Tampilkan postingan dengan label Mundane. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mundane. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 April 2013

What if...

Black Rebel Motorcycle Club - Howl 


This song, probably fitted me so much couple months ago. But yeah, I won't wait for you in silence




You try so hard to be cold
You try so hard to not show
I give you nothing to doubt and you doubt me
I give you all that I have but you don't see

Now I know that my eyes must close here
Every word seems to feel like you don't care
But I know that you're so confused and afraid
I just want to be one true thing that don't fade
I don't wanna give up tomorrow
I just can't understand why we're going on

You try so hard to be heard
You try so hard to not hurt
I give you nothing to doubt, and you doubt me
I give you all that I have, but you don't see

Now I know that my eyes must close here
Every word seems to feel like you don't care
But I know that you're so confused and afraid
I just want to be one true thing that don't fade
I don't wanna give up tomorrow
I just can't understand why we're going on

I don't wanna be sad, I don't wanna be sad
I don't wanna be scared, I don't wanna be scared
I don't wanna decide, I don't wanna decide
I see the road is hard, I see the road is hard
I won't wait for you in silence, I won't wait for you in silence
I won't wait for you in silence, I won't wait for you in silence

Senin, 14 Januari 2013

Simple Kind of Life





"Simple Kind Of Life"
by: No Doubt



For a long time I was in love
Not only in love, I was obsessed
With a friendship that no one else could touch
It didn't work out, I'm covered in shells

And all I wanted was the simple things
A simple kind of life
And all I needed was a simple man
So I could be a wife

I'm so ashamed, I've been so mean
I don't know how it got to this point
I always was the one with all the love
You came along, I'm hunting you down

Like a sick domestic abuser looking for a fight
And all I wanted was the simple things
A simple kind of life

If we met tomorrow for the very first time
Would it start all over again?
Would I try to make you mine? 

I always thought I'd be a mom
Sometimes I wish for a mistake
The longer that I wait the more selfish that I get
You seem like you'd be a good dad

Now all those simple things are simply too complicated for my life
How'd I get so faithful to my freedom?
A selfish kind of life
When all I ever wanted was the simple things
A simple kind of life

Sabtu, 08 September 2012

Di Antara Hati dan Teknologi




Kenapa Ada Yang Baru? Karena Yang Lama Sudah Tidak Berfungsi Lagi 


Pernahkah Anda mengganti ponsel lama Anda dengan ponsel yang baru? Atas alasan apa Anda menggantinya? Pertama, ponsel Anda rusak karena satu dan lain hal ditambah dengan garansi yang sudah tidak berlaku lagi. Kedua, Anda bosan atau ingin saja update model demi modal pergaulan. Ketiga, Anda merasa teknologi atau kapasitas ponsel lama Anda terbatas dan mentok untuk menjawab kebutuhan Anda akan teknologi dalam keseharian. Atau mungkin alasan yang paling tidak penting, yaitu tentu Anda punya banyak uang dan membeli ponsel baru adalah satu upaya untuk mendistribusikan uang Anda. 

 Lain cerita jika Anda memiliki ponsel kesayangan yang sudah menemani Anda bertahun-tahun lamanya. Melewati berbagai fase jatuh-bangun Anda, dari bangun tidur sampai penghujung hari. Ponsel ini setia di samping Anda jika sedang dibutuhkan, ia selalu tepat guna dan tepat daya. Memang terkadang ponsel Anda suka ngadat dan jika sedang tidak punya mood yang cukup baik, mungkin saja Anda membantingnya. Tapi dedikasi ponsel ini begitu hebat sehingga Anda bisa hilang kendali jika ponselnya tertinggal sehari saja. Selain fungsi menelpon atau mengirim pesan, ponsel Anda menyimpan begitu banyak memori. Mulai dari nomor telepon teman SD sampai foto-foto momen terbaik Anda beserta data lainnya. Anda tidak pernah membayangkan apa yang yang terjadi jika ponsel Anda hilang atau dicuri orang. Yang Anda tahu, ponsel ini harus ada setiap saat dan setiap waktu. 

Mungkin saat Anda membeli ponsel kesayangan, teknologinya sedang canggih-canggihnya. Fiturnya bisa memenuhi kebutuhan Anda pada saat itu dan ketahanannya bisa menandingi sepatu converse yang tak kunjung bolong itu. Saat-saat awal Anda memiliki ponsel tersebut, Anda begitu asyik mengulik sana-sini, apa yang tersaji di dalamnya terasa seru dan tidak bisa ditebak. Namun seiring berjalannya waktu, Anda sudah menguasai semua fiturnya, Anda sudah mengulik semua tips and triknya, seolah tidak tampak seseru dulu. Sempat terpikir dan tergoda dengan puluhan tipe baru atau merk lain yang keluar tiap tahunnya, tapi rasanya ada "ikatan emosional" atau romantisme bersama yang sanggup mengalahkan segalanya, termasuk godaan fitur yang lebih baik. 

Dari waktu ke waktu, ponsel Anda kondisinya tidak lagi sehandal sebelumnya. Dunia berubah, lingkungan Anda bertranformasi, orang-orang di sekitar Anda silih berganti, sampai pada saatnya serangkaian alasan terlihat jelas. Ponsel kesayangan baterainya sudah bocor, casing-nya sudah lapuk, fiturnya? jangan ditanya… pasti ketinggalan jaman. Kemampuannya sudah tidak lagi bisa di-upgrade ke tahap selanjutnya, sehingga semuanya menjadi terbatas di dalam ponsel ini. Sempat Anda meyakinkan diri Anda bahwa Anda tidak butuh kemajuan teknologi, Anda juga berpikir kalau ponsel kesayangan sudah cukup. Tapi teknologi tidak bisa berbohong. Anda tentu tidak bisa ngotot tetap transfer file dengan disket jika perangkatnya sudah sulit dicari dan orang-orang menggunakan cakram padat. Anda juga tidak bisa ngotot kirim pesan sms bergambar jika sekarang sudah ada Whatsapp yang bisa langsung mengirim foto dari ponsel Anda. Sekilas sepertinya Anda bisa hidup hanya dengan ponsel kesayangan Anda, padahal, Anda bisa melakukan banyak hal lain yang tidak pernah Anda bayangkan, jika Anda kemudian mengganti ponsel. 

Ketika ponsel kesayangan kemudian dirasa terpaksa mengikuti arus hidup dan perubahan di sekeliling Anda, bisa jadi benda ini sudah tidak menjawab kemampuan Anda. Bahkan, jika tiba saatnya ponsel ini rusak dan tidak bisa menemani Anda lagi, tibalah waktunya bagi Anda untuk menentukan pilihan. Anda bisa saja keliling ITC untuk servis ponsel tersebut, tapi biayanya bisa mahal dan menguras energi Anda. Sampai pada saatnya Anda merasa bahwa, saatnya Anda meninggalkan ponsel kesayangan. Dengan berat hati, Anda harus berhenti, tidak bisa lagi menggunakannya. 

Kemudian muncul opsi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, beralih ke ponsel baru. Dengan teknologi terkini yang lebih canggih dan beragam aplikasi seru, Anda tentu bisa melakukan banyak hal dengan ponsel ini. Memang Anda harus beradaptasi untuk terbiasa dengan interface atau bentuknya. Yang tadinya keypad, sekarang jadi layar sentuh. Peralihan tersebut memang tidak mudah. Anda bisa sering typo saat mengetik pesan, atau melakukan beberapa kesalahan karena belum terbiasa dengan fiturnya. Jangan sedih, hal ini biasa. Saat-saat seperti ini pasti harus dilewati asalkan ponsel Anda berfungsi dengan baik dan siaga menopang kebutuhan hidup Anda sehari-hari. Ponsel baru perlahan akan menggantikan posisi ponsel kesayangan sebelumnya dan Anda juga bisa kembali mengisinya dengan memori-memori yang akan dilewati. 



Kenapa saya membuat tulisan ini? 
Terkadang kita merasa enggan beralih dengan yang baru dan sering terjebak dengan ikatan emosional yang sebenarnya dipaksakan. Mungkin saja yang kita miliki memang sudah tidak berfungsi lagi, mungkin saja kapasitasnya tidak lagi mampu menampung diri kita yang terus berkembang dari hari ke hari. Sedangkan ada pilihan baru yang mungkin bisa lebih menjawab kebutuhan Anda dan bisa menunjang Anda untuk melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak bisa dilakukan. Romantisme terkadang menghambat kita untuk melihat kenyataan di depan mata, padahal apa yang ada di sekitar kita semuanya serba sementara. 
Maafkan saya jika tulisan ini terkesan menyederhanakan hal yang rumit, atau bahkan mereduksi sebuah siklus dalam hidup ke dalam siklus gonta-ganti ponsel semacam ini. Tapi apa yang kita lewati selama ini sebagai peradaban manusia telah menjadi landasan bagi perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi memang memiliki dampak negatif (yang menurut saya hal ini bersifat nisbi), tapi hal tersebut tentu didorong oleh kebutuhan manusia dan dinamika alam raya ini. Hal baik yang selalu saya petik dalam teknologi adalah visi teknologi itu sendiri. Teknologi menatap ke masa depan tanpa mengabaikan masa lalu (karena kesalahan di masa lalu ada untuk diperbaiki) dan seperti layaknya sikap manusia terhadap teknologi, ada yang pro dan kontra. Hal ini wajar saja, semua punya pilihan.  Asal semuanya dijalani tanpa paksaan dan kita tetap merdeka sebagai manusia- tentu hal ini terbuka untuk diperdebatkan. 





Sabtu, 31 Maret 2012

Ideologi: Apa Artinya untuk Masa Kini?




Sudah lama saya tidak mengobrol lama dengan Papa, mungkin terakhir kali saat membicarakan makna pendidikan S2 saat saya baru lulus kuliah. Suatu waktu, 3 tahun setelah saya lulus kuliah, saat sedang menonton saluran TV BBC yang sedang menayangkan dokumenter si tampan Simon Reeve, Tropic of Cancer, percakapan mendalam pun terjadi secara tiba-tiba. Jam setengah 2 pagi, tanpa basa-basi Papa bertanya ke saya: "Jadi, ideologi kamu apa?". Reaksi pertama bisa dipastikan saya terkejut, lalu bengong. Ya iyalah bengong, orang tua macam apa yang nanya pertanyaan kaya gitu jam 2 pagi? hahaha Kemudian saya menelan ludah dan bertanya apa maksud pertanyaan Papa. Dan beliau menjelaskan bahwa dia menanyakan apa ideologi yang saya jadikan pegangan tindakan, sikap, dan tujuan hidup saya. Saya pun tercekat. Terus terang campur aduk rasanya. Seperti ditampar tapi di satu sisi tamparannya lembut dan penuh perhatian. Pada waktu itu, kepala saya kosong mendadak. Saya tidak bisa menjawabnya. Tapi kemudian saya bilang kalau saya berpegangan pada suatu ide di mana kesetaraan, keadilan manusia, dan ketiadaan dominasi kekuasaan menjadi tujuan dan cara pandang keseharian. Papa terdiam sejenak, dia berpikir, kemudian dia bertanya: "Apa Islam bisa masuk ke dalam ide yang kamu maksud?"


Sial, pertanyaan kedua ternyata jauh lebih susah. Lantas, saya menjawab: "Aku percaya Islam itu punya semua ide yang aku maksud, begitu juga sebaliknya, ide yang aku maksud emang ada di Islam". Sebelum disamber dengan pertanyaan ketiga, saya langsung bilang:"Tapi nggak semua orang yang percaya Islam, percaya dengan kesetaraan atau keadilan Pa. Mungkin mereka lebih percaya sama uang, atau mereka lebih percaya sama neraka dan pahal dibanding percaya sama Islam itu sendiri." Papa pun membalas pernyataan saya dengan ceramah selama lebih dari setengah jam tentang betapa pentingnya kita punya panduan atau pegangan untuk menjalani kehidupan ini. Bagi Papa, Islam adalah ideologi yang dia pilih dan tentunya diajarkan ke anak-anaknya. Saya selalu merasa beruntung, Papa mengajarkan Islam dengan mudah sekaligus mendalam dan saya pun dianjurkan mempertanyakan keyakinan saya terhadap sebuah cara pandang. Dari ceramah-ceramah konyol tapi serius a la Papa, saya menyerap banyak nilai yang kemudian saya terapkan dalam mengambil sikap, tindakan, dan menentukan tujuan hidup saat umur semakin bertambah. Papa juga pernah memperingatkan: "suatu hari keyakinan kamu pasti akan diuji. Apa yang selama ini kamu yakini bisa berubah atau malah berlaku selamanya" Saya pun bertanya: "Diuji kaya gimana pah? pake soal gitu?" Maklum, saya baru mau naik ke SMP jadi nggak ngeh gimana menguji ideologi. Dan papa menambahkan:"Nanti kamu bisa tahu dari pengalaman dan mengamati orang-orang di sekitar kamu."


Butuh proses dan waktu untuk akhirnya memahami ceramah-ceramah Papa di kemudian hari. Ideologi pada waktunya akan terasa seperti cinta sejati. Kita tidak bisa hanya percaya tapi juga ada bukti. Mengutip dari pernyataan Ibu Ninuk pendiri Yayasan Kesehatan Perempuan: "Percaya itu satu hal, pembuktian itu hal lain". Sekali lagi, saya beruntung bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai jenis latar belakang, saya belajar dari mereka banyak hal. Dari remaja Indramayu, mbah penjual sekoteng dekat kosan saya di jogja, teman-teman, dan masih banyak lagi. Ada ungkapan klise di buku Sinar Dunia, Pengalaman adalah guru terbaik, dan sekali lagi, yang klise-klise selalu ada buktinya.


Ketika menyinggung ideologi, kebanyakan orang di lingkup saya biasanya terbagi ke dalam tiga kubu:


1. Percaya ideologi itu perlu ditunjukkan dan diejawantahkan dalam semua lini dari lini massa sampai lini baju;

2. Ideologi itu perlu diyakini dan diamalkan dalam keseharian tanpa perlu digembar-gemborkan;

3. Ideologi itu nggak usah dipikirin dan gak ada faedahnya, keberatan kalau diomongin.


Ketiga poin ini bisa jadi kategori sekaligus mungkin berlaku sebagai tahapan. Serupa dengan cinta sejati, Ideologi juga sarat dengan pencarian. Memang ada yang bertahan dengan ideologi yang diturunkan sedari lahir (seperti agama misalnya) tapi ada juga yang terus bertransformasi tanpa henti.


Belajar pengalaman, meyakini sebuah ideologi seringkali juga bersinggungan dengan jati diri. Ideologi bisa memberi jawaban dari pertanyaan "Siapa Sih Lo?" jawabannya bisa "Gue Islam", "Gue punker'", "Gue liberal", dst. Dan karena hal ini juga, pengalaman saya membuktikan kadang dalam meyakini ideologi, kita sering mencari panutan. Berbagai faktor bisa membentuk ideologi masing-masing orang, tapi jalannya seringkali tidak mulus. Sekali lagi, serupa dengan cinta sejati, ideologi juga banyak melahirkan sakit hati. Baik dalam catatan sejarah pergerakan, ataupun permainan politik, ada pihak yang 'banting setir' dengan didasari motif yang berbeda-beda. Ada motif yang personal, ada juga yang sifatnya kolektif, kita tidak pernah tahu pasti. Saya tidak akan menjabarkan contohnya, karena teman-teman pasti punya contoh di sekitarnya, di kelompok masing-masing. Dari pengalaman saya, hal paling bikin pusing dan ujian paling sulit adalah sinkronisasi keyakinan, sikap, tindakan, dan tujuan. Mempraktekkan kesetaraan tanpa pandang bulu pasti jauh lebih sulit dari sekedar meyakininya. Bahasa kerennya "Practice What You Preach", itupun kalau kamu "Preach", kalau nggak yah beruntung nggak perlu "Practice" banget. hehehe Saya banyak menyaksikan orang dengan tipe 1 (lihat di atas) tapi minus amalannya. Berteriak menuntut keadilan tapi menentukan upah tanpa dialog dan dasar yang kuat. Ada juga yang tipe 2, ini dia yang sering saya jadikan panutan. Ibu rumah tangga yang mengajarkan demokrasi dengan sederhana di keluarga terlihat lebih keren dibanding petinggi partai berembel-embel demokrasi (atau demokrat :p). Jangan sedih, yang tipe 3 lebih banyak lagi, daripada mikirin tujuan sama pandangan hidup mendingan ngeband aja, tapi kalau musisi favoritnya pake kaos 'working class hero' langsung google Amnesty International :D.

Masalahnya ideologi (sama kaya cinta sejati sekali lagi :p), terkesan seperti omong kosong dan utopia belaka. Saya pernah denger omongan: "Ya elah mau demokrasi kek, mau negara Islam kek, mau rezim 'Pancasila' kek, Yang penting gue makan dan bisa tidur nyenyak". Yang ideal-ideal sepertinya cuma ada di surga, mengutip Pramoedya, itu juga kalau ada surganya, tapi kalau tidak ada yang mempraktekan ideologi memang menguap entah ke mana. Saya pernah kenal dengan seseorang yang nggak pernah belajar feminisme, nggak tahu 30 Deklarasi Universal HAM, tapi dia sadar hak kesehatan reproduksi perempuan dan peka dengan masyarakat sekitar rumahnya. Mungkin sekilas seperti orang biasa, tapi kehidupan memang dibangun oleh orang-orang biasa, meskipun sejarah selalu berpihak pada yang dianggap 'luar biasa'. Ideologi biar bagaimanapun butuh bukti, bukan sekedar janji. Lebih jauh lagi kadang ideologi melibatkan musuh, bisa jadi untuk mengumpulkan pasukan demi mencapai tujuan.


Melihat geliat gerakan anak muda di Indonesia 5 tahun belakangan ini, muncul pertanyaan yang menurut saya penting, tapi sepertinya sering diabaikan karena takut terlalu 'berat' pembicaraannya. Apa sebenarnya ideologi gerakan anak muda kekinian? Karena menurut saya aksi pasti butuh tujuan, mungkin sebenarnya aktor-aktornya meyakini sesuatu tapi konsep yang diyakini ini belum dijelaskan dalam sebuah ide. Mungkin sudah ada kelompok-kelompok yang menjelaskannya dan dengan gencar melancarkan aksi-aksi mereka. Setiap generasi dalam pergerakannya punya kisahnya sendiri-sendiri.Menarik untuk menyarikan aksi-aksi kaum muda dalam sebuah ideoogi. Mungkin mereka punya tujuan yang sama tapi jalan yang berbeda, atau sebaliknya. Ibaratnya orang naik angkot, sebelum memilih jurusan angkot pasti harus tahu jurusannya. Gerakan anak muda punya imaji tentang perubahan seberapa jauh ideologi tersebut mempengaruhinya? Jawabannya bebas, silakan kasih masukan.

Asal ini semua bukan hanya soal janji atau eksistensi, tapi tentu harus ada bukti :).



#TentangPerubahan&Anak Muda(Seri 1)

Senin, 30 Januari 2012

Antara Buruh, Kemacetan, dan Kita



Sudah sebulan lebih saya menghabiskan lebih banyak waktu di kamar kosan. Maklum sebagai semi-pengangguran (baca: freelance) saya punya target untuk menamatkan tumpukan dvd dan buku yang sudah jauh lebih lama 'nganggur' semasa saya bekerja. Saya memilih untuk menarik diri dari perbincangan seputar politik dan sejenisnya dan tidak ingin mengikuti berita apapun terkait peristiwa aktual di negeri ini. Mungkin saya ingin merasakan ketenangan sejenak dengan mengambil peran acuh tak acuh terhadap segala persolan pelik tentang pembangunan. 9GAG dan situs sejenisnya lebih menarik ketimbang situs warta, linimasa hanya membuang waktu, dan televisi hanya seru saat Morgan Sm*ash muncul.



Tapi ada satu berita yang sepertinya sulit untuk dilewatkan karena orang-orang di sekitar saya terus membahasnya dengan cukup heboh. Memang tidak seheboh kasus Xenia, tetapi gaungya cukup terasa karena beberapa dari mereka mengaku terkena imbasnya. Saat semua orang membahas 'Demo Buruh Di Cikarang', saya awalnya hanya bisa berdoa dalam hati agar upaya mereka tidak sia-sia. Menyebalkan memang, tipikal manusia cari aman dan apatis. Namun pergerakan buruh selalu menarik bagi saya, setidaknya mereka tidak butuh BB atau akun twitter untuk menggerakkan ribuan masa yang berani berbicara atas nama keadilan mau turun ke jalan, memblokir jalan tol, dan membuat pengendara mobil serta komuter menjerit/mengeluhkan kemacetan di akun twitternya.



Praktis saya pun tergerak untuk mencari tahu berita terkini tentang isu ini. Saya langsung mencari berita atau pembahasannya di Google. Berharap mendapatkan tautan bermutu tentang analisis demo buruh di cikarang, yang saya lihat sampai halaman 4 di laman pencarian hanyalah judul yang tak jauh dari "Demo Buruh di Cikarang Menutup Pintu Tol Menyebabkan Kemacetan". Dari situs macam Detik sampai Kompas dan situs berita lainnya. Salahkan pembacaan logaritma komputer saya yang hanya berhasil menjaring hasil pencarian dengan judul seperti itu. Alih-alih membaca berita yang membahas tuntutan dan proses negosiasi ataupun upaya pemerintah, yang saya dapatkan hanya penjelasan kenapa jalan tol ke Bekasi-CIkarang macet bukan kepalang.



Saya jadi ingat percakapan di dalam sebua kelompok pesan instan yang membahas demo buruh sebelumnya di depan Gedung DPR/MPR yang juga menyebabkan kemacetan. Ada yang bilang kalau demo seharusnya juga memperhatikan kepentingan orang lain, jangan sampai merepotkan orang lain dengan kemacetan. Dan mungkin ada ribuan kicauan di Twitter yang beranggapan sama dan merasa terbebani dengan demo buruh yang bikin macet. Katakanlah demo/menyampaikan pendapat adalah hak semua warga negara dan peserta demo memang mencapai ribuan, sudah pasti kemacetan menjadi tidak terhindarkan. Muncul kekesalan karena demo mereka bisa menyebabkan kita terlambat, tua di jalan, atau frustasi di dalam kendaraan. Mungkin sebelum melihat Demo Buruh sebagai sumber kemacetan, warga kota bisa kilas balik tentang betapa konyolnya penyebab kemacetan di Jabodetabek. Dari angkot yang ngetem, kecelakaan, putar balik , belokan, atau sesimpel 'ya… udah kebanyakan aja kendaraannya'. Yang ingin saya katakan di sini adalah setidaknya kemacetan dan keterlambatan Anda di jalan tidaklah sia-sia. Karena ada ribuan manusia yang menuntut kenaikan upah, suatu 'cause' atau tuntutan yang sangat mendasar dan jauh lebih wajar daripada menuntut keluar dari kemacetan.


Saat itu, para buruh menentang Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang menggugat keputusan Gubernur Jawa Barat terkait Upah Minimum Kabupaten (UMK) melalui SK NO.561/Kep.1540-Bansos/2011 yang menetapkan UMK Bekasi sebesar Rp 1.491.866,-,Upah kelompok II Rp 1.715.645,- dan Kelompok I Rp 1.849.913,- melalui Pengadilan Tata Usaha Negara atau PTUN Bandung. Ribuan buruh memperjuangkan kesejahteraan mereka yang terancam oleh gugatan pengusaha tersebut. Sebelumnya (2010) pemda Bekasi menetapkan UMK sebesar Rp 1.155.000. Jadi dalam setahun kenaikan upah yang hanya sekitar RP 336.866 masih ingin digugat oleh para pengusaha. 'Battle' yang tidak pernah berakhir ini dipicu oleh logika pengusaha yang tentunya cenderung menganggap kenaikan upah akan berdampak pada profit dan ongkos produksi.


Saya pernah terjebak dalam kemacetan di Gatot Subroto, saat peringatan May Day dimeriahkan oleh ribuan buruh yang turun ke jalan. Dari atas bis kota saya merinding melihat semangat mereka di tengah terik panas dan beban berat untuk menghidupi keluarganya tidak mencegah mereka untuk beraksi. Lain waktu, saya pernah terjebak macet luar biasa saat hari terakhir kampanye Pilkada Jakarta. Jujur, saya jauh lebih ikhlas terjebak macet di tengah para buruh dibanding masa kampanye. Sekilas mungkin tuntutan buruh tidak relevan dengan aktivitas sehari-hari kita atau mungkin lebih tepatnya kita memilih tidak mau tahu. Yang mau kita tahu adalah cepat sampai tujuan di jalan dan bisa langsung nge-charge gadget yang mulai lowbat. Maafkan kesinisan saya, tapi kita bisa pertanyakan lagi pada diri kita, betapa tuntutan para buruh yang bikin kita stuck lebih dari 3 jam di jalan, adalah tuntutan mendasar kita semua. Kita ingin keadilan dan keberpihakan terhadap masyarakat bukan lobi-lobi omong kosong pemerintah dan kelompok pengusaha. Mungkin sebenarnya kita pernah mengutuk para buruh yang menuntut kenaikan upah sebagai biang kemacetan, mungkin kita takut juga kalau upah mereka naik berarti harga barangnya akan naik juga dan kita akan kerepotan menghadapi kenaikan harga barang. Tapi buruh sama saja dengan kita semua, kalau harga naik mereka juga terkena imbasnya, mereka juga mengonsumsi, mereka ingin menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya. Jadi singkat kata, secara mendasar apa tuntutan mereka adalah bagian dari kebutuhan dan tuntutan kita juga.


Pertanyaan yang menarik dari tulisan panjang dan tidak jelas ini adalah:


Siapakah 'kita' yang dimaksud di sini? Kelas yang mana?


bantu saya untuk menjawabnya :p


Minggu, 25 Juli 2010

In a state of flux

flux |fləks|
noun
1 the action or process of flowing or flowing out
2 continuous change
3 Physics the rate of flow of a fluid, radiant energy, or particles across a given area.


I think this word suits me at the moment. Maybe it's one of my reason to keep God in mind. I'm not looking for a stability or a balance of mind. I'm just looking for more possibilities to jump from one to another. I'd like to see what equality might be. Can we just simplify each phenomenon? Make it just like common sense, so every incident is just a serendipity. There is no such a thing as certainty, because you don't need it. All you need in your life is flux. The upside-down movement to put yourself in gravity.

Enjoy your moment of flux...




Kamis, 24 Juni 2010

Sofia Coppola

Saya pecinta setia Sofia Coppola. Saya pernah bilang ke seorang teman, kalau ada perempuan yang bisa bikin saya berubah orientasi, Sofia Coppola lah orangnya...
Saat tahu film terbarunya akan tayang, saya girang bukan kepalang. Meskipun Marrie Antoinette hasil interpretasi Sofia dicerca, saya tetap membela. Kali ini, dengan film berjudul "Somewhere", dia kembali untuk membuat kita terus bertanya-tanya. Berdoa saja tayang di Indonesia (amin).

Minggu, 20 Juni 2010

Jakarta-New York PP

Ketika Jakarta tak jauh berbeda dengan New York

Mau ke mana hari ini? Ke SoHo? Tribeca? Semua ada di Jakarta.
Awali pagimu dengan Frappuccino Caramel di gerai Starbucks.
Berjalan melewati gedung pencakar langit, menembus kerumunan pekerja berdasi dan berhak tinggi.
Masuk ke gedung World Trade Center melalui pemeriksaan super ketat metal detector.
Mengikuti kelas bahasa inggris beraroma bisnis di Wall Street.
Butuh pelarian saat istirahat makan siang? bergegaslah ke Central Park, ada ruang hijau buatan dikelilingi beton kokoh.
Takut telat masuk dan belum makan sempat makan siang? Jangan pikir dua kali, pesan whooper di Burger King, tak sampai lima menit bisa segera dinikmati.
Daripada bosan menunggu waktu kerja habis, tidak ada salahnya mencari tahu tren terkini di majalah Elle, Harpers Bazaar, atau Marie Claire. Perempuan karir independen tak lupa mengulik tips naik jabatan dari majalah Cosmopolitan. Bagi pria uberseksual, bisa buka halaman mode di Esquire, mengintip perempuan berbikini di FHM, atau tips membentuk tubuh di Menshealth.
Pulang kantor bertemu kolega bisnis di hotel Manhattan.
Berganti kostum untuk menghabiskan malam. Dibalut dengan DKNY jeans, kemeja putih CK, menenteng tas lansiran terbaru Kate Spade.
Buat yang muda bisa nongkrong di 7/11, meredakan dahaga dengan es serut a la Slurpee.
Kemacetan adalah hal biasa, kebisingan bukan apa-apa.
Di sela-sela gemerlap lampu kota, ada mereka yang mengais sampah sisa-sisa kerakusan.
Warganya tidur lewat tengah malam mencoba berdamai dengan keterasingan.
Tapi kotanya tak pernah tidur, terus berdenyut, menunggu mangsa yang akan datang.



Ini era globalisasi kawan, yang trendi di sana bisa langsung diadaptasi di sini. Tinggal tunggu Invasi Ipad atau antrian sesi di psikiater langganan. Untung kita masih awam dengan Prozac dan anonymous club. Tapi sayang di Jakarta nggak ada MoMA (Museum of Modern Art), tim polisi sekeren NYPD atau venue gigs selegendaris CBGB. Alhamdulillah Vogue belum buka cabang di sini, Urban Outfitters dan American Apparels belum ada franchise di Jakarta. Kalau sampai mereka ada juga di Jakarta, ckckck... nggak yakin iman bisa kuat.


*Untuk dia Si Upper East Sider


foto diambil dari sini dan situ

Minggu, 18 April 2010

Let's Quit


Have you ever feel that tedious?

Yeah, I mean that kind of circumstance, a dull one.
The moment when you're waking up from your pointless sleep, you find your brain has drained.
You don't have any idea what you're supposed to be and do today, yet you still get countless appointments and responsibilities.

You overwhelm all possible opportunities.
There is a zero state for your mind to figure it out somehow.
It's as simply as do-nothing-day.
Because it's too much.
And there's no such a thing called 'undo' in your life.
You should keep going though you refuse to push the play menu.
I prefer to escape.

By watching Jared Hess' stupid-brainy-sci-fi-wannabe titled "Gentlemen Broncos"






Listening Charlotte Gainsbourg' latest bomb (assembled with my favorite Beck)




And appreciating hyperreality version of Richard Wright's untitled wall painting for turner prize exhibition.





We all miss an escape, don't we?

 
design by suckmylolly.com