

Are u fed up for living fast, modern, schedule-tight,plenty of responsibility,dirty organic gastronomy, artificial health, considered as VIP, insomniac, Fake beauty, and the last, having no idea what are u living for?


Getting Premature...

"Dreaming is Free"
Blondie - Dreaming
Semua orang pasti pernah bermimpi dan mengkhayal entah di siang bolong atau di alam bawah kasurnya (bawah sadar). Katanya kekuatan mimpi itu dahsyatnya minta ampun, lewat aktivitas yang satu ini jutaan temuan dan karya hebat telah dihasilkan. Namun dikotomi mimpi dan kenyataan seringkali menyudutkan mimpi di kutub yang negatif dan sebaliknya. Kita merasa ada perbedaan antara realita yang ada dihadapan muka sebagai kenyataan. Mungkin keutamaan pengalaman empiris ini yang menjadikan manusia modern meletakkan batasan tersebut. Kita belum yakin kalau belum lihat sendiri sesuatu itu ada di depan mata pada saat real time. Padahal untuk percaya tidak harus mengada
Kesan inilah yang mampir lama di pikiran saya saat membaca novel terbaru Dewi Lestari yang berjudul Perahu Kertas. Saya tidak menyesal merelakan isi dompet yang menipis untuk membawa buku ini pulang. Selain karena Dee (sapaan Dewi) menjadi penulis favorit banyak orang termasuk saya, buku ini buat saya statusnya it's complicated. hehehe Gaya bahasa dan bertutur Dee memang juara, dia nggak basa basi dan sok lucu jadi bisa bikin kita senyum-senyum sendiri kaya baca komik serial cantik. Tapi kedalaman makna dalam menjalin kalimat serta deskripsi perasaan tokohnya juga membuat 'perasaan' novel ini menjadi sangat kentara. Meskipun di beberapa bagian, perasaan cinta tokoh-tokoh utama dideskripsikan agak berlebihan hingga terdengar begitu cheesy. Dee juga selalu berhasil membangun karakter tokoh-tokohnya lewat atmosfir dan persona yang jelas. Kita jadi kebayang banget deh orangnya kaya gimana, aliran musiknya apa, gaya pakaiannya seperti apa, suka & nggak sukanya apa, kira-kira tipe cowonya kaya apa, dsb. Yang agak saya sesali hanya beberapa deskripsi yang seakan membuat tokoh-tokoh utama sempurna. Cewek cantik yang nggak sok cantik disukai cowok blasteran yang digebet cewek stylish tajir, dan harus bersaing dengan esmud (eksekutif muda) ganteng dan bintang basket sekolah. hehehhe Nah, di satu sisi, di situlah hebatnya Dee, dia menceritakan tokoh-tokoh yang too good to be true itu ke dalam cerita yang so true alias kita banget.
Dee mencoba untuk bercerita tentang dua manusia yang punya mimpinya masing-masing tetapi saling bertautan. Dua orang yang begitu klop dan satu frekuensi berusaha untuk tetap bisa bermimpi, meraih mimpinya, ataupun hanya sekedar percaya bahwa mimpi itu tetap ada. Banyak pelajaran yang dipetik dari buku ini, itu udah pasti, tapi kalau menemukan pandangan hidup baru, itu yang istimewa dari efek samping buku ini. Nggak tahu kenapa, karakter dan tantangan tokohnya begitu familiar bagi saya dan hal ini bisa saja dirasakan oleh pembaca lain. Kadang-kadang ada beberapa bagian dan kebutulan yang sinetron banget. Tapi bukankah itulah hidup? Life always seems like the movie and we never stop to make scene. Mengikuti kisah persahabatan dan roman dalam buku ini menyadarkan kita, warga dunia realita, untuk sering-sering menengok rumah kita di dunia mimpi dan sebagai manusia, pintu maaf itu memang harus selalu dibuka sekaligus dihampiri.
Buku ini membuat semua pilihan menjadi mungkin, tidak seperti buku kebanyakan yang minim percobaan jalan hidup dalam alurnya. It's definitely bittersweet symphony. Kita jadi dibuat berpikir apa yang akan terjadi dengan pilihan ini lalu apa yang terjadi jika si tokoh mengambil pilihan itu. Terkadang realita menjadi distorsi dalam perjalanan panjang mencapai cita-cita atau impian dan buku ini seakan menginformasikan ke saya 'nggak papa kok kalau capek di perjalanan, trus mau coba dulu jalan lain, tapi jangan pernah lupain tujuannya yaa...!'. Perjalanan meyakini impian masing-masing tokoh ini buat saya justru lebih menarik daripada konflik percintaannya sendiri. Meskipun percintaan itu menjadi esensi utama dari impian-impian tokohnya. Nggak perlu jadi schizophrenic untuk menghilangkan batasan khayalan dan realita hanya butuh percaya, begitulah nampaknya.
Dee juga nggak pernah lupa menambahkan bumbu-bumbu yang membangun kesan cinta platonik di antara dua tokoh utamanya. Dan unsur inilah yang paling saya suka dari kisah cinta versi Dewi Lestari. Romantismenya nggak berlebihan tapi daleeem...! Kocak sekaligus bikin senyum-senyum kege-eran. hehehehe Yang jelas buku ini memang perlu dibaca, apalagi kalau sedang ingin melemaskan syaraf otak yang terlalu sering diterpa realita. Sedikit bocoran, terus terang saya tidak terlalu suka endingnya, soalnya nggak sesuai ekspektasi saya..hehehhe tapi ini murni subyektif kok, jangan jadikan bahan pertimbangan.
Perahu kertas bisa mengarungi ombak yang tidak menentu, arah angin yang samar, bahkan Ia sempat ditinggal nahkodanya, sampai akhirnya mencontoh Jack Sparrow, Ia melabuhkan perahunya dimana si perahu ingin berlabuh. Saking tenggelam dalam ceritanya, saya sampai bikin mixtape untuk menjadi latar belakang beberapa bagiannya. Mungkin bisa dicoba sambil dengerin biar makin menghayati...hehehe Kan katanya mau dibikin filmnya, nah kira-kira siapa ya yang pantes jadi pemerannya? kalau di kepala saya, si Keenan itu Fachri Albar tapi kalau si Kugy, belum kepikiran. Anyway, salut buat Dee untuk novel barunya!
Mixtape Perahu Kertas
- Sigur Ros- - Hoppipolla (bagian akhir)
- Culture Club - Karma Chameleon (bayangin Kugy nih pastinya)
- Lightning Seed - I wish I was in love (Antara Kugy & Remi)
- Blondie- Dreaming (mimpi-mimpinya Kugy & Keenan)
- Lisa Hannigan - lille (mengiringi perahu-perahu kertasnya)
- Depeche Mode - free Love (perasaan Keenan & Kugy)
- Sade- By your Side (Pas Kugy & Keenan ketemu lagi)
- Regina Spektor - Fidelity (kalau Kugy inget Keenan terus)
- Rebecca - Satu Waktu- 'pernah jadi OST, Janji Joni' (Saat Kugy membuat keputusan karirnya)
- Iggy Pop - Never met a girl like you before (pas Keenan ketemu Kugy)
- Feist - The limit to your love (Kebimbangan Keenan & Kugy)

What does make you smile while you are looking forward?
"I've been thinking about you", you said simply.
Why do so, if I'm already beside you?
"I've just been guessing what's inside your mind maps", you answered.
Then please forgive me, I never intend to disturb your "redundant" thoughts.
We should not argue about those fake plastic trees.
Let me seal your lips with intriguing maneuver.
Leave behind the unrealistic reality.
Postpone all fear of contemporary civilization.
Slow down and swallow this lover's spit.
Don't bully your own faith.
"Why should fall on nihilism?", you asked
"Should we put our trust into one thing?, I replied.
"Just trust me that true love waits", you stated certainly
"I hope it will worth the wait then..."

An import product with brand which supports no animal testing, fair trade, againsts domestic violence, and runs a HIV/AIDS campaign OR a local product with unknown reputation of fair trade, animal testing, and sort of csr program?
This question came up in my mind and it started from a decision-making process while I was looking for compact powder. Yup, my cosmetic-product- discovery has lead me into a tricky consideration and long disputeable thought. As if I was a president, about to make a decision in cutting gasoline price endowment. But it's really serious question. Please help me to think about this, and it would be great for also recommend me something better.
The first choice will make me looked like a consumer with responsiblity and so called ethical one. But, hey...! It's an International brand! And behind the brand, there is a multinational company which will fly your money away to Paris. To its home where the brand headed. I might declare I'm a consumer with a social concern perspective, but the local industry in my country will fold its carpet (what a paraphrase!), they soon will run out. Because people in this country, like me, just keep their mind with Import commodities which had succesfully build their brand image. In the other hand, the wheel of local industry stop and going to leave thousand people unemployed. Congratulation... you're so virtuous then!
The other choice's position seems so obscure. This local brand has no records of meaningful CSR programs. Rather to stop domestic violence and build women's self esteem, this brand prefer to support a beauty pageant or cover girl competition. Its advertising campaigns eventually, show their concern in utopian beauty. Then, how this image could stimulate audience's (most of them are women) effort to get closer to that kind of beauty. But as a local commodity, we (local people) could feel proud with this brand. I heard this brand and some from its company product, had been distributed internationally, throughout Asia and Europe, especially their Spa product range. Great job indeed, to hear our local product considered so exotic and natural because the international buyer viewed them as 100% Indonesian product. This step had certainly lifted income of our country. Despite of their utopian beauty image, at least they still attached local identity to their meaning of beauty. They always said that the women who wear this product will bring up the Indonesian Beauty. hahaha....
So why did I take my personal purchase confusion seriously? Because I believe in microeconomic domino effect. I assume that destiny of the local cosmetic industry labour had strong correspondence with my purchase decision. I'm afraid I could trapped in international mega brands false perception. I really don't wanna be a Must-Have-Brand Complex or syndrome. Just because our nation's economy didn't grow as well then we think there's nothing to do about it since we're not as smart as Sri Mulyani. To support our economic growth is not that difficult as financial investment, obligation, and other sophisticated financial instrument. The raise of our purchasing power and amount that we spent will only contribute a fictitious growth, if we keep spend it on import brands. Anyway, I'm not a supporter of a vice president candidate who seems like buy-local evangelist in ads but I consider every act in my financial transaction will be counted. So let's end this never-ending confusion. Phiuhh....like our beloved adbuster campaign said " Why buy into megabrands and their fake marketing cool? Get Free, Go Indie, Buy local, and make every second count."