gak biasa!cowok jadi ngeri tau!” Emangnya apa yang salah ya ma gw? Klo diluar gw terlihat mandiri belum tentu begitu jg kan dalemnya? Cowok aja yang kelewat cupu/ jiper klo ngeliat cewek yang pinter, mandiri, & tough. Mereka terlalu memberi penilaian yang sedemikan rupa pada cewek klo cewek itu sudah seharusnya bergantung sama cowok, minta bantuan mereka, manja, lemah lembut, cengeng, dan masih banyak lagi penggeneralisasian cowok terhadap sifat2 cewek jadi ketika mereka dapet cewek yang berlawanan dari ‘cewek yang seharusnya’ mereka gak tau gimana menghadapinya. Padahal semua manusia menurut gw baik cowok maupun cewek selalu punya 2 kebutuhan mencintai dan dicintai. Jadi mau tuh cewek sepinter ataupun sekuat apaun dia juga punya kebutuhan untuk dicintai dan mencintai begitu juga cowok setinggi2nya dia mengaggap derajatnya, dia juga butuh untuk mencintai dan dicintai. So boys Just see us (girls) equally…okay!

Again I go so mellow

Gue menemukan hipotesis baru!!! Ternyata semakin skripsi itu menyiksa, semakin diri gw menjadi melankolis, semakin gw berirama dalam kata. Halah.... hehehe.....




Menunggu Untuk Entah



tak butuh kopi untuk terjaga
binar cahaya bulan di luar sana kelam
tapi ia teman yang tak tergantikan

kantuk menyelinap pasti
mata itu terus berlari
tanpa tahu mana tujuan

bersahabat dengan malam
di tengah kenihilan
waktu tak punya hati

ruang lapang dalam imaji
memetakan beribu mimpi
memungut sisa kesempatan yang hilang

andai ikatan tak bertali
sunyi tapi tak sendiri
tak punya kata-kata, hanya praduga




Bukan Mencinta

Dia jatuh cinta
tanpa diucap hanya dirasa
Dia jatuh cinta
sungguh tak ingin lupa

Dia punya cinta
bukan untuk siapa-siapa
Dia punya cinta
yang tidak dapat diberi harga


Dia beri cinta
melalui beribu bahasa dengan pertanda
Dia beri cinta
Benar tidak ada duanya

Dia ingin cinta
walau beda bentuknya
Dia ingin cinta
karena itulah satu-satunya cara meminta

 
design by suckmylolly.com