Senin, 10 Desember 2012

 "Kita tak boleh merasa terlalu pesimis, pun tak boleh merasa terlalu optimis, karena kedua perasaan itu akan mudah membawa kita kepada oportunisme. "
Tan Malaka 
 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia'1925)

Rabu, 14 November 2012

the break in your heartbreak





On my life I'll try today,
 there's so much I've felt I should say, 
but even if your heart would listen, 
doubt I could explain...



Jimmy Eat World - If You Don't, Don't

Sabtu, 03 November 2012

Gradasi Keyakinan





Edisi khusus majalah TEMPO tentang pembantaian '65



Ketika kita dilahirkan ke muka bumi ini, semesta tidak pernah berbisik pada kita 'apa itu kehidupan', 'apa itu manusia', atau bahkan 'apa artinya dilahirkan. Kecil kemungkinan kita mengingat apa yang kita hadapi semasa bayi, apalagi apa yang dikatakan oleh ayah atau ibu saat si bayi menangis. Sekalipun otak kita sudah mampu menyimpan memori, kita tidak akan paham dengan baik pembentukan memori pada masa itu. Meski setiap manusia (dan organisme) mempunya unsur 'bawaan' dari kode genetik yang terdapat dalam protein DNA, pengalaman organisme menjadi faktor paling penting untuk menentukan fenotip atau hasil akhirnya. Dengan kata lain, tempat atau konteks di mana kita tumbuh dan berkembanglah yang perlahan tapi pasti memberikan jawaban akan pertanyaan metafisik seperti di atas. Biasanya kita bahkan tidak sampai menemukan jawaban yang final dan memuaskan. 





Rangkaian kode DNA manusia


Waktu kecil kedua orang tua saya memberi tahu banyak hal, terutama soal cara berinteraksi dengan sesama manusia. Saya masih ingat dengan jelas ketika ibu saya mengajarkan cara berterima kasih, bersalaman, atau bilang permisi. Selain menelan mentah-mentah doktrin agama lewat ritual yang dicontohkan oleh orang tua, saya juga mengetahui dari mereka, mana hal yang baik dan mana yang buruk. Baik ayah atau guru di sekolah mengajarkan pada saya bahwa manusia adalah spesies Homo Sapiens, makhluk yang dipercaya berbeda dengan organisme lainnya seperti bintang atau tumbuhan. "Apa yang membedakannya?", tanya saya waktu itu. Dan ayah saya menjawab "Manusia punya akal budi, dia punya hati nurani". Guru di sekolah pun menjawab "Manusia dikaruniai cipta, rasa, dan karsa (dikenal dengan Trias Dinamika) oleh Tuhan YME". Puaskah saya dengan jawaban tersebut pada saat itu?

Jangankan menunggu dewasa, pada waktu itu saya tidak puas dengan jawaban guru atau ayah. Terutama kepada ayah, saya terus bertanya hingga Ia lelah menjawab dan besoknya saya dibawa jalan-jalan ke ragunan. Dengan kunjungan ini, ayah saya mau menunjukkan perilaku binatang dan hakikat tanaman, agar saya bisa membandingkan dengan makhluk yang disebut "Manusia".



Klasifikasi homo sapiens dalam ordo primata

Seiring dengan pertumbuhan, orang tua dan guru di sekolah menanamkan makin banyak nilai ke dalam diri saya. Bahwa saya tidak boleh berbohong, saya harus mengasihi dan menolong sesama manusia, mencuri adalah tindakan yang berdosa, menjadi orang baik merupakan kewajiban sebagai bagian dari masyarakat, dsb. Praktis ketika saya kecil, ajaran tersebut memaksa saya untuk memandang fenomena secara hitam-putih. Dikotomi dosa-neraka, baik-buruk, benci-cinta, menjadi kacamata "anak baru tahu" dalam memandang realita. 

Terhitung 24 tahun saya hidup di dunia ini, tiba-tiba saya ingin bilang ke ayah atau guru TK dan SD saya kalau mereka cukup banyak 'berbohong' tentang definisi manusia, nilai-nilai kemanusiaan, ataupun keagamaan dan nilai kehidupan lainnya. Saya mau protes (bukan dalam artian yang buruk yah), karena waktu itu saya dibekali dengan kacamata hitam-putih untuk melihat realita yang 'abu-abu'. Seperti memakai kacama 2D untuk menonton film 3D, iya saya lihat gambarnya berlapis, tapi saya melihatnya dalam fragmen bukan dalam satu keutuhan (gambar yang timbul dan serasa hidup). Akibatnya saya harus terima kalau untuk beberapa saat pandangan saya sedikit kabur, tidak bisa melihat realita dengan jelas. Bahkan lebih parahnya lagi, dengan naifnya saya mencoba mencari kepastian di antara yang nisbi, memaksa melihat bentuk yang utuh padahal tidak jelas atau blur. 

Seiring bertambahnya umur, ikan yang membesar tentu tidak muat dalam kolam yang sama, dia berpindah-pindah kolam untuk mencari mana habitat yang cocok, mengevaluasi makanan apa yang tersedia dan tidak tersedia,  dan memastikan bisa bertahan hidup di dalamnya. Dari sekolah dasar, pindah ke sekolah menengah, lanjut ke sekolah menengah atas, masuk ke perguruan tinggi, nyemplung ke kantor, setiap orang pasti punya pengalamannya sendiri. Apalagi ketika si bayi akhirnya mengembangkan kemampuan membacanya kelak, dia akan melahap buku, majalah, atau sekarang aplikasi dan logaritma google. Kepala kita pun dijejali dengan berbagai pemahaman, ketidaktahuan, dan bahkan keraguan. Berbagai asam garam yang sudah ditelan akhirnya mempengaruhi 'rasa' bagaimana kita akhirnya memandang hidup itu sendiri. 

Jujur saja, apa yang saya yakini dari kecil pelan-pelan runtuh, dan bahkan tidak butuh pengalaman hidup belasan tahun untuk meruntuhkannya, cukup dengan menganalisis koran dalam satu hari. Bagaimana saya bisa percaya manusia itu makhluk dengan akal budi dan hati nurani jika saya membaca fakta bahwa ada jutaan manusia yang dituduh PKI dibantai di negara sendiri, dan bahkan saya curiga leluhur saya turut andil di dalamnya? Apa yang bisa tersisa dalam keyakinan saya kalau melihat betapa rakusnya manusia mengeksploitasi alam? Bisakah saya percaya bahwa mencuri adalah tindakan berdosa dan melanggar hukum, jika pada akhirnya hukum malah memenangkan para pencuri? Masih perlukah saya memegang teguh prinsip altruistik di tengah banyaknya orang yang egoistik? Hingga di penghujung perdebatan diri sendiri saya bertanya, naif kah saya jika terus meyakini nilai-nilai masa kecil tersebut.

Saya tentu tidak sendiri. Ada banyak orang yang kemudian sadar bahwa spektrum sebuah kebenaran, kebaikan, keburukan, atau kejahatan begitu luas. Bukannya sok non-positivis atau post modern, tapi toh kita mengalami dan melihat sendiri subyektifitas itu nyata adanya. Alih-alih menjadi seseorang yang terkesan relativis atau bahkan nihilis, saya mencoba membawa perdebatan 'remeh-temeh' tersebut ke dalam diskusi keseharian dengan beberapa teman. Biasanya dari obrolan ngalor ngidul, kita bisa menanamkan semangat dalam diri kita masing-masing. Semangat atas keyakinan bahwa nilai-nilai kemanusiaan harus terus dipertahankan. Kacamata moral biar saja dihibahkan ke orang lain, kacamata kemanusiaan terasa lebih nyaman dipakai. Untuk apa bingung surga dan neraka kalau ada kesempatan melakukan sesuatu untuk orang lain di depan mata? Why Bother?


Diambil dari Pigs in Maputo (klik untuk ukuran besarnya)

Sebenarnya, saya tidak perlu mengganti kacamata hitam putih secara keseluruhan, bisa saja saya memodifikasi lensanya agar saya bisa melihat gradasi warna di antaranya. Seperti palet warna di Photoshop, ada banyak kombinasi warna di antara CMYK 00000 (hitam) & CMYK FFFF (putih). Berbagai pengalaman dan cerita yang saya peroleh dari orang di sekitar saya, mau tidak mau kita harus melebarkan spektrumnya atau nanti kita yang capek sendiri dengan memaksakan kacamata hitam putihnya. 




Apa yang baik dan buruk?

Jika tidak pernah merasa perlu untuk mewarnai keyakinan Anda dengan gradasi, setidaknya Anda bisa melihat kehidupan orang-orang di luar lingkungan Anda. Kenyataan yang saya hadapi, saya bertemu banyak orang dalam hidup yang mengajarkan banyak hal, termasuk soal keyakinan saya selama ini.  Contohnya, sore ini saya bertemu beberapa orang yang harus diwawancara, dari mereka saya bisa melihat bagaimana kompleksnya identitas dalam mempengaruhi gradasi keyakinan tersebut. Ada seorang informan yang berasal dari pesantren Wahabi mengemukakan ide-idenya untuk menentang kekerasan berbasis agama, kebebasan berpikir, berpendapat, dan bahkan akhirnya giat dalam wadah hak asasi manusia -sesuatu yang tentu ditentang oleh keyakinan Wahabi. Ada juga seorang informan dari etnis minoritas yang sangat peduli dengan isu toleransi dan dialog antar beda suku atau agama. Padahal dia tahu betul etnisnya jadi korban dalam tragedi '98 di negeri ini. Hal tersebut tidak melunturkan keyakinannya akan bangsa Indonesia. Saya sangat salut dengan orang-orang yang bersedia melalui pergolakan internal untuk akhirnya menarik gradasi dalam hal-hal yang diyakini sebelumnya. Dengan mengetahui adanya orang-orang seperti ini, keyakinan saya kembali disulut semangat, kemanusiaan itu ada dan manusia memang berbeda dari organisme lainnya. Faith in humanity restored!

Bentrokan antara pengguna kacamata hitam putih dan kacamata gradasi memang tidak terelakkan. Ketika hal ini muncul, yang perlu dipahami adalah hakikat manusia sebagai salah satu jenis makhluk hidup. Karena dia punya akalbudi dan jika digunakan sebagaimana mestinya, pasti setidaknya memikirkan kemungkinan lain. Pernah ada seorang teman yang bilang ke saya "Ya kalau saya menjadi pribadi yang kritis, yang menentang apa yang dulu saya anggap benar, mencoba membuat perubahan, itu adalah konsekuensi karena saya dimasukkan ke sekolah, saya dibolehkan membaca. Kalau ingin saya terus penurut dan tidak mengkritisi hal tersebut, sebaiknya dari dulu saya dipasung saja sekalian". 

Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Baik keyakinan kita dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat tentunya terus bertransformasi. Bisa pilih untuk tetap yakin dengan kacamata hitam-putih; mencoba bermain di gradasi; atau mungkin ingin sejenak melepaskan kacamata untuk memejamkan mata dan tertidur :D 










Kamis, 01 November 2012

There is only one sun

This is a short movie by Wong Kar Wai.
 A tragic story with enchanted visual. 
WKW did it like his movie 2046. 





 There’s only one sun - but it travels the world everyday.
This sun is all mine and I won’t ever give it away.

I will share not an hour of warmth, not a beam of its light!
I’ll let cities perish in the constant, unchangeable night!

I will hold it up with my hands, till it ceases to turn!
I don’t care if my hands, lips and heart must get burned!

Let it vanish in darkness and rushing, I’ll follow its way…
My darling, my sunlight! I won’t ever give you away!

Maria Tsvetaeva
February, 1919


Jumat, 19 Oktober 2012


"Membawa manfaat atau naas, massa dan kebudayaan massa itu terus menyertai hidup hidup kita sehari-hari. Kalau Anda ingin lari dari semua ini, dan Anda menuju ke tempat sepi, di sana akan Anda temui massa. Semua menjinjing radio transistor, semua mengunyah cokelat, semua membuang kantong plastik, semua membaca cerita seks, semua menikmati gambar puteri Ayu"

Dikutip dari tulisan Prof. Sudjoko's di Jurnal PRISMA "Budaya Populer" 

Sabtu, 08 September 2012

Di Antara Hati dan Teknologi




Kenapa Ada Yang Baru? Karena Yang Lama Sudah Tidak Berfungsi Lagi 


Pernahkah Anda mengganti ponsel lama Anda dengan ponsel yang baru? Atas alasan apa Anda menggantinya? Pertama, ponsel Anda rusak karena satu dan lain hal ditambah dengan garansi yang sudah tidak berlaku lagi. Kedua, Anda bosan atau ingin saja update model demi modal pergaulan. Ketiga, Anda merasa teknologi atau kapasitas ponsel lama Anda terbatas dan mentok untuk menjawab kebutuhan Anda akan teknologi dalam keseharian. Atau mungkin alasan yang paling tidak penting, yaitu tentu Anda punya banyak uang dan membeli ponsel baru adalah satu upaya untuk mendistribusikan uang Anda. 

 Lain cerita jika Anda memiliki ponsel kesayangan yang sudah menemani Anda bertahun-tahun lamanya. Melewati berbagai fase jatuh-bangun Anda, dari bangun tidur sampai penghujung hari. Ponsel ini setia di samping Anda jika sedang dibutuhkan, ia selalu tepat guna dan tepat daya. Memang terkadang ponsel Anda suka ngadat dan jika sedang tidak punya mood yang cukup baik, mungkin saja Anda membantingnya. Tapi dedikasi ponsel ini begitu hebat sehingga Anda bisa hilang kendali jika ponselnya tertinggal sehari saja. Selain fungsi menelpon atau mengirim pesan, ponsel Anda menyimpan begitu banyak memori. Mulai dari nomor telepon teman SD sampai foto-foto momen terbaik Anda beserta data lainnya. Anda tidak pernah membayangkan apa yang yang terjadi jika ponsel Anda hilang atau dicuri orang. Yang Anda tahu, ponsel ini harus ada setiap saat dan setiap waktu. 

Mungkin saat Anda membeli ponsel kesayangan, teknologinya sedang canggih-canggihnya. Fiturnya bisa memenuhi kebutuhan Anda pada saat itu dan ketahanannya bisa menandingi sepatu converse yang tak kunjung bolong itu. Saat-saat awal Anda memiliki ponsel tersebut, Anda begitu asyik mengulik sana-sini, apa yang tersaji di dalamnya terasa seru dan tidak bisa ditebak. Namun seiring berjalannya waktu, Anda sudah menguasai semua fiturnya, Anda sudah mengulik semua tips and triknya, seolah tidak tampak seseru dulu. Sempat terpikir dan tergoda dengan puluhan tipe baru atau merk lain yang keluar tiap tahunnya, tapi rasanya ada "ikatan emosional" atau romantisme bersama yang sanggup mengalahkan segalanya, termasuk godaan fitur yang lebih baik. 

Dari waktu ke waktu, ponsel Anda kondisinya tidak lagi sehandal sebelumnya. Dunia berubah, lingkungan Anda bertranformasi, orang-orang di sekitar Anda silih berganti, sampai pada saatnya serangkaian alasan terlihat jelas. Ponsel kesayangan baterainya sudah bocor, casing-nya sudah lapuk, fiturnya? jangan ditanya… pasti ketinggalan jaman. Kemampuannya sudah tidak lagi bisa di-upgrade ke tahap selanjutnya, sehingga semuanya menjadi terbatas di dalam ponsel ini. Sempat Anda meyakinkan diri Anda bahwa Anda tidak butuh kemajuan teknologi, Anda juga berpikir kalau ponsel kesayangan sudah cukup. Tapi teknologi tidak bisa berbohong. Anda tentu tidak bisa ngotot tetap transfer file dengan disket jika perangkatnya sudah sulit dicari dan orang-orang menggunakan cakram padat. Anda juga tidak bisa ngotot kirim pesan sms bergambar jika sekarang sudah ada Whatsapp yang bisa langsung mengirim foto dari ponsel Anda. Sekilas sepertinya Anda bisa hidup hanya dengan ponsel kesayangan Anda, padahal, Anda bisa melakukan banyak hal lain yang tidak pernah Anda bayangkan, jika Anda kemudian mengganti ponsel. 

Ketika ponsel kesayangan kemudian dirasa terpaksa mengikuti arus hidup dan perubahan di sekeliling Anda, bisa jadi benda ini sudah tidak menjawab kemampuan Anda. Bahkan, jika tiba saatnya ponsel ini rusak dan tidak bisa menemani Anda lagi, tibalah waktunya bagi Anda untuk menentukan pilihan. Anda bisa saja keliling ITC untuk servis ponsel tersebut, tapi biayanya bisa mahal dan menguras energi Anda. Sampai pada saatnya Anda merasa bahwa, saatnya Anda meninggalkan ponsel kesayangan. Dengan berat hati, Anda harus berhenti, tidak bisa lagi menggunakannya. 

Kemudian muncul opsi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, beralih ke ponsel baru. Dengan teknologi terkini yang lebih canggih dan beragam aplikasi seru, Anda tentu bisa melakukan banyak hal dengan ponsel ini. Memang Anda harus beradaptasi untuk terbiasa dengan interface atau bentuknya. Yang tadinya keypad, sekarang jadi layar sentuh. Peralihan tersebut memang tidak mudah. Anda bisa sering typo saat mengetik pesan, atau melakukan beberapa kesalahan karena belum terbiasa dengan fiturnya. Jangan sedih, hal ini biasa. Saat-saat seperti ini pasti harus dilewati asalkan ponsel Anda berfungsi dengan baik dan siaga menopang kebutuhan hidup Anda sehari-hari. Ponsel baru perlahan akan menggantikan posisi ponsel kesayangan sebelumnya dan Anda juga bisa kembali mengisinya dengan memori-memori yang akan dilewati. 



Kenapa saya membuat tulisan ini? 
Terkadang kita merasa enggan beralih dengan yang baru dan sering terjebak dengan ikatan emosional yang sebenarnya dipaksakan. Mungkin saja yang kita miliki memang sudah tidak berfungsi lagi, mungkin saja kapasitasnya tidak lagi mampu menampung diri kita yang terus berkembang dari hari ke hari. Sedangkan ada pilihan baru yang mungkin bisa lebih menjawab kebutuhan Anda dan bisa menunjang Anda untuk melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak bisa dilakukan. Romantisme terkadang menghambat kita untuk melihat kenyataan di depan mata, padahal apa yang ada di sekitar kita semuanya serba sementara. 
Maafkan saya jika tulisan ini terkesan menyederhanakan hal yang rumit, atau bahkan mereduksi sebuah siklus dalam hidup ke dalam siklus gonta-ganti ponsel semacam ini. Tapi apa yang kita lewati selama ini sebagai peradaban manusia telah menjadi landasan bagi perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi memang memiliki dampak negatif (yang menurut saya hal ini bersifat nisbi), tapi hal tersebut tentu didorong oleh kebutuhan manusia dan dinamika alam raya ini. Hal baik yang selalu saya petik dalam teknologi adalah visi teknologi itu sendiri. Teknologi menatap ke masa depan tanpa mengabaikan masa lalu (karena kesalahan di masa lalu ada untuk diperbaiki) dan seperti layaknya sikap manusia terhadap teknologi, ada yang pro dan kontra. Hal ini wajar saja, semua punya pilihan.  Asal semuanya dijalani tanpa paksaan dan kita tetap merdeka sebagai manusia- tentu hal ini terbuka untuk diperdebatkan. 





Kamis, 23 Agustus 2012

BLUR: No Distance Left To Run


Lebih dari Sekedar Teman Nge-Band




Ada banyak DVD dokumenter band yang beredar di dunia ini, legendaris atau tidaknya tergantung bagaimana Anda memandang band tersebut. Ada dokumenter yang tragis, menginspirasi, ataupun yang penuh haru berkat cerita yang dijadikan angle dalam film tersebut. Sejumlah band yang mengeluarkan dokumenter biasanya memang punya fans fanatik yang setia pada musik dan gaya hidup band tersebut. Bisa berkisah tentang perjalanan dari panggung ke panggung atau bahkan spesifik mengangkat satu cerita yang paling menonjol dari band. Yang jelas dari dokumenter sebuah band kita serasa sedang melihat para personilnya curhat dengan meminjam bingkai kacamata si sutradara film, entah dalam bentuk wawancara langsung atau bahasa visual diiringi lagu karya band itu sendiri. Dari sekian sedikit dokumenter band yang pernah saya tonton sejauh ini, dvd BLUR: No Distance Left To Run merupakan film paling berkesan bagi saya. Pandangan yang subyektif ini tentu berlandaskan kecintaan saya pribadi terhadap mereka, atau lebih tepatnya band-band satu generasi dengan Blur. Lebih dari itu, dokumenter ini menceritakan perjalanan naik-turun, lepas-terikat, jauh-dekat sebuah persahabatan yang diiringi puluhan lagu keren hasil 'jamming' mereka. 






Namun harus diakui bahwa kehadiran Blur dalam industri musik Inggris, ataupun dunia, memberi dorongan pada sebuah gelombang yang lebih besar, yang selama ini kita kenal dengan istilah 'Britpop'. Meskipun Blur bukan satu-satunya pendekar dalam ilmu persilatan ini, band ini punya lirik-lirik lagu penanda sebuah generasi pasca-Thatcher. Band ini juga terbentuk bukan hanya dari pertemenan kuliahan semata, tetapi juga persahabatan yang dimulai sejak kecil. Mereka pernah merajai tangga lagu Inggris, beberapa kali jadi Artist of The Month MTV, bersaing dengan band satu angkatan 'OASIS', hingga akhirnya ditinggalkan satu personil handalnya Graham Coxon. Seluruh latar belakang tersebut lebih dari cukup untuk membungkus dokumenter ini. 

Yang menarik dari kisah drama bumbu britpop-nya BLUR adalah akhir kisah mereka hingga detik ini. Jika ada banyak band yang ditinggal personilnya berakhir dengan bubar, punya band berformasi baru atau bahkan bikin band baru, BLUR punya dasar yang lebih kuat dibandingkan harus bubar selama-lamanya. Di tahun 2000 setelah album "13" menguasai tangga lagu di mana-mana dengan single Song 2, Coffee & TV, dan Tender, Graham Coxon keluar dari band untuk kemudian memproduksi album solo. Keluarnya Graham Coxon yang dianggap sangat berpengaruh dalam musikalitas Blur membuat semua personil kecewa, walaupun di satu sisi membuat media berbahagia punya bahan cerita. TIdak ada yang tahu pasti (baik media ataupun para fans) apa penyebab perpecahan ini. Yang ada hanya berita media menjadikan kisah ini drama dalam panggung musik anak muda pada zamannya. Seperti yang saya bahas sebelumnya, dokumenter ini memberi kesempatan masing-masing personil untuk curhat dan memaparkan apa yang sebenarnya terjadi dan mereka rasakan di saat ambang kehancuran tersebut. 

Dokumenter ini direkam sejak tahun 2008, saat pertama kali BLUR mengumumkan bahwa mereka akan kembali ke panggung dengan formasi seperti sedia kala di konser Hyde Park London Juli 2009. Berita ini menggemparkan dunia musik Inggris mengingat kisah mereka berakhir setelah perginya Graham Coxon dan album Think Tank yang dianggap 'berbeda' dari musikalitas BLUR. Film dimulai dengan sesi awal mereka kembali lagi ke dalam studio. Mereka memulai band dengan badan kurus dan rambut belah samping, kini mereka berkumpul lagi di studio dengan perut buncit dan sedikit keriput. Adegan bercanda antara Damon dan Graham menjadi bahasa visual yang menjawab rasa penasaran. Lewat latihan-latihan band ini mereka terlihat tidak terlalu bermasalah dengan yang namanya 'chemistry' setelah 7 tahun berpisah. Satu pernyataan Damon yang berkata  "Kami semua adalah anak laki-laki yang tidak punya saudara laki-laki dalam keluarga, jadi BLUR seperti sebuah persaudaraan laki-laki (broterhood) dalam arti nyata".

Berangkat dari nostalgia masa kecil Damon dan Graham, film ini menjembatani kisah kilas balik dengan alur yang rapih tapi tidak membosankan. Tur-tur reuni mereka di panggung-panggung awal seperti Goldsmith Student Union dan Colchester membuat cerita kenangan mereka lebih kontekstual. Wawancara dengan masing-masing personil juga mampu menyingkap pemikiran dan tujuan mendasar dari BLUR itu sendiri. Sebagai sebuah band yang dibaptis menjadi pionir Britpop, ternyata Graham Coxon dan personil lainnya tidak pernah mencetuskan istilah tersebut. Di satu sisi, Damon mengakui bahwa semangat "nasionalisme"-nya menanggapi serbuan budaya populer Amerika ke Inggris, menjadi ambisi tersendiri untuk 'menguasai' dunia musik Inggris. Perjalanan BLUR dari scene indie hingga meraih penghargaan Brit Awards memberikan gambaran bagaimana tekanan industri dan popularitas berdampak pada salah satu personil mereka, Graham Coxon. Mungkin BLUR adalah satu dari banyak band yang tidak menduga mereka akan berada dalam titik puncak yang kental dengan gosip media dan motivasi komersil. Seperti yang dikemukakan oleh Graham Coxon dalam wawancara, apa yang mereka capai di album 13 bukanlah sesuatu yang Ia bayangkan dan idamkan sebelumnya. 

Dalam fase vakum mereka, masing-masing personil menjalani kehidupan dan proyekannya masing-masing. Banyak hal lucu yang diceritakan oleh para personil tentang fase ini, seperti bagaimana Graham Coxon berusaha untuk menghindar dari Damon ketika melihatnya di kebun binatang di London. Fans adalah alasan paling kuat bagi sebuah band bertahan atau berkumpul lagi. Sensasi ribuan orang bernyanyi bersama dan mengelu-elukan BLUR menjadi hal yang paling dirindukan oleh semua personil. Dokumenter ini memaparkan dengan jelas saat-saat mereka masih muda dan berbahaya bermusik tanpa beban, mencapai puncak dan menikmati kesuksesan, berselisih cara pandang hingga kemudian pecah, masa-masa refleksi masing-masing personil saat vakum, hingga reuni kembali untuk saling memaafkan dan berkarya dengan konteks saat ini. 

Dokumenter BLUR tidak bertele-tele sehingga durasinya cukup dan tidak membosankan (98 menit). Diselingi dengan aksi-aksi pangung serta bumbu kisah cinta Fairy Britpop Tale Damon Albarn dan Justine  Frischman, film ini seru. Melihat betapa sebuah persahabatan menjadi dasar yang paling penting dan bermakna dalam sebuah band, bukan band dengan masing-masing personil yang butuh nge-band. BLUR adalah sekumpulan laki-laki seperti saudara sendiri yang butuh persahabatan untuk nge-band. Dengarkan saat mereka manggung memainkan Tender, simak ketika semua penonton saling bersautan menyanyikan part "oh my baby, oh my, oh my". Momen yang bisa membuat semua personil BLUR terharu dan dijamin membuat penonton filmnya merinding. 





Senin, 20 Agustus 2012

Ada Sastra dalam Keluarga




Catatan untuk Kakek Oes


Sekitar dua minggu yang lalu, ada kabar duka yang hadir di tengah keluarga pada bulan puasa. Saudara dari keluarga besar papa ada yang meninggal. Beliau adalah Kakek Oes, suami dari Mama Ena, saudara dari papa yang pernah merawat papa waktu kecil. Saya memang bukan tipikal 'Family Woman', saya termasuk jarang tampil dalam acara dan kunjungan keluarga. Saya secara pribadi tidak mengenal dekat Kakek Oes meskipun keluarga saya sering berkunjung ke rumahnya. Saya lebih mengenal anaknya Kak Keny misalnya atau Mama Ena. Ditambah dengan faktor kesehatan Kakek Oes yang sudah tidak sebaik dulu. Kakek Oes memang sudah lama sakit karena usia dan komplikasi penyakitnya semakin memburuk dari waktu ke waktu. 

Lepas dari dekat atau tidaknya relasi saya dengan Kakek Oes, saya selalu senang mengunjungi rumah beliau sekeluarga di daerah Sawangan. Karena di sana ada rak-rak buku yang menjadi perpustakaan Kakek Oes. Isi raknya sudah lama membuat saya jatuh cinta. Pertama kali membaca biografi Tan Malaka karya Poeze adalah pengalaman menakjubkan hasil dari koleksi buku Kakek Oes. Setiap ke rumahnya saya pasti 'ngejogrog' di depan rak, mengorek-ngorek susunan buku, melihat judulnya, mencari buku sampai tulang leher pegal, kemudian kalau ada yang menarik langsung saya baca di tempat. Saya pernah bertanya ke papa, apa profesi Kakek Oes sebelumnya dan papa hanya menjawab bahwa beliau adalah seorang wartawan senior. Jawaban yang memang menjawab pertanyaan saya kenapa koleksi bukunya sekeren itu, tapi sebenarnya jawabannya terlalu singkat dan masih menyisakan rasa penasaran. 

Sore tadi saya sekeluarga berkunjung ke rumah Sawangan dengan niat silaturahmi lebaran. Mengingat sepeninggal Kakek Oes tentu rumah Sawangan jadi lebih sepi, keluarga saya berniat menemani istri dan anak-anaknya di hari lebaran. Mengulang kebiasaan saya sebelumnya, setelah berbincang-bincang, saya langsung nangkring di depan rak. Kal ini saya lebih 'berani' dalam mengambil buku-buku, dengan harapan siapa tahu saya bisa mendapat hibah. Ternyata Mama Ena langsung menawarkan ke saya untuk membawa buku yang saya suka. Praktis begitu lampu hijau dinyatakan oleh Mama Ena, saya kalap untuk ambil buku ini dan itu. Kemudian saya perlihatkan buku-buku yang ingin saya bawa pulang. Mama Ena langsung mengambil buku "Angkatan 66" kompilasi buatan HB Jassin yang berisi pusi dan prosa penanda zaman tersebut. Mama Ena langsung bilang kalau di dalam buku ini puisi-puisi karya kakek Oes dimuat. Saya langsung terkejut. "Hah??? Ada sastrawan di keluarga ini dan gue baru tahu??? Dosa besar lo fra!"






Kita langsung cari di daftar isi nama Kakek Oes (saya baru tahu nama lengkap dan nama pena beliau) yang tertera di situ adalah "Indonesia O'Galelano". Saya langsung membaca puisi-puisi beliau yang khas Angkatan '66. Ternyata Kakek saya seangkatan Ramadhan K.H. AA Navis and the gank. ckckckck… Angkatan pasca 45 ini adalah para sastrawan yang meramaikan masa kejayaan majalah Horison dan majalah-majalah kebudayaan lainnya. Ciri khasnya biasanya temanya berlandaskan pancasila dan pada waktu itu diidentikkan dengan Geng Manikebu (Manifes Kebudayaan) yang sering dipertentangkan dengan Geng Lekra. Kalau melihat lagi latar belakang Kakek Oes yang memang serumpun dengan Kakek saya, beliau adalah muslim yang aktif berorganisasi dan memunculkan unsur-unsur islami dan ketuhanan dalam karyanya. Kakek Oes dulu pengurus Badan Musyawarah Islam dan Pusat Himpunan Seni-Budaya Islam. Beliau juga pernah menjadi wartawan harian Pelita. Wajar kalau beliau dekat dikelompokkan dalam angkatan '66, yang memang cenderung menentang ide-ide komunisme yang diusung Lekra. 

Puisi-puisi karya Kakek Oes rata-rata cukup panjang dan temanya biasanya seputar tanah kelahirannya kepulauan Halmahera, Islam atau Tuhan, dan percintaan. Berikut untuk mengenang Kakek Oes dengan nama pena Indonesia O'Galelano, saya sertakan puisi beliau yang jadi favorit saya. Saya akan mengabadikan nama beliau yang makin tergerus dengan sistem pendidikan Indonesia yang kurang menghargai apresiasi sastra ini dengan berbagai cara. Semoga Kakek Oes damai di sisi-Nya…


Diambil dari http://www.puisi.web.id/index/6/0/0/211
Berceritalah Padaku, Ya Malam 
oleh: Indonesia O'Galelano 

Berceritalah padaku, ya malam
bisikkan sedanmu dalam tingkah gerimismu.
Kunantikan di sini, daku setia menunggumu,
hingga kutahu rahsia wajahmu yang kelam.
Menangislah padaku sampai langkahmu jauh melarut.
Mengaduhlah padaku bersama angin surut ke laut.

Rinduku padamu tumpas dalam relung sunyi ronggamu.
Rinduku padamu adalah cinta menjulang langit kelabu.
Kekelaman apakah yang kan kausampaikan,
rahsia siapa yang lama sembunyi kausimpan.
Terasa dukakulah yang sarat kaukandung,
sebab sunyi heningmulah yang lena kusanjung.

Malam yang kekal berahsia,
bukankah padaku segala mimpi.
Malam yang larut oleh derita,
menghampirlah padaku tanpa gelisah sangsi.
Mengapa gelisahmu menyiksa cengkerik dan unggas,
mengapa lagumu tersendat dalam kehendak bebas.

Tak kutahu kapan angin yang lewat kan menengokku
dalam perjalanan singkat menyiulkan lagu sedih.
Adakah bintang—bintang yang berkelipan tahu
akan nasib dunia yang dingin dan tua.
Sekarang kudengar ciap kecil anak—anak burung,
di sini berkisah bumi dan bulan dalam khayal agung,

Berceritalah padaku, ya malam, berceritalah.
Datanglah padaku, bisikkan sebuah kisah
tentang cinta yang kan kusimpan sebelum tidur,
tentang manusia yang lelap dalam mimpi semakin kabur.

Adakah kediamanmu sungguh dalam sepi dan duka,
Adakah mam dan kakimu perkasa sepanjang masa.
Ya, malam yang anggun,
rahasiamu diam sepanjang tahun!


Jumat, 17 Agustus 2012

#GIRLSCAMP vol.1 : Gunung Padang




Gadis Kota Menuju Surga Megalitikum


Pintu masuk situs Gunung Padang








Trangia Beraksi







Batu Berbunyi 




Suatu hari di tengah sebuah pelatihan ada seorang teman yang memberi tahu tentang Gunung Padang, sebuah bukit yang menjadi lokasi punden berundak dari era megalitikum. Letaknya di atas pegunungan dan di puncaknya berserakan batu-batu besar dengan susunan teratur dan acak. Kemudian Ia mengajak saya untuk pergi ke sana. Kami berdua memang terpesona dengan foto-foto di Google yang menggambarkan situs megalitikum ini. Tapi katanya, kalau mau bermalam di sana harus berkemah atau membawa tenda. Berkemah? Di Situs megalitikum? Kita berdua langsung antusias membayangkan berada dalam kemah di puncak Gunung Padang lalu diculik oleh Alien yang turun dari UFO. Sebuah pelarian yang tak akan sia-sia pastinya.

Beberapa hari kemudian, saya menawarkan ide kemah di Gunung Padang ini ke seorang teman lama, dan tanpa perlu basa-basi, dia pun antusias. Bahkan waktu yang dijadwalkan setelah lebaran, dipercepat menjadi sebelum lebaran. Langsung saja saya mengirim pesan ke beberapa peserta potensial, dan kemudian teman saya juga memberi tahu beberapa teman lainnya. Setelah akhirnya terkumpul orang-orang yang sudah konfirmasi bisa ikut dalam misi ini, kami baru sadar, bahwa ternyata kita adalah enam perempuan yang amatiran dalam hal kegiatan pecinta alam, dan tentunya jadwal padat a la pekerja kota. Sempat ragu dan mencoba untuk mengukur kemampuan kita semua untuk mewujudkan misi. Tapi kita semua yakin, niat untuk menjawab tantangan ini lebih besar dari komitmen untuk masuk kantor. Alhasil, setelah seorang teman pinjam peralatan kemah, dan yang lainnya sibuk cari sleeping bag, cewek-cewek nekat berangkat ke Gunung Padang dengan mobil rental.

Meskipun awalnya tidak semua peserta misi ini saling kenal, tujuan yang sama dengan cepat mencairkan kita. Waktu perjalanan malam yang dipilih dengan pertimbangan agar tidak bolos kerja lebih banyak dan memanfaatkan sepinya jalan, menjadi tantangan seru. Karena tak satupun dari rombongan pernah ke lokasi, kita hanya bersandar pada ponsel pintar masing-masing dan berpatokan pada sebuah blog yang membahas jalan menuju Gunung Padang: http://cumilebay.blogspot.com. Lewat jalan raya Puncak sampai ke perempatan paling ramai di Cianjur, kita ambil jalan belok kanan ke arah Supermall Cianjur. Lurus terus sampai nanti ada gedung DPRD Cianjur, lurus lagi nanti akan melewati Pasar Warung Kondang. Setelah bertanya dengan ojek, dari pasar ini kita lurus terus, nanti di sebelah kanan akan ada plang Situs Megalitikum dan SMK 1 Cikancana. Masuk ke jalan ini, lurus terus, ikuti jalan dan kata hati. Dan akhirnya kita sampai dengan selamat tapi disambut dengan suara jangkrik. Lama perjalanan yang kita tempuh sekitar 3 jam terihitung dari tol Cibubur. Karena waktu menunjukkan pukul 3.35 dini hari kita tidak menemukan siapapun untuk ditanya (ya iyalah kalaupun ada kita ragu itu manusia). Jadi kita putuskan menunggu sampai terang dan penduduk sekitar terbangun. 

Ketika matahari sudah terbit, kita langsung ngobrol dengan petugas yang bertanggung jawab untuk bertanya kita bisa kemah di atas gunung atau tidak. Awalnya si Abah merekomendasikan kita untuk kemah di bawah dekat kita parkir mobil (yang bener aja kan udah niat mau camping) atau menginap di rumah dia. Gambaran yang dia berikan seolah tidak mungkin kemah di atas. Yang mencurigakan, dia langsung membicarakan soal pungutan biaya, dari mulai tiket masuk situs sampai biaya lainnya. Berhubung tekad kita sudah bulat untuk kemah di dekat situs, kita cuek dan tetap membawa perlengkapan untuk dibawa naik ke atas gunung. 

Ada dua pilihan jalan naik, yang satu curam tapi lebih cepat, satu lagi terdiri dari banyak tangga tapi tentunya lebih ringan dibanding jalur lainnya. Kita pilih jalan termudah bukan yang tercepat, untuk naik ke atas memakan waktu sekitar 30 menit, termasuk waktu istirahat sebentar karena ngos-ngosan. Perlahan tapi pasti, kita menuju puncak tempat punden berundak. Hamparan batu-batu besar dari peradaban megalitikum yang diduga dibangun 10.900 sebelum masehi. Wow…! Jujur saja ketika baru sampai, saya sempat merasa ada di lain dunia selama beberapa detik. Batu-batunya tersusun tapi terlihat berantakan. Tapi saya sangat terkesan dengan posisi punden berundak di atas gunung yang masih terlihat susunan bangunannya. Bayangkan, apa yang terjadi di sini 109 abad lalu??? Siapapun yang membangun situs ini, pasti peradabannya maju karena lokasinya tentu sulit dan berdasarkan keterangan di http://indocropcircles.wordpress.com/2012/06/01/wow-situs-gunung-padang-cianjur-berusia-109-abad-sebelum-masehi/ hasil pengeboran menunjukkan ada lapisan untuk meredam guncangan gempa. Bisa jadi batu-batu yang jadi pondasi dan lapisan lain (seperti borobudur) tertimbun oleh tanah jadi baru puncaknya yang terlihat jelas bentuknya, Mengingat Indonesia adalah pusat kebudayaan megalitikum Austronesia, ada banyak temuan serupa piramid yang dikenal dengan punden berundak. 

Setelah puas berkeliling untuk melihat seluruh bangunan di puncak, kita mencari tempat yang sekiranya layak untuk mendirikan tenda. Bertolak belakang dengan Abah, penjaga di situs justru menganjurkan tempat untuk mendirikan tenda, di dekat situs. Karena situs jadi obyek wisata, kita baru boleh mendirikan tenda di sore hari. Sambil menunggu sore, karena kelaparan dan ingin mencoba trangia, perangkat masak ajaib yang biasa digunakan 'Anak Gunung'. Selama kemah, trangia adalah penyelamat. Alat ini berhasil digunakan dengan bahan bakar spirtus (apinya dipancing dari kertas yang dibakar) dan kita gunakan untuk memasak beraneka macam makanan. Mie instan jadi uji coba pertama yang berhasil dan selanjutnya ovaltine panas juga mengisi perut para gadis kota ini. 

Untuk tempat buang air dan sumber air, bisa diakses di sekitar situs, butuh 10-15 menit untuk ke sumber air dekat sawah. Kita harus turun ke bawah dan sedikit curam medannya. Yang jelas kita hanya bisa buang air dan ke tempat ini sebelum gelap, karena lebih berisiko untuk ditempuh malam. Sambil beristirahat, kita sempat melihat lebih dekat bebatuan yang ada di sini. Bentuknya kebanyakan persegi dan ukurannya sama, yah… menurut saya seperti Lego tapi ini materinya batu. Yah mungkin ini Lego before it was cool.

Di Gunung Padang, dimensi waktu sepertinya sehari 35 jam, terasa lambat dan warga kota seperti kami perlu menyesuaikan diri. Bagi yang ingin melarikan diri dari rutinitas serba kilat, tempat ini bisa jadi pembanding rutinitas. Karena belum tidur semalaman, kita gelar sleeping bag untuk tiduran di atas rumput dan bermandikan sinar matahari dengan angin-angin sepoi. Walaupun kita merasa sudah tidur begitu lama, waktu di jam tangan sepertinya tidak jauh beda dengan sebelum kita tidur. Bangun tidur kita berkeliling lagi untuk mengambil gambar dan melihat-lihat batu dari dekat. Beberapa batu bahkan bisa mengeluarkan suara seperti gamelan. Cukup dipukul-pukul dengan tangan, suaranya bisa langsung terdengar. Mungkin kalau Bjork ada kesempatan ke Gunung Padang, batunya akan dibawa untuk instrumen di album selanjutnya. 

Di puncak punden berundak ini, kita bisa melihat matahari tenggelam, pemandangan yang sangat bagus. Menikmati pemandangan sambil duduk-duduk di sekitar situs atau bersandar di antara 'lego-lego' megalitikum sambil melamun dan membayangkan kehidupan di sini pada masanya. Karena sudah hampir gelap, kita manfaatkan waktu untuk buang air di bawah gunung dan membangun tenda. Ternyata meskipun newbie, proses memasang tenda tidak terlalu rumit. Menyambut maghrib, sudah waktunya mengisi perut lagi, lalu kita masak lagi dengan Trangia ajaib.  Semakin malam, penerangan hanya muncul dari senter yang kita bawa. Berhubung petromaks gagal dinyalakan karena gasnya kurang pas ukurannya. Sebenarnya ada listrik dan lampu di atas, tapi sepertinya tidak berfungsi maksimal, kita hanya sempat charge ponsel di sini sebentar. Lumayan untuk update status...

Dalam satu tenda, kita tidur berenam dengan posisi berjajar rapi seperti sate yang sedang dibakar. 
Bukannya menderita, kita justru diuntungkan dengan posisi yang mepet, udara dingin di atas jam 9 malam tidak terlalu terasa. Ketika tidak ada cahaya, kita bisa melihat bintang-bintang dan bulan dari puncak gunung padang dengan jelas. Rasanya sayang untuk terus tidur, jadi kita kembali menyalakan Trangia untuk menghangatkan badan dan tentunya mengisi perut lagi.Sebelum nanti kita turun dan pulang ke Jakarta. Setelah bikin telur ceplok 7 buah, kita membereskan semua perlengkapan. Jam 2 pagi kita turun gunung dengan senter dan beban yang lebih ringan (karena logistik sudah habis). Ternyata jalan pulang memang lebih cepat dan kita bisa sampai parkiran dalam waktu 15 menit. Mengejar waktu pagi sampai Jakarta, kita bergegas untuk jalan pulang. 

Tadinya kita pikir, karena sekumpulan amatir, perjalanan ini tidak akan terwujud sebagaimana seharusnya. Pada akhirnya, semuanya berjalan lancar. Keraguan enam gadis kota yang nggak pernah camping dan nggak ditemenin cowok bisa kita patahkan. Walaupun emang selebor semua orangnya, tapi perjalanan berangkat dan pulang berlangsung aman. Kuncinya emang harus nekat kali yah… 



Ke Gunung Padang

Lama perjalanan: Kurang lebih 3 jam
Jalur : Tol Jogorawi - Puncak - Cianjur- Pasar Warung Kondang- Cikancana- Gunung Padang
Perlengkapan : Tenda (kalau mau menginap), Makanan, sleeping bag, trangia (portable stove), Petomaks (kalau sampai malam), Senter, Air minum/air bersih, Autan, tisu basah, Sepatu yang tahan medan apapun, Spirtus, korek api.

Biaya         : total ber-6 untuk sewa mobil, bensin, dan logistik masing-masing patungan Rp 165.000




 
design by suckmylolly.com