Rabu, 11 November 2009

It's in Your Hands Mr. President

"Kupu-Kupu Kebenaran"



Alkisah, ada seorang rabi yang terkenal mampu menjawab semua pertanyaan. Ya... semua pertanyaan. Kemampuannya ini sudah dikenal luas d
imana-mana. Ada seorang pemuda yang sangat ingin membuktikan bahwa rabi tersebut tidak sehebat yang dikira orang-orang. Ia lantas punya akal untuk menggagalkan popularitas Sang Rabi. Kemudian Ia menangkap kupu-kupu dan membawanya dalam genggaman. Ia mendatangi rabi tersebut denga
n niat menjebak beliau. Strateginya, dia akan bertanya pada Rabi apakah kupu-kupu di tangannya hidup atau mati. Jika Rabi menjawab hidup, Ia akan membunuh kupu-kupu dalam genggamannya, sebaliknya, kalau rabi bilang kupu-kupu itu mati, Ia akan melepaskan kupu
-kupu tersebut agar terbang bebas di depan muka Rabi. Saat Ia akhirnya bertemu dengan rabi tersebut, pemuda ini mulai bertanya, 

"Wahai rabi yang tahu segalanya, menurutmu, kupu-kupu yang aku berhasil tangkap ini hidup atau mati?". 

lantas apa jawaban Sang rabi?

Dengan bijak dan tak disangka-sangka rabi berkata singkat, 

" Jawabannya ada di tanganmu, Nak..." 

dan pemuda itu pun tertegun dengan tebakan rabi."







Saat isu Cicak vs Buaya menjadi semakin hangat, kisah rabi dan pemuda ini terlintas di kepala saya. Alih-alih ada yang membela KPK (Komisi Pembrantasan Korupsi), muncul perlawanan dari pihak lain, another KPK (Komisi Pembela Korupsi). Drama itu bertahap mencapai tingkat konfliknya. Saat Bibit & Chandra ditahan, kemudian disebar luaskannya rekaman hasil sadapan pembicaraan Anggodo CS, dibentuknya Tim 8 oleh Presiden, keterpojokan Susno, hingga reaksi Polri dan Kejaksaan Agung yang sudah berhasil mencapai Master Nge-Les tingkat tinggi.  Semua dukungan diteriakkan untuk menjunjung tinggi kebenaran yang sudah jelas-jelas terkuak. Layaknya Star Wars, negeri ini bisa dibilang memasuki episode "The Society Strikes Back" ketika beragam lapisan masyarakat protes karena mulai lelah dengan Konspirasi Kakap bertulang teri ini. Selain menanti pengakuan jujur dari pihak-pihak "terkait", saya sangat menunggu statement panjang dan keputusan tegas dari RI 1 (seperti kode di pembicaraan telp Anggodo). Namun hingga saat ini, saya masih gregetan karena beliau belum melakukan sesuatu yang benar-benar "berarti". Akibatnya fatal jika drama terus berada di plot konflik, bisa-bisa nanti masuk ke episode "Revenge of The Shit". hehehe





Kembali ke kisah rabi di atas, nasib kebenaran dalam kasus bank century, Anggodo, Susno, and so on yang seperti benang merah tapi kusut ini seperti kupu-kupu di atas.  Dan seperti jawaban rabi akan pertanyaan pemuda, Nasib kebenaran yang tersisa di negeri ini ada di tangan pemimpin kita. Jika Ia berani memberikan pernyataan yang jelas dan membuat keputusan yang tegas (copot dulu kek jabatan penguasa-penguasa kelompok "The Shit") saya dan pihak lain yang merasa jengah sekaligus 'panas' akan isu ini minimal akan merasa sedikit plong... Nggak asik dong kalau menonton film Ultraman pas adegan lawan musuh, eh... kekuatan si Ultraman yang habis nggak pulih-pulih lagi!?

Saya tahu menjadi Presiden tidak mudah, apalagi posisinya sempat diseret-seret dalam kasus ini. Mungkin beliau memiliki perasaan yang sama dengan Pemuda tersebut, Ia bingung akan membunuh atau melepas kupu-kupu tersebut karena Ia tahu bahwa strateginya untuk menyerang rabi sudah gagal. Si rabi terbukti tahu jawabannya...

Kita semua yang masih berpikir dengan logika pasti tahu jawaban atas semua ini. Kalau malas merunutkan kronologi atau takut menjadi komoditi TV karena mantengin tv seharian demi menyaksikan drama Cicak Buaya, kita bisa mulai bertanya pada diri sendiri. 
Mana yang kamu anggap benar, membiarkan buaya terus berkeliaran menelan korban lebih banyak (bisa jadi korbannya kamu) atau memburu buaya-buaya tersebut agar kelak semuanya menjadi lebih baik (minimal anak saya atau kamu nanti bisa hidup aman sejahtera)???

Apa yang akan kamu lakukan jika menjadi pemuda itu? Membunuh kupu-kupu dalam genggamanmu karena kesal pada rabi? atau menunjukkan bahwa kupu-kupu itu hidup dan masih bisa terbang bebas, sehingga rabi bisa tersenyum menatapmu?

It's all in Your hands....

Senin, 12 Oktober 2009

Next Big Thing: The Porno

Getting Premature...





video credit

record   : Sinjitos
director: Dibyokusumo
Editor   : Dimas Agung Sedayu (Yup, its dimdim!)
Visual   : Ika Putranto 

Anything attached with Porn always perceived as the contrary or subject on the matter of negative influences. But every meaning doesn't stand for absolute interpretation. The Porno (porno: porn in bahasa) may emerge along with controversy, yet they exist to deconstruct the word. 
Their performance might not be associated with obscene images or actions. The Porno is only take the controversial advantage of Pornography. They indeed, share similar obscurity. Just listen to their music, and let your mind explore the subliminal meaning inside it. 


COMING OUT SOON

Debut Album from The Porno




Jumat, 02 Oktober 2009

Perahu Kertas yang Berlabuh


"Dreaming is Free"


Blondie - Dreaming


Semua orang pasti pernah bermimpi dan mengkhayal entah di siang bolong atau di alam bawah kasurnya (bawah sadar). Katanya kekuatan mimpi itu dahsyatnya minta ampun, lewat aktivitas yang satu ini jutaan temuan dan karya hebat telah dihasilkan. Namun dikotomi mimpi dan kenyataan seringkali menyudutkan mimpi di kutub yang negatif dan sebaliknya. Kita merasa ada perbedaan antara realita yang ada dihadapan muka sebagai kenyataan. Mungkin keutamaan pengalaman empiris ini yang menjadikan manusia modern meletakkan batasan tersebut. Kita belum yakin kalau belum lihat sendiri sesuatu itu ada di depan mata pada saat real time. Padahal untuk percaya tidak harus mengada


Kesan inilah yang mampir lama di pikiran saya saat membaca novel terbaru Dewi Lestari yang berjudul Perahu Kertas. Saya tidak menyesal merelakan isi dompet yang menipis untuk membawa buku ini pulang. Selain karena Dee (sapaan Dewi) menjadi penulis favorit banyak orang termasuk saya, buku ini buat saya statusnya it's complicated. hehehe Gaya bahasa dan bertutur Dee memang juara, dia nggak basa basi dan sok lucu jadi bisa bikin kita senyum-senyum sendiri kaya baca komik serial cantik. Tapi kedalaman makna dalam menjalin kalimat serta deskripsi perasaan tokohnya juga membuat 'perasaan' novel ini menjadi sangat kentara. Meskipun di beberapa bagian, perasaan cinta tokoh-tokoh utama dideskripsikan agak berlebihan hingga terdengar begitu cheesy. Dee juga selalu berhasil membangun karakter tokoh-tokohnya lewat atmosfir dan persona yang jelas. Kita jadi kebayang banget deh orangnya kaya gimana, aliran musiknya apa, gaya pakaiannya seperti apa, suka & nggak sukanya apa, kira-kira tipe cowonya kaya apa, dsb. Yang agak saya sesali hanya beberapa deskripsi yang seakan membuat tokoh-tokoh utama sempurna. Cewek cantik yang nggak sok cantik disukai cowok blasteran yang digebet cewek stylish tajir, dan harus bersaing dengan esmud (eksekutif muda) ganteng dan bintang basket sekolah. hehehhe Nah, di satu sisi, di situlah hebatnya Dee, dia menceritakan tokoh-tokoh yang too good to be true itu ke dalam cerita yang so true alias kita banget. 


Dee mencoba untuk bercerita tentang dua manusia yang punya mimpinya masing-masing tetapi saling bertautan. Dua orang yang begitu klop  dan satu frekuensi berusaha untuk tetap bisa bermimpi, meraih mimpinya, ataupun hanya sekedar percaya bahwa mimpi itu tetap ada. Banyak pelajaran yang dipetik dari buku ini, itu udah pasti, tapi kalau menemukan pandangan hidup baru, itu yang istimewa dari efek samping buku ini. Nggak tahu kenapa, karakter dan tantangan tokohnya begitu familiar bagi saya dan hal ini bisa saja dirasakan oleh pembaca lain. Kadang-kadang ada beberapa bagian dan kebutulan yang sinetron banget. Tapi bukankah itulah hidup? Life always seems like the movie and we never stop to make scene. Mengikuti kisah persahabatan dan roman dalam buku ini menyadarkan kita, warga dunia realita, untuk sering-sering menengok rumah kita di dunia mimpi dan sebagai manusia, pintu maaf itu memang harus selalu dibuka sekaligus dihampiri. 


Buku ini membuat semua pilihan menjadi mungkin, tidak seperti buku kebanyakan yang minim percobaan jalan hidup dalam alurnya. It's definitely bittersweet symphony. Kita jadi dibuat berpikir apa yang akan terjadi dengan pilihan ini lalu apa yang terjadi jika si tokoh mengambil pilihan itu. Terkadang realita menjadi distorsi dalam perjalanan panjang mencapai cita-cita atau impian dan buku ini seakan menginformasikan ke saya 'nggak papa kok kalau capek di perjalanan, trus mau coba dulu jalan lain, tapi jangan pernah lupain tujuannya yaa...!'. Perjalanan meyakini impian masing-masing tokoh ini buat saya justru lebih menarik daripada konflik percintaannya sendiri. Meskipun percintaan itu menjadi esensi utama dari impian-impian tokohnya. Nggak perlu jadi schizophrenic untuk menghilangkan batasan khayalan dan realita hanya butuh percaya, begitulah nampaknya. 


Dee juga nggak pernah lupa menambahkan bumbu-bumbu yang membangun kesan cinta platonik di antara dua tokoh utamanya. Dan unsur inilah yang paling saya suka dari kisah cinta versi Dewi Lestari. Romantismenya nggak berlebihan tapi daleeem...! Kocak sekaligus bikin senyum-senyum kege-eran. hehehehe Yang jelas buku ini memang perlu dibaca, apalagi kalau sedang ingin melemaskan syaraf otak yang terlalu sering diterpa realita. Sedikit bocoran, terus terang saya tidak terlalu suka endingnya, soalnya nggak sesuai ekspektasi saya..hehehhe tapi ini murni subyektif kok, jangan jadikan bahan pertimbangan. 


Perahu kertas bisa mengarungi ombak yang tidak menentu, arah angin yang samar, bahkan Ia sempat ditinggal nahkodanya, sampai akhirnya mencontoh Jack Sparrow, Ia melabuhkan perahunya dimana si perahu ingin berlabuh. Saking tenggelam dalam ceritanya, saya sampai bikin mixtape untuk menjadi latar belakang beberapa bagiannya. Mungkin bisa dicoba sambil dengerin biar makin menghayati...hehehe Kan katanya mau dibikin filmnya, nah kira-kira siapa ya yang pantes jadi pemerannya? kalau di kepala saya, si Keenan itu Fachri Albar tapi kalau si Kugy, belum kepikiran. Anyway, salut buat Dee untuk novel barunya!




Mixtape Perahu Kertas


- Sigur Ros- - Hoppipolla (bagian akhir)

- Culture Club - Karma Chameleon (bayangin Kugy nih pastinya)

- Lightning Seed - I wish I was in love (Antara Kugy & Remi)

- Blondie- Dreaming (mimpi-mimpinya Kugy & Keenan)

- Lisa Hannigan - lille (mengiringi perahu-perahu kertasnya) 

- Depeche Mode - free Love (perasaan Keenan & Kugy)

- Sade- By your Side (Pas Kugy & Keenan ketemu lagi)

- Regina Spektor - Fidelity (kalau Kugy inget Keenan terus)

- Rebecca - Satu Waktu-  'pernah jadi OST, Janji Joni' (Saat Kugy membuat keputusan karirnya)

- Iggy Pop - Never met a girl like you before  (pas Keenan ketemu Kugy)

- Feist - The limit to your love (Kebimbangan Keenan & Kugy)

Minggu, 27 September 2009

It's ok for not making money that much

"...Work hard, make money, sure- but don't make it your idol. Don't screw everyone, don't screw up the planet, don't isolate yourself, don't become an island. We're in this life together."

This quote is taken from the latest edition of Adbuster. It's written by Luke Sherlock from Oxford. I think his writing was dedicated for us, mainly (I think) for those fresh graduates like me & my friends. Moreover I dedicate this one for my surroundings who keep cynically doubting my career choice. 
It's like alarm, this quote seems warn us to remain in human being ground. Don't let those brands and illusionary needs trap you on that rat race. We're human after all, aren't we?

Senin, 07 September 2009

The Real Beauty Tells The Truth


This is Lizzie Miller in Glamour Magazine. She is a breakthrough. 
Who does drive our beauty perception? 
Is it necessary? 

Such a shame for beauty industry and media, they don't speak universal language, they don't speak for us. They speak for insecurity, they spell harm beauty. But Lizzie tells the truth and praise for Glamour magazine for this chance. Now, for all you girls... believe in yourself that we're all natural born beauty itself. 

Through this picture, Lizzie happily said "This is my beauty, tell me yours!". And I'm absolutely agree, I will shout "This is my idea of beauty, Fuck yours, Fashion TV"hahaha.....

Rabu, 22 Juli 2009

Ode to Runaway


What does make you smile while you are looking forward?

"I've been thinking about you", you said simply.

Why do so, if I'm already beside you?

"I've just been guessing what's inside your mind maps", you answered.

Then please forgive me, I never intend to disturb your "redundant" thoughts.


We should not argue about those fake plastic trees.

Let me seal your lips with intriguing maneuver.

Leave behind the unrealistic reality.

Postpone all fear of contemporary civilization.

Slow down and swallow this lover's spit.


Don't bully your own faith.

"Why should fall on nihilism?", you asked

"Should we put our trust into one thing?, I replied.

"Just trust me that true love waits", you stated certainly

"I hope it will worth the wait then..."



* This lyrical poem was inspired by those six deadly love songs 

Senin, 20 Juli 2009

Which one do you prefer?



An import product with brand which supports no animal testing, fair trade, againsts domestic violence, and runs a HIV/AIDS campaign OR a local product with unknown reputation of fair trade, animal testing, and sort of csr program?


This question came up in my mind and it started from a decision-making process while I was looking for compact powder. Yup, my cosmetic-product- discovery  has lead me into a tricky consideration and long disputeable thought. As if I was a president, about to make a decision in cutting gasoline price endowment. But it's really serious question. Please help me to think about this, and it would be great for also recommend me something better.


The first choice will make me looked like a consumer with responsiblity and so called ethical one. But, hey...! It's an International brand! And behind the brand, there is a multinational  company which will fly your money away to Paris. To its home where the brand headed. I might declare I'm a consumer with a social concern perspective, but the local industry in my country will fold its carpet (what a paraphrase!), they soon will run out. Because people in this country, like me, just keep their mind with Import commodities which had succesfully build their brand image. In the other hand, the wheel of local industry stop and going to leave thousand people unemployed. Congratulation... you're so virtuous then!


The other choice's position seems so obscure. This local brand has no records of meaningful CSR programs. Rather to stop domestic violence and build women's self esteem, this brand prefer to support a beauty pageant or cover girl competition. Its advertising campaigns eventually, show their concern in utopian beauty. Then, how this image could stimulate audience's  (most of them are women) effort to get closer to that kind of beauty. But as a local commodity, we (local people) could feel proud with this brand. I heard this brand and some from its company product, had been distributed internationally, throughout Asia and Europe, especially their Spa product range. Great job indeed, to hear our local product considered so exotic and natural because the international buyer viewed them as 100% Indonesian product. This step had certainly lifted income of our country. Despite of their utopian beauty image, at least they still attached local identity to their meaning of beauty. They always said that the women who wear this product will bring up the Indonesian Beauty. hahaha....


So why did I take my personal purchase confusion seriously? Because I believe in microeconomic domino effect. I assume that destiny of the local cosmetic industry labour had strong correspondence with my purchase decision. I'm afraid I could trapped in international mega brands false perception. I really don't wanna be a Must-Have-Brand Complex or syndrome. Just because our nation's economy didn't grow as well then we think there's nothing to do about it since we're not as smart as Sri Mulyani. To support our economic growth is not that difficult as financial investment, obligation, and other sophisticated financial instrument. The raise of our purchasing power and amount that we spent will only contribute a fictitious growth, if we keep spend it on import brands. Anyway, I'm not a supporter of a vice president candidate who seems like buy-local evangelist in ads but I consider every act in my financial transaction will be counted. So let's end this never-ending confusion. Phiuhh....like our beloved adbuster campaign said " Why buy into megabrands and their fake marketing cool? Get Free, Go Indie, Buy local, and make every second count." 








 
design by suckmylolly.com