Jumat, 15 Oktober 2010

A week to figure it out

"Sweet Song"
Blur

What am I to do
Someone here is really not happy
Put myself on a line
It seems I never got through to you
So I wean myself off slowly

I'm a darkened soul
My streets all pop music and gold
Our lives are on TV
You switch off and try to sleep
People get so lonely

I believe I believe I believe
Everything's out to sea
I believe I believe I believe I believe
That is the way it should be
I hope you feel the same

Everyone is dying
Stop crying now here comes the sun
I didn't mean to hurt you no no no
It takes time to see what you have done
So I wean myself off slowly

I believe I believe I believe
Love is the only one
I deceive I deceive I deceive I deceive
Cos' I'm not that strong
Hope you feel the same

And now it seems that we're falling apart
But I hope I see the good in you come back again
I just believed in you





Let Yourself Go...

"People think a soul mate is your perfect fit, and that’s what everyone wants. But a true Soul mate is a mirror, the person who shows you everything that’s holding you back, the person who brings you to your own attention so you can change your life. A true Soul mate is probably the most important person you’ll ever met, because they tear you down walls and smack you awake. But to live with a Soul mate forever? Nah. too painful. Soul mates, they come into your life just to reveal another layer of yourself to you, and then they leave. And thank God for it. Your problem is, you just can’t let this one go. it’s over Groceries. His purpose was to shake you up, drive you out of your relationship that you needed to leave, tear apart your ego a little bit, show you your obstacles and addictions, break your heart open so new light could get in, make you so desperate and out of control that you had to transform your life, than introduce you to your spiritual master and beat it. That was his job, and he did great, but now it’s over."
“But I love him”
“So love him”
“But I miss him“
” So miss him, Send him some love and light every time you think about him, and then drop it."

*Potongan ini diambil dari novel "Eat, Pray, Love"-nya Elizabeth Gilbert

Waktu pertama kali saya baca bukunya, sekitar tahun 2007, buku ini seperti holy bible untuk sebuah pembenaran dari pengalaman yang sedang berlangsung. Pada halaman berapapun saya buka buku itu, seolah ada jawaban dari pertanyaan yang sedang saya ajukan. Bedanya, saya nggak perlu ke India untuk menemukan Tuhan, seperti manusia post-mod pada umumnya. hehehe Mungkin saya membaca buku ini pada saat yang tepat. Kutipan di atas adalah best line menurut saya. Sayangnya kutipan ini cuma diambil satu kalimat aja di versi filmnya. Saya sempat merekomendasikan novel ini ke beberapa teman yang senasib dan mereka ketularan sindrom pasca baca novel ini. Ada beberapa orang yang bilang novelnya klise, tapi tunggu... bukankah hidup ini memang klise ya? hehehehe

Komentar untuk filmnya? Yah, lumayan lah sebagai bahan promosi gratis pariwisata Indonesia. :) Oh ya! James Franco itu pas jadi David dan Javier Bardem emang Felipe banget.


What's your word?
Mine?
M.I.S.S.I.N.G



Senin, 16 Agustus 2010

Stop Complaining, just walking

"Daripada terus menjadikan ketidaknyamanan angkutan publik di Jakarta sebagai alasan untuk tidak menggunakannya, lebih baik berinisiatif untuk memanfaatkannya, atau jalanan kota ini berubah jadi neraka tingkat akhir."


*sudah kenyang mendengarkan pengguna kendaraan pribadi mengeluh tanpa melakukan tindakan konkret untuk mengurangi kemacetan.

Minggu, 25 Juli 2010

In a state of flux

flux |fləks|
noun
1 the action or process of flowing or flowing out
2 continuous change
3 Physics the rate of flow of a fluid, radiant energy, or particles across a given area.


I think this word suits me at the moment. Maybe it's one of my reason to keep God in mind. I'm not looking for a stability or a balance of mind. I'm just looking for more possibilities to jump from one to another. I'd like to see what equality might be. Can we just simplify each phenomenon? Make it just like common sense, so every incident is just a serendipity. There is no such a thing as certainty, because you don't need it. All you need in your life is flux. The upside-down movement to put yourself in gravity.

Enjoy your moment of flux...




Kamis, 24 Juni 2010

Ocehan tak berguna

"Life is so ridiculously gorgeous, strange, heartbreaking, horrific, etc., that we are compelled to describe it to ourselves, but we can’t! We cannot do it! And so we make art."
—Miranda July



Sofia Coppola

Saya pecinta setia Sofia Coppola. Saya pernah bilang ke seorang teman, kalau ada perempuan yang bisa bikin saya berubah orientasi, Sofia Coppola lah orangnya...
Saat tahu film terbarunya akan tayang, saya girang bukan kepalang. Meskipun Marrie Antoinette hasil interpretasi Sofia dicerca, saya tetap membela. Kali ini, dengan film berjudul "Somewhere", dia kembali untuk membuat kita terus bertanya-tanya. Berdoa saja tayang di Indonesia (amin).

Minggu, 20 Juni 2010

Jakarta-New York PP

Ketika Jakarta tak jauh berbeda dengan New York

Mau ke mana hari ini? Ke SoHo? Tribeca? Semua ada di Jakarta.
Awali pagimu dengan Frappuccino Caramel di gerai Starbucks.
Berjalan melewati gedung pencakar langit, menembus kerumunan pekerja berdasi dan berhak tinggi.
Masuk ke gedung World Trade Center melalui pemeriksaan super ketat metal detector.
Mengikuti kelas bahasa inggris beraroma bisnis di Wall Street.
Butuh pelarian saat istirahat makan siang? bergegaslah ke Central Park, ada ruang hijau buatan dikelilingi beton kokoh.
Takut telat masuk dan belum makan sempat makan siang? Jangan pikir dua kali, pesan whooper di Burger King, tak sampai lima menit bisa segera dinikmati.
Daripada bosan menunggu waktu kerja habis, tidak ada salahnya mencari tahu tren terkini di majalah Elle, Harpers Bazaar, atau Marie Claire. Perempuan karir independen tak lupa mengulik tips naik jabatan dari majalah Cosmopolitan. Bagi pria uberseksual, bisa buka halaman mode di Esquire, mengintip perempuan berbikini di FHM, atau tips membentuk tubuh di Menshealth.
Pulang kantor bertemu kolega bisnis di hotel Manhattan.
Berganti kostum untuk menghabiskan malam. Dibalut dengan DKNY jeans, kemeja putih CK, menenteng tas lansiran terbaru Kate Spade.
Buat yang muda bisa nongkrong di 7/11, meredakan dahaga dengan es serut a la Slurpee.
Kemacetan adalah hal biasa, kebisingan bukan apa-apa.
Di sela-sela gemerlap lampu kota, ada mereka yang mengais sampah sisa-sisa kerakusan.
Warganya tidur lewat tengah malam mencoba berdamai dengan keterasingan.
Tapi kotanya tak pernah tidur, terus berdenyut, menunggu mangsa yang akan datang.



Ini era globalisasi kawan, yang trendi di sana bisa langsung diadaptasi di sini. Tinggal tunggu Invasi Ipad atau antrian sesi di psikiater langganan. Untung kita masih awam dengan Prozac dan anonymous club. Tapi sayang di Jakarta nggak ada MoMA (Museum of Modern Art), tim polisi sekeren NYPD atau venue gigs selegendaris CBGB. Alhamdulillah Vogue belum buka cabang di sini, Urban Outfitters dan American Apparels belum ada franchise di Jakarta. Kalau sampai mereka ada juga di Jakarta, ckckck... nggak yakin iman bisa kuat.


*Untuk dia Si Upper East Sider


foto diambil dari sini dan situ

Minggu, 09 Mei 2010

Sebelum Hari Ini

Before Today

-Everything But the Girl-


I don’t want excuses
I don’t want your smiles
I don’t want to feel like we’re apart a thousand miles
I don’t want your attitude
I don’t want your things
But I don’t want a phone that never rings
I want your love and I want it now
I want your love and I want it now

I don’t want your history
I don’t want that stuff
I want you to shut your mouth
That would be enough
I don’t care if you’ve been here before
You don’t understand
Tonight I feel above the law, I’m coming into land
I want your love and I want it now
I want your love and I want it now

My heart is that much harder now
That’s what I thought before today
My heart is that much harder now
I thought that it would stay that way, before today
Before today
But I don’t want a phone that never rings
I want your love and I want it now
I want your love and I want it now
I want your love


* Coba deh dengerin lagu ini jam 2 pagi, depan laptop, lagi setengah bengong, abis ujan, sambil minum kopi, dan dalam keadaan belum tidur 2 hari. Dijamin terhipnotis, terbawa ke suatu tempat, entah di mana, mungkin ke tahap ekstatik. Dan ada lubang besar di sana, tidak tahu kapan terciptanya, tapi ada. Menanti untuk ditambal untuk kemudian disulam.

Sabtu, 24 April 2010

Yang Muda Yang Ragu-Ragu

Tentang Pilihan


Ada kutipan klise yang mengatakan bahwa 'hidup itu adalah tentang pilihan'. Karena saya termasuk kaum yang percaya adanya free will (bukan free wifi ya...) dalam diri manusia. Jadi pilihan yang ada dalam hidup seperti kutipan di atas saya yakini sebagai hak penuh dari manusia sebagai pemilih. Mau jadi manusia seperti apa itu pilihan kita, mau memilih atau tidak, lagi-lagi ini pilihan kita. Nyatanya hidup tidak sesimpel pilihan ganda di soal Ujian Nasional. Entah kenapa, pilihan dalam hidup seperti soal pilihan ganda yang harus digabung dengan essai. Mungkin ilustrasinya seperti ini:

tanya: "Mau kuliah di PTN apa PTS?"

a. Kuliah di PTN yang bergaya swasta
alasan & konsekuensi: ............
b. Kuliah di PTS yang punya kualitas setara dengan PTN
alasan & konsekuensi.........
c. Tidak keduanya
alasan & konsekuensi.....


Kalau soal Ujian Nasional kaya model begini, dijamin makin banyak murid, orang tua murid, bahkan guru yang akan berdemo menentang UN. Sayangnya UN lebih instan dari hidup dan hidup tidak seinstan lulus UN yang bisa dapet bocoran. Untuk beberapa kasus, ada yang tidak punya pilihan. Sungguh memprihatinkan ya kalau hidup adalah tentang pilihan? Tapi mungkin jawaban orang yang menikmati hidup: "Justru di situlah seninya hidup".

Buat yang masih muda, memilih adalah PR tersendiri, yang tentu saja bukan hanya persoalan konsekuensi & alasan, tetapi juga otoritas. Kecenderungannya, anak muda dibilang masih labil, belum berpengalaman, dan nggak bisa dikasih kewenangan untuk menentukan pilihannya "sendiri". Udah nggak punya 'gigi' untuk bikin pilihan, anak muda punya jiwa yang penuh dengan keraguan. Meskipun manusia seumur hidupnya akan terus berada di tahap becoming, fase muda adalah tahapan 'being' yang paling sulit dilalui. Setidaknya menurut saya ya... karena saya 'seperti' tidak punya kewenangan penuh untuk menentukan pilihan saya sendiri dan beberapa keterbatasan lain.

Pengalaman 'memilih' merupakan sesuatu yang asangat personal dan subyektif. Di umur 13 tahun (3 SMP), saya merasa kebingungan, haruskah mengikuti 'kata hati' atau 'kata teman'. Saya minder belum pernah pacaran, saya suka Sonic Youth bukan Jennifer Lopez, saya hobi ke perpustakaan baca sastra angkatan '65 bukan ke kantin, saya bosen sekolah dan memilih cabut, saya eneg sama PIM terus nyobain piknik ke monas, saya pernah memutuskan untuk potong rambut ala brian molkonya placebo, saya selalu absen kelas matematika di bimbel biar bisa jalan bareng sama temen, dan masih banyak keputusan labil yang saya buat. Kini, saat kilas balik, ya... sebagian ada yang saya sesali tapi ada juga yang saya syukuri.

Beda lagi pas resmi berumur 17 tahun (lulus SMA), saya kembali dihadapkan pada pilihan sulit dan bahkan tidak ada pilihan. Saya sungguh ragu-ragu, apakah lebih baik 'mempertahankan' daripada 'melepaskan'? Saya memutuskan untuk tetap kuliah di komunikasi dibandingkan kuliah di Sekolah tinggi negara, Saya meninggalkan hubungan yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Saya memilih untuk tidak tinggal di rumah orang tua. Saya melepaskan sahabat terbaik karena satu alasan. Saya lulus lebih cepat atau tidak sama sekali. Saya melupakan keinginan berkarir di arena kreatif komersil untuk kerja di NGO.

Katanya di awal umur 20 seseorang akan mengalami sebuah krisis. Nyatanya udah dari umur belasan saya punya kecenderungan untuk mengalami 'krisis'. Sekarang di umur 22 saya kembali diserbu dengan keraguan, Di mana saya harus berpijak, 'Impian' atau 'Kenyataan'? Karena tidak semua impian jadi kenyataan dan kenyataan berdasarkan impian. Pilihan seperti apa yang harus saya putuskan? Kenyamanan atau kemapanan. Pasangan hidup idaman atau sepaham. Pasca sarjana atau masih menyusun rencana. Kajian Seni atau studi gender. Buku tebal atau Ipad. hehehe

Mungkin saya orang yang menikmati hidup sekaligus suka menyesalinya. Saya sering kecewa dengan pilihan yang saya buat tapi saya selalu punya pembenaran tersendiri. Pilih A atau B toh tetap sama-sama huruf cuma beda pengucapan. Buat saya nggak ada pilihan yang lebih baik yang ada pilihan yang tepat pada konteksnya. Jika sekarang saya menyesali pilihan saya, berarti saya mengabaikan konteksnya, karena pada akhirnya pilihan 'gagal' yang saya buat adalah terbaik di zamannya. hehehe Yang jelas saya tahu sejak kecil pilihan yang harus saya lakukan adalah membuat impian jadi kenyataan dengan mengikuti kata hati saya. Karena ini hidup saya, bukan dia, bukan juga anda.


*Saya bermimpi maka saya ada (nggak tahu latinnya...hehehehe)

Minggu, 18 April 2010

Let's Quit


Have you ever feel that tedious?

Yeah, I mean that kind of circumstance, a dull one.
The moment when you're waking up from your pointless sleep, you find your brain has drained.
You don't have any idea what you're supposed to be and do today, yet you still get countless appointments and responsibilities.

You overwhelm all possible opportunities.
There is a zero state for your mind to figure it out somehow.
It's as simply as do-nothing-day.
Because it's too much.
And there's no such a thing called 'undo' in your life.
You should keep going though you refuse to push the play menu.
I prefer to escape.

By watching Jared Hess' stupid-brainy-sci-fi-wannabe titled "Gentlemen Broncos"






Listening Charlotte Gainsbourg' latest bomb (assembled with my favorite Beck)




And appreciating hyperreality version of Richard Wright's untitled wall painting for turner prize exhibition.





We all miss an escape, don't we?

Senin, 15 Maret 2010

It's all in your mind


Thousands midnights to listen blurbs
Tearing up those fears
The dreams that you keep
Drop the nights into deep
Eyes gazing stars falling
Only dark holds feeling
Sleep alone means untrue
Scares for argue

Well, it's all in your mind
It's all in your mind
And I wanted to be
Wanted to be your good friend


*I mix my words with Beck's song lyrics.



Senin, 15 Februari 2010

The Placebo Effect

I'm addicted to Placebo

placebo |pləˈsēbō|
noun ( pl. -bos)a harmless pill, medicine, or procedure prescribed more for the psychological benefit to thepatient than for any physiological effect his Aunt Beatrice had been kept alive on sympathy andplacebos for thirty years [as adj. placebo drugs. a substance that has no therapeutic effectused as a control in testing new drugs.• figurative a measure designed merely to calm or please someone.That's according to the Oxford dictionary.
How about this one? another Placebo
The current members (with Steve Forest, new drummer)


The recent members 


I adore Placebo and (of course) Brian Molko so bad... I discovered this band when I was in elementary school. 
 I'm the MTV generation, I watched their video "Teenage Angst" . I'm crazy about them ever since. For me, their music represents modern man emptiness, despair, and regret. When I grown up as a teenager, i was searching my identity through one of their greatest album "Black Market music". "Blue American" was my junior high school anthem and "Burger Queen" was my escape. 



And finally, they will perform live in Jakarta tomorrow (February 16th, 2010). I can't wait, I can't wait, I can't wait... 

Selasa, 09 Februari 2010

We no need no education


Pendidikan = Investasi ?


Semua orang pasti sering mendengar istilah ini. Premis di atas juga jadi bahan jualan calon Presiden, Gubernur, Kepala daerah, dan menjadi tuntutan sebagian besar masyarakat untuk mendesak 20% porsi anggaran di APBN. Entah kenapa tiba-tiba saya ingin membongkar anggapan ini. Mungkin karena pengalaman hidup, atau hanya observasi peneliti kelas kacangan belaka. Yang jelas, saya punya keyakinan bahwa pendidikan itu bukan pasar modal atau profit perusahaan yang tingkat keberhasilannya bisa diukur apalagi menjadi dividen yang dibagikan ke shareholders. 


Modal Pendidikan


Istilah "pendidikan itu investasi" kadang-kadang suka di salah artikan baik oleh pembuat kebijakan sekelas Mendiknas, sampai orang tua kita sendiri. Nggak percaya??? Lihat aja berapa banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah mahal dengan cap Sekolah bertaraf internasional, atau sekolah unggulan. Buat mereka sah-sah aja bayar mahal asal mutunya bagus, fasilitasnya kelas satu, dan bahasa pengantarnya bilingual. Persoalannya, pendidikan kan bukan barang elektronik, yang makin mahal, makin bermutu & canggih?! Anggapan yang ada di benak sebagian besar orang tua bisa diibaratkan seperti rumus di bawah ini:


Biaya Mahal = Sekolah unggulan = fasilitas lengkap = bilingual = Mutu pendidikan bagus = Anak nantinya siap menghadapi era globalisasi yang sanggup menghadapi persaingan (baca: lapangan kerja) = Anak menjadi orang sukses (baca: secara finansial)


Saya tidak berupaya untuk memukul rata anggapan ini, namun sepertinya pemahaman seperti itu sudah lumrah di masyarakat kita. Masalahnya kan Pendidikan tidak sesimpel itu, begitu pula dengan anak yang sukses dan berakhlak mulia. Pendidikan tidak selebar kertas ijazah, Ia seharusnya lebih dari itu. Pendidikan semestinya bisa membawa pengaruh besar yang positif ke dalam kehidupan masyarakat dan bahkan peradaban manusia. Makna pendidikan yang  seagung itu terpaksa direduksi jadi sekolah formal, ijazah, nilai rapor, dan NEM. Sekolah unggulan dengan fasilitas lengkap dan rekam jejak 90% lulus SPMB belum tentu mengajarkan Life-skill education ke siswanya. Sekolah internasional berkurikulum Cambridge dengan dua bahasa pengantar juga bukan jaminan bisa menumbuhkan rasa nasionalisme di dalam diri muridnya. Banyak orang sukses awalnya Drop out dari sekolah atau bahkan tidak pernah sekolah formal sama sekali, hal ini bisa dijadikan pertimbangan bahwa pendidikan di sekolah formal tidak berkorelasi dengan kesuksesan seseorang atau lebih jauh lagi, keberhasilan sebuah bangsa. 


Mungkin ini memang salah kita yang mau ambil gampangnya aja tanpa sadar tidak ada yang bisa menjamin masa depan si anak kecuali anak itu sendiri. Bukannya membekali si anak dengan ilmu serta hal yang berguna dan aplikatif dalam kehidupannya justru mengarahkan mereka sesuai dengan ambisi statistik nilai dan kelulusan. Semoga saja, para murid sadar, mereka hanya robot yang dirakit oleh pabrik bernama sekolah formal nan mahal.


Jangan heran kalau anggapan ini justru membuat pendidikan menjadi alat untuk mempertahankan kelas yang ada. Kalau pendidikan bermutu baik hanya bisa diperoleh dengan modal besar, apa kabar mereka yang mau makan sehari 3x aja susah? Mereka bisa jadi hanya bertahan dengan sekolah bermutu biasa, yang jika dianalogikan dengan rumus di atas, akan menciptakan anak yang biasa bukan si sukses yang duduk sebagai CEO. 


Untung atau Rugi?


Dengan rumus di atas, orang tua jadi sering menuntut anaknya untuk menjadi orang yang sukses secara ekonomi, dan kemapanan finansial ini seringkali diasosiasikan bisa survive di rimba pencari kerja  baik di perusahaan swasta, BUMN atau birokrasi pemerintah. Seolah seperti investor yang sedang menanamkan modal, mereka takut banget rugi, apalagi yang udah mengeluarkan biaya besar. Sekedar curhat colongan, saya yang sejak SD duduk di sekolah negeri mungkin tidak mengeluarkan biaya sebesar sekolah swasta mentereng. Dengan modal yang bisa dibilang pas-pasan aja, orang tua saya sering mempertanyakan profesi yang saya pilih, karena di mata mereka nggak masuk dalam kategori "mapan" atau "sukses" seperti rumus di atas. Mereka beranggapan bahwa seharusnya saya bisa mendatangkan "profit" yang lebih besar dari itu. Orang tua saya ternyata nggak sendirian, beberapa orang tua orang yang saya kenal juga bermasalah dengan "alat investasinya". 


Bagaimana dengan pemerintah? Berangkat dari kenyataan, dana yang sudah dikeluarkan untuk pendidikan tentu banyak banget. Mengingat, pendidikan menjadi pos anggaran yang cukup 'seksi' bagi pemerintah, triliyunan rupiah dikucurkan untuk mencetak siswa berakhlak mulia (Anyway, berakhlak mulia ini tujuan pendidikan kita). Sebagai penanam modal besar, mereka ingin jumlah pasti yang sanggup menjadi ukuran profit mereka. Lantas dibuatlah ujian nasional yang cacat hukum dan cacat otak untuk menjadi tolak ukur keberhasilan pemerintah dan siswa itu sendiri. Hmmm.... Berhasilkah mereka? Kalau berhasil, kenapa banyak koruptor di birokrasi pemerintahan, kenapa banyak kepala daerah yang "menjual" daerahnya untuk kepentingan sendiri, kenapa banyak orang yang tega "menghisap darah" bangsanya sendiri (edward cullen kali ngisep darah! :p), kenapa banyak orang yang lebih milih berbakti di korporasi multinasional dibanding membangun produk lokal, kenapa anggota DPR bisa adu mulut kaya sopir angkot??? Itukah "Insan berakhlak mulia" yang mau mereka cetak? 


Saya juga sempet mikir, kalau saya aja yang modal kuliahnya sekitar 20 juta rupiah (10 juta uang masuk + 1,3 jt x 7 semester) terus milih untuk kerja di LSM aja diprotes sama orang tua. Gimana kalau yang biaya kuliahnya kaya sekarang, sekitar 50 juta??? Mungkin akan lebih dituntut untuk mencapai target profitnya. Trus kalau semua orang memikirkan cara mengejar profit untuk mengembalikan modal investasi, siapa dong yang mikirin nasib bangsa ini??? 



Pendidikan bukan pasar


Pendidikan bukan menjadi kewajiban saya sebagai warga negara, tapi ini Hak yang seharusnya saya dapatkan. Banyak harapan yang disandarkan pada pendidikan. Ada jutaan rakyat miskin yang ingin memperbaiki nasibnya dengan akses pendidikan. Untuk mencetak akhlak mulia, tidak harus mengucurkan dana sekitar 500 miliar rupiah demi mengukur kualitas pendidikan, mungkin uangnya bisa dipakai untuk memperbaiki standar kurikulum, guru, sarana, dll. Daripada harus nyiksa jutaan siswa dengan bulat-bulat lembar jawaban komputer. Akhlak mulia tidak datang dari rumus pasar investasi. Manusia yang berkualitas bukan berasal dari sekolah mahal. Pendidikan tidak mempertemukan permintaan dan penawaran layaknya pasar, pendidikan mempertemukan manusia yang satu dan yang lain untuk saling mempelajari fenomena habitatnya. Uang bukan alat tukarnya, ilmu lah yang menjadi alat transaksi. Pendidikaan yang bermutu tentu menghasilkan insan yang berbakti pada nusa dan bangsanya. Terdengar klise, tapi ini bukan mimpi yang tidak mungkin.



*Untuk yang sedang bersitegang dengan orang tua karena pilihan profesi



Sabtu, 16 Januari 2010

Ada Apa Dengan Alay?

Alay: Mayoritas yang didiskriminasi


"Superficially it seems we are middle class because we have more of the trappings of middle class life, but the majority of people are just working class with more money, not middle class." Dr Julian Baggini

Sore itu saya terjebak di dalam rapat bersama redaksi, awalnya sih kita masih serius membicarakan rencana tahun 2010, tapi tiba-tiba ada sebuah topik yang terangkat di tengah perbincangan. Niat hati untuk obrolan selingan, kita semua malah heboh dan serius membahas topik ini sampai lupa tujuan rapat. Topik apakah itu? Kita dengan terbuka dan antusias membicarakan fenomena ALAY yang beredar di sekeliling kita. Bukan redaksi kita kalau hanya bisa mencerca dan mengeluh tentang fenomena Alay, dari topik itu lahirlah diskusi seru yang mengundang pro dan kontra, love hate love, serta kritisisme sosial terhadap isu tersebut. Pulang dari kantor, benak saya dihantui oleh Alay, bagi saya fenomena ini bukan persoalan sepele sebatas olokan peer group belaka, ada banyak keraguan dan ketidakadilan di dalamnya. Terkadang kita dengan mudah mengucap istilah tanpa tahu akibatnya, bahkan kita sering menilai kaum alay dengan kacamata kuda. Atas alasan tersebut, saya berniat untuk merangkai penjelasan tersendiri versi saya tentang fenomena ini. Sepertinya kata Alay begitu dahsyat, sampai punya gaya, selera musik, bahasa dan budayanya sendiri. Jangan-jangan sebentar lagi Alay akan menjadi Cult.hehehe... Dan kerisauan saya dimulai dari sini:

Definisi Alay : Jauh Panggang dari Api

Menurut kamu seperti apakah alay itu? Dalam setiap perbincangan yang menyeret-nyeret Alay, ternyata definisi ke'alay'an itu tidak absolut alias relatif, meskipun katanya ada kesepakatan bersama yang diyakini banyak orang untuk mendeskripsikan alay. Kalau dirunut-runutin ke belakang, seingat saya, pada hakikatnya istilah Alay muncul sebagai singkatan dari "Anak LAYangan". Kenapa anak layangan? karena rambut orang tersebut merah (atau brunette mungkin?) hasil dari berjemur matahari saat bermain layangan. Dulu saya sempat terintimidasi dengan definisi awal tersebut, bagaimana tidak? rambut saya memang kecoklat-merahan gitu dan saat kecil saya memang fasih bermain layangan. Kalau berdasarkan definisi tersebut, saya tentu sah disebut sebagai Alay dan mungkin banyak orang yang serupa. Coba deh inget-inget lagi...! Nah, seiring dengan beranjaknya umur, makna Alay di konstruksi pikiran saya mulai bergeser. Saat SMA saya beranggapan bahwa Alay atau tidaknya seseorang itu ditentukan dari cara laki-laki memperlakukan perempuan. Yup! definisi yang berbasis gender ini lahir sebagai dampak dari kekesalan saya pada cowo-cowo yang suka bersiul-siul saat ada cewe lewat di depannya. Kalau seorang cowoq tidak bisa menghormati perempuan dan melecehkan perempuan secara verbal atau langsung, bagi saya cowo itulah kaum Alay. Sejauh ini konstruksi makna itu masih berlaku banget buat saya. Misalnya saat ada segerombolan cowo yang berusaha menggoda saya di kereta, mereka adalah Alay buat saya. Saya tidak memungkiri, saya mengasosiasikan Alay sebagai sesuatu yang negatif karena istilah tersebut saya gunakan untuk memberi label pada laki-laki semacam itu. Inilah 'dosa' saya....huhuhu

Diskusi saat saya rapat redaksi sore itu ternyata memunculkan definisi-definisi lain tentang alay yang beragam dan memang semuanya mengarah ke konotasi yang negatif. Seorang kontributor berpendapat bahwa ke'Alay'an seseorang dilihat dari cara dia berinteraksi lewat tulisan/ketikan, kalau gaya ngetiknya menggunakan huruf gede-kecil, kombinasi angka dan huruf, disingkat, dicampur bahasa inggris dengan modifikasi pronounciation, dan improvisasi lainnya, mereka lah yang disebut Alay. Kontributor lain lalu menimpali, buat dia, Alay adalah orang yang gayanya 'maksa', sok keren tapi jadi nggak keren, sok gaul tapi jadi nggak banget, definisi ini sungguh subtil dan sedikit kejam, tapi nampaknya ada banyak orang yang sependapat dengan definisi ini. Ada juga yang bilang kalau Alay itu adalah orang yang termakan tren tapi nggak sanggup ngikutin aslinya, misalnya mau jadi up to date dengan baju-baju keluaran butik High-street impor, tapi akhirnya membeli barang tembakan atau kw-nya di ITC karena faktor ekonomi. Kontributor lain ada yang nyeletuk, Alay itu ya semacam personilnya kangen band atau penggemarnya , kira-kira deskripsi dia kebangetan konkritnya sampai menunjuk hidung dan contoh orangnya. Yang menarik, ada seorang kontributor lagi yang berpendapat kalau Alay itu hanyalah sekedar fase dalam hidup kita, misalnya saat rambut belah tengah lagi nge-tren atau rambut spike itu cool pada zamannya dan kita mengamalkannya sehari-hari, nah... gaya-gaya old-school itu menjadi Alay saat kita refleksikan ke fase sekarang, bahkan sempat ada tanggapan bahwa semua orang pernah menjadi Alay atau mengalami fase alay tersebut. Everybody was Alay afterall... Sejauh ini definisi terakhir menjadi makna yang paling tidak diskriminatif, ya iyalah... orang semua pernah meng'alay'kan dirinya meskipun dengan sedikit pengelakan (denial) terhadap fase tersebut.

Jika merujuk pada beragam pemaknaan akan alay tersebut, ktia bisa melihat adanya keragaman yang relatif dalam mendeskripsikan alay. Biarpun begitu, entah kenapa konotasinya cenderung negatif dalam level yang berbeda-beda. Dan kalau saya pikir-pikir lagi, pemaknaan alay mengalami perluasan yang pesat dari kali pertama saya mengenalnya. Pemaknaan Alay menjadi amelioratif dan mulai menjauh dari hakikat kependekan "Anak LAYangan" tadi. Sungguh jauh panggang dari Api, jadinya maknanya nggak matang.hehehhe Yah... sejauh ini belum ada deskripsi yang jelas dan baku soal apa itu Alay. Sepanjang kata ini belum masuk di KBBI, kita belum ada rujukan terpercaya untuk mendefinisikannya. Alay is still ongoing mate...!


Eksistensi Alay: The Others are the Second Cool


" No subject will readily volunteer to become the object, the inessential; it is not the Other who, in defining himself as the Other, establishes the One" Simone de Beauvoir

Merujuk pada varian definisi di atas, kata alay seolah menjadi label atau streotype untuk sesuatu yang negatif, uncool, nggak gaul, nggak sopan, nggak menghormati perempuan, nggak fashionable, and so on. Alay menjadi negasi dari makna-makna yang positif atau sesuatu yang lebih tinggi. Jika sosok alay tercipta, hadir di dunia karena konstruksi atau pemaknaan kita, berarti keberadaan alay sebagai sebuah aktor sosial hanyalah berlaku sebagai objek semata. Nah loh, terus siapa subjeknya? Ya jelas yang menunjuk seseorang sebagai alay. Orang-orang yang merasa keren, fashionable, penggemar musik "berkualitas", berpendidikan, well-mannered, itulah yang seringkali menobatkan seseorang menjadi Alay. Proses on becoming alay seakan tidak dilihat dari kacamata dia sendiri melainkan dari kacamata orang lain. Mengapa kita membutuhkan Alay? agar eksistensi ke'keren'an atau ke'kece'an kita tetap terjaga.

Yang lucu lagi, seorang kontributor berkata menimpali perbincangan alay seperti ini "Eh, jangan salah lo! Malah ada banyak orang yang sebenernya kalo diperhatiin Alay banget tapi dia malah ngatain orang lain Alay, Alay teriak alay gitu ya gak?!". Kalimat Alay teriak Alay itu begitu menarik dan saya tanggapi dengan anggukan mantap. Kasus ini sering terjadi di sekitar saya, coba kamu perhatikan baik-baik.hehehhe Saya jadi inget kata om Hegel, begini doi bersabda "We find in consciousness itself a fundamental hostility towards every other conscousness; the subject can be posed only in being opposed". Untuk merasa fashionable kadang kita suka menilai orang-orang yang gayanya dianggap nggak oke. Saya jadi ingat pengalaman waktu SMA, waktu itu anak-anak SMA saya dijejali doktrin anti STM. Sentimen tersendiri terhadap STM menghadirkan sebuah chauvinisme di antara kita, waktu itu kita dengan yakinnya menyatakan anak-anak STM itu Alay sedangkan kita anak SMA selatan (Jakarta selatan maksudnya) yang gaul abis.hehehhe


Dari penunjukkan alay sebagai inferior dari yang superior tersebut, kaum yang dianggap alay terpaksa harus puas di strata kelas dua dalam pergaulan. Nah... ini dia bagian yang paling gawat, ketika alay terletak di bawah piramada tersebut, warga kelas atasnya seringkali sadar atau tidak sadar melakukan diskriminasi terhadap kaum alay. Ibarat anak nerd/loser di sekolahan, dia nggak bisa jadi panitia acara-acara happening atau mendapat popularitas sebaik grup populer. Parahnya lagi, banyak merasa bahwa mengkritik atau mengejek selera alay adalah legal hukumnya. Bahkan, saya pernah mendengar kalimat kejam seperti ini: "Kalo alay ya alay, mau diapain juga nggak bakalan 'dapet' seleranya!" ckckck... kesannya jadi alay udah nggak ada harapannya lagi gitu. Tindakan diskriminatif bisa muncul dalam bentuk komunikasi verbal maupun non-verbal, mulai dari celaan secara ikhlas atau hanya sebatas tatapan mata macam Anna Wintour-nya Vogue.

Alay seperti menjadi The others dalam sebuah bagian masyarakat urban. Alhasil alay bukan kategori manusia cool dan patut menjadi panutan, they are perceived as the 'wannabes' not the trendsetters. Padahal sudut pandang kita terhadap keliyanan Alay belum bisa dipertanggungjawabkan, semacam to see or being seen. Masih ingat film The Others-nya Nicole Kidman? hati-hati dalam memandang sebuah objek, semua punya keyakinannya masing-masing. Banyak dari kita ngeributin soal alay (sampai saya bikin tulisan kaya gini segala), padahal orang yang ditunjuk jadi alay nggak peduli amat dan mungkin aja memandang kita aneh atau setidaknya merasa lagu band Mum itu freak banget. Ingat... bukannya mereka nggak 'nyampe' untuk mencerna apa yang ktia anggap kece, tapi karena semua orang punya sudut pandangnya sendiri.


Budaya Alay: High-Low and unlimited

"Culture is ordinary, in every society and in every man" Raymond Williams


Seperti apakah kebudayaan milik alay? Banyak yang bilang, karya yang norak-norak itu hasil kebudayaan alay yang akan direproduksi oleh alay-alay juga. Ditinjau dari segi kualitas, karya khas alay dianggap berkualitas rendah, konsepnya cetek dan tidak serumit atau sekompleks karya-karya yang 'dianggap' berkualitas. Seolah karya seni maupun buah hasil pikiran yang norak tersebut tidak bisa jadi sebuah 'mahakarya'. Masalahnya kawan-kawan, berbicara soal estetika adalah hal yang sangat rumit. Menurut kritikus budaya yang percaya pada aspek formal, karya yang berkualitas tidak menonjolkan sebuah makna secara terang-terangan atau tersirat dan lebih kompleks. Mungkin kalau dalam urusan lagu,yah... bukan lagu-lagu yang easy listening atau semacam pop melayu yang liriknya tersurat atau terang-terangan. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sebuah kebudayaan termasuk karya seni itu kan hasil konstruksi dan interpretasi seseorang terhadap 'dunia'nya. Oleh karena itu perdebatan estetis kalau lagu pop melayu itu norak, bisa dengan mudah dibantah oleh relatifnya cita rasa atau pemaknaan kita pada sebuah karya. Satu budaya nggak bisa kita klaim lebih tinggi dari budaya lainnya, karena konteksnya berbeda dan penilaiannya sangat subyektif.

Ada teori yang bilang kenapa hal atau barang yang berkaitan dengan alay itu terlihat jauh dari keren atau norak, penjelasan singkatnya karena barang-barang tersebut pasaran. Manusia memang aneh teman, di satu sisi dia ingin diterima di masyarakat dengan mengikuti arus, tapi di satu sisi tampil beda itu keren. Nah... hal yang diidentikan dengan alay yaitu sesuatu yang pasaran, overrated, ada dimana-mana atau mudah dijangkau, namun manipulatif. Istilah kerennya 'Mass Culture'. Sedihnya lagi, budaya pasaran ini sesungguhnya bukan dibentuk oleh pasar tapi oleh produsen, yang kemudian dikonsumsi oleh pasar lagi, lagi, dan lagi. Kalau industri rekaman kita nggak segitu hobinya mengangkat pop melayu, mungkin band-band macam kangen atau wali itu nggak terdengar norak-norak amat.

Produk yang massal dan cenderung murah ini sering dijadikan penanda ke'alay'an seseorang. Beda halnya kalau kita punya barang yang limited, didesain khusus, dan harganya mahal, wah... bisa dipastikan 89% pas kita pakai terlihat keren.Sayangnya, saya bukan orang yang percaya barang limited nan mahal itu pasti bagus dan sebaliknya, it's not what you wear it, but how you wear it. Terkadang saya berpendapat kalau menyukai sesuatu yang pasaran itu sah-sah saja, soalnya urusan suka nggak suka kadang jauh dari logika. Jadi tentu tidak adil kalau kita bilang penggemar hal-hal seperti itu adalah alay. Untuk apa melabeli orang lain, kalau kita sendiri punya kemungkinan untuk suka juga dengan barang atau karya tersebut??? Persoalan ini juga yang membuat kamu terlihat keren kalau playlist itunes dilengkapi band-band antah berantah semacam Local natives, Be your own pet, dan band aneh-aneh lainnya.



Bagaimana dengan selera alay? Soal selera seringkali menjadi bahan celaan. Misalnya ada seorang teman yang membeli sepatu kemudian kita bilang ke dia begini 'Ih, alay banget sih sepatu lo! Begitu kira-kira gambarannya. Kata alay mendadak menjadi ungkapan untuk selera yang nggak bagus atau keren. Ada ungkapan selera nggak bisa dibeli, yang meneguhkan kalau orang yang punya selera buruk ya nggak bakalan bisa memilih barang bagus atau bergaya yang fashion forward. Entah kenapa, kalau percaya anggapan ini kesannya determinis banget, padahal selera itu tidak sekonyong-konyong muncul begitu aja. Dulu saya juga sempat kepikiran kalau selera saya memang udah keren sejak lahir (hahaha... pd gila!) tapi kalau dipikir-pikir lagi, dari mulai selera musik, gaya berpakaian, atau pilihan film saya dibentuk, entah oleh keluarga atau lingkungan dimana saya berada.

Ngomongin selera sepertinya perlu membawa om Bourdieu sosiolog Perancis, yang yakin banget kalau urusan selera ini UUK (ujung-ujungnya kelas) dimanakah letak kelas sang alay? bisa ditebak bukan? pertanyaan (atau pernyataan?) yang pernah keluar dari seorang teman mungkin bisa menggambarkan, kira-kira seperti ini: "Jangan pake baju kaya gini...! Masa' lo mau sih disamain sama 'mas-mas' ?!" ckckck... sadis betul nampaknya.


Alay: Sebab atau Akibat?


"Men, make their own history, but they do not make it just as they please; they do not make it under circumtances chosen by themselves, but under circumtances directly encountered, given, and, transmitted from the past" Karl Marx

Sentimen anti-alay memang mulai menjamur, bahkan saya sempat lihat ada group-nya di facebook. Banyak orang yang sudah mulai menggunakan frase alay untuk mengidentifikasi seseorang, meskipun seperti yang udah dibahas sebelumnya, alay itu sendiri masih belum jelas. Jika diperhatikan lebih seksama, definisi alay yang berlaku umum (baca: digunakan oleh sekelompok orang yang mempunyai pengaruh, baik dari sisi kelas ekonomi atau kaum dominan) sekarang adalah orang yang gayanya maksa atau cenderung mengoleksi produk KW, berinteraksi lewat gaya tulisan/ketikan yang terlalu variatif, menggemari musik populer seperti pop melayu, gaya rambut atau berpakaian yang berusaha mengikuti trend tapi memiliki kemampuan mix & match di bawah rata-rata, dan masih banyak lagi. Beberapa ciri-ciri tersebut saya ketahui dari beberapa perbincangan di forum baik dunia maya maupun dunia nyata. Bagi sebagian orang keberadaan alay dengan ciri-ciri di atas dianggap mengganggu kenikmatan pandangan atau skema pergaulan. Oleh karena itu celaan dan sindiran seringkali ditujukan pada kaum alay.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat alamat blog dari seorang teman, kata dia pemilik & konten blog ini sering dicap alay. Setelah menelusuri link tersebut, saya benar-benar terkejut dengan berbagai komentar yang ditujukan pada pemilik blog tersebut hingga membuat saya mikir: 'gila, segitu alerginya kah orang terhadap so-called alay?!' Komentar sadis bernada nyinyir dan ejekan yang menurut saya pantas masuk sebagai kasus cyber bullying itu telah membuka mata saya terhadap fenomena anti-alay ini. Ckckck... kalau dulu ada kelompok kutu buku yang didiskriminasi, sekarang ada kaum alay yang dimarjinalkan, terutama dari segi selera dan kebiasaan.


Emangnya apa dosa seorang alay? Lebih dalam lagi, Apakah kita punya hak untuk menyebut orang lain sebagai Alay, emangnya siapa sih kita? Kalau definisi alay sekacau itu, Siapa juga yang mau dilahirkan jadi alay? Itulah poinnya. Subordinasi alay ini nggak hadir secara tiba-tiba dari alam bawah sadar. Jika kelompok yang disebut alay itu tidak memiliki gaya sekeren hipster-hispter di majalah Nylon atau Juice itu bukan karena mereka dikaruniai selera kacrut dari lahir, melainkan situasi kondisi dan sistem yang membentuk selera, membatasi akses, dan mengarahkan cara pandang mereka.

Kalau ada seorang fashion blogger yang bisa bergaya keren dengan koleksi baju dari butik high-street dan kena demam kebangkitan desainer muda Indonesia dengan selera musik sekelas Music Director Hard Rock fm, melakukan photo shoot yang terlihat indie tapi keren-keren gimana gitu, dan berbahasa inggris begitu canggihnya, Ya... karena Ia punya akses untuk membaca majalah luar yang hip, membeli atau terbiasa dibeliin 'good' stuff, familiar dengan bahasa internasional sejak kecil bahkan rutin ikut les, tahu review band terbaru dari NME atau SPin mungkin, dan bergaul serta dibesarkan di lingkungan orang-orang dengan selera yang dianggap 'tinggi'. Singkat kata, bisa dibilang kelompok ini adalah kelompok The Haves dan yang menjadi The Others adalah si The Have-nots.

Sebaliknya dengan kelompok yang dicap alay, 'Modal' mereka dalam pergaulan dan selera memang tidak sebesar kelas menengah dan menengah atas. Sedangkan dominasi kelas yang lebih tinggi itu memiliki kesempatan lebih besar untuk menjadi keren. DI satu sisi usaha kelas bawah untuk menjadi keren menjadi sasaran empuk industri untuk produk-produk massalnya. Industri menciptakan tren atau fads (macam fenomena yogurt atau BB gitu lahh) akan produk yang menjadi penanda ke'keren'an milik kelas tertentu untuk kemudian menciptakan barang massalnya dengan harga lebih murah agar bisa diakses orang sebanyak mungkin yang merasa bahwa mereka bisa lebih eksis kalau membeli/menggunakan produk tersebut. Kaum kelas bawah juga pengen tampil keren dan oke layaknya individu, namun mereka tidak bisa mengakses sumber-sumber atau bahan-bahan yang bisa bikin mereka sejajar dengan kelas atasnya, dan jika ada kesempatan untuk itu (lewat produk massal tersebut) maka mereka akan segera menjangkaunya sejauh bisa dijangkau. Sistem masyarakat kita yang (saya yakini) mendapat pengaruh besar dari keadaan ekonomi, telah melahirkan alay sebagai anak 'haram'nya. Mungkin kalau dalam masyarakat tanpa kelas, alay tak akan lahir, mungkin...


Fenomena alay menjadi bagian dari stratifikasi baru masyarakat Urban. Saya sempat bertanya-tanya ke seorang teman, 'Eh, di 'daerah-daerah' (baca: bukan kota besar) tuh ada kategori Alay gitu nggak ya?' dan dengan entengnya teman saya menjawab: 'Ya nggak lah... orang di sana alay semua'. Saya pun tertawa satir mendengar jawaban tersebut. Sentralisasi di kota besar yang berdampak pada tidak meratanya akses ekonomi, pendidikan, dan teknologi di daerah-daerah membuat masyarakatnya berkemampuan tidak jauh beda satu dengan yang lain, dalam artian jurang sosial-nya tidak selebar di perkotaan. Lagipula, kepalsuan dan dinamika gaya hidup urban membuat orang-orangnya berlomba untuk menjadi ter'keren' dan ter'atas untuk menjadi eksis. Masyarakatnya punya masalah yang kompleks dan memaksa individunya untuk menjadi tumpul dalam menilai seseorang hanya sebatas dari tampak luar.

Dari kacamata saya, Alay adalah akibat dari berbagai bentuk ketidakadilan dan dominasi selera yang merasa lebih keren dari yang lain. Mengonsumsi produk-produk tertentu tidak bisa menjadi tolak ukur keren & alay atau tidaknya seseorang, membuat kategori minor seperti ini hanya akan berakhir diskriminatif bagi pihak yang dianggap lebih rendah. Kalau hal-hal keren menjadi milik kelas menengah dan atas, sedangkan yang 'alay' milik kelas dibawahnya, ibarat middle class & working class di Inggris, berati kelompok keren itu minoritas. Kenapa musti minder dibilang alay, toh proporsi masyarakat kita memang lebih mengggembung di kelas 'alay' kok?!


*thanks a lot for Change Magazine team to spoil my mind again...again...and again.

Selasa, 05 Januari 2010

SAWARNA Village


WHERE THE WILD THINGS ARE...



HAPPY NEW YEAR...!!!


First Sunset in 2010


The Backpackers Team 

The Trees and The Wild


Feels Like Private Beach



The Corals



It's in Indonesia, really!




See, Sea, Sky


Take a pose

 
design by suckmylolly.com