Minggu, 20 Juli 2008

Let's talk about Feminism



Mungkin bisa dibilang ini suatu kebetulan, mungkin juga tidak. Beberapa hari dalam minggu saya ini diisi dengan isu feminisme. Dimulai dengan membaca blog seorang teman yang mendapatkan verbal abuse karena dianggap feminis, percakapan dengan seorang teman pria yang menolak perempuan yang lebih dari dia, hingga himbauan orang tua sendiri bahwa feminisme itu melawan kodrat dan alquran. Saya bingung, ketiga orang yang saya sebutkan diatas (termasuk yang melakukan verbal abuse pd teman saya) adalah orang-orang yang saya 'kira' berpikiran terbuka dan terbebaskan. Tapi ternyata memang benar kata para feminis, perjuangan masih sangat panjang dan begitu sulit.

Peristiwa-peristiwa tersebut menimbulkan berbagai pertanyaan di benak saya dan yang utama adalah "Salahkah menjadi seorang feminis?". Bukan hanya kaum pria yang 'seram' dengan kata feminisme, perempuan pun masih banyak yang enggan disebut feminis walaupun mereka sudah memperjuangkan hak perempuan. "Se'seram' itukah para feminis dengan paham feminismenya?" oke,,, kalau memang seram, Di mana letak ke'seram'annya? Anda jawab saja di dalam hati.

Penganut budaya timur menganggap feminisme itu budaya barat dan bagi yang di 'timur' barat itu buruk. Kaum yang berada di sisi 'kanan' menilai bahwa feminisme itu 'kiri' dan bagi yang berada di jalur kanan (emangnya tol?), kiri itu membahayakan. Phiuh...gimana klo kita ganti jadi kanan kiri oke?hehehe emangnya film warkop! Feminisme mendapatkan cap 'segitunya' mulai dari melawan kodrat perempuan hingga memperjuangkan apa yang seharusnya 'tidak' diperjuangkan. Katanya perempuan itu sudah punya peran dan penempatannya sendiri jadi tidak perlu ia merebut peran atau tempat laki-laki.

Phiuhh... saya banyak menghela nafas karena perasaan di dalam diri saya seperti perih sendiri jika mendengar cap-cap itu. Banyak kenalan saya yang melabeli saya feminis, terlebih sejak saya bergabung dalam jurnal perempuan. Lalu bagaimana menurut saya sendiri? Apakah saya juga malu mengakui bahwa saya feminis? Begini... saya adalah seseorang yang tidak sanggup melihat berbagai bentuk penindasan karena itu saya mau berjuang sepenuhnya untuk melawannya. Saya sangat menghormati hak-hak asasi manusia, saya juga yakin bahwa tidak ada yang berbeda dari kita semua yang berada dalam kategori "Manusia". Tampilan fisik dan hal-hal biologis itu bukan alasan untuk menindas seseorang baik dalam jenis kelamin atau warna kulit. Saya punya mimpi dunia itu damai dan semua bisa saling menghargai. Bicara soal peran perempuan atau laki-laki, buat saya itu hal yang sangat bisa di-switch. Oke peran ibu? banyak ayah single parents yang bisa menjalani peran itu. Melahirkan itu proses tapi bukan pelimpahan tanggung jawab karena melahirkan itu proses output yang didahului input bersama jadi tanggung jawabnya juga bersama. Tidak selamanya laki-laki bisa bertahan dalam peran yang sama begitu juga sebaliknya maka saya menyimpulkan hal ini bisa dinegosiasikan lagi. Sebenarnya simpel, saya sebagai perempuan tidak ingin dianggap tidak mampu, tidak boleh, dan tidak2 lainnya hanya karena saya 'perempuan'. It doesn't make any sense to me. kenapa kita tidak saling bekerja sama dan bergandengan tangan untuk mencapai dunia yang lebih baik. Utopiskah itu? saya yakin tidak. biar saja banyak yang menganggap utopis toh saya juga tahu banyak juga yang tidak menganggap ini utopis.

berdasarkan kamus Oxford feminsme atau feminism itu

"the advocacy of women's rights on the grounds of political, social, and economic equality to men."

ada kata equal di situ jadi ini kedudukan yang seimbang bukan siapa yang di atas, vice versa. Banyak yang bilang keseimbangan itu tidak mungkin ada atau bisa. Bagaimana kalau bukan keseimbangan tapi proses untuk mencapai keseimbangan yang dihargai itulah yang mungkin dan pasti bisa. Saya tidak mau sok-sok ngaku feminis toh label itu datangnya dari orang luar dan saya tidak pernah takut atau malu menjadi seorang feminis. Saya bangga jika saya bisa turut berperan dalam proses mencapai keseimbangan itu. Saya berani memperjuangkan hak-hak yang seharusnya setiap manusia bisa dapatkan. Saya tidak ingin menyerah untuk menghapus penindasan. "Salahkah bertindak untuk menghapus penindasan?" Salahkah para feminis yang berjuang hingga hasilnya bisa dinikmati saya atau paling tidak generasi selanjutnya?" Kalau salah, dimana letak salahnya? dan kalau boleh saya menyarankan, lebih baik anda pergi ke timbuktu. Jawab saja dalam hati.

Tanpa perjuangan mereka mungkin saya tidak bisa kuliah dan mungkin tetap di dapur dan belajar menjahit. Untuk apa takut? ketakutan itu tidak akan membuat kita kemana-mana bukan???

P.S. tribute to Mba gadis Arivia, Mba Marianna, (13th birthday of JP)
juga untuk Gadis Ranty dan Ninin

Jumat, 18 Juli 2008

Photo shoot for Change magz : Touch of Javanism











This is one of my favorite session. I took all at Schmutzer, Ragunan. Good place to runaway from your fucking spaces. Ever wonder how come it provides such a wonderful location?
Thanks to Carina as a beautiful and great model and Carolin Monteiro for those ethnic collections.

Rabu, 16 Juli 2008

Mendikte si Pendikte

Coba kita buka majalah lifestyle (baik majalah pria maupun wanita) pada saat edisi-edisi tertentu. Jika di dalam majalah tersebut terdapat rubrik fashion, bisa dipastikan ada artikel yang memberi tahu tren terkini, what's in what's out, dan berbagai macam gaya pada musim tertentu seperti "summer, fall, atau spring collection." Para ahli mode akan memberikan anjuran cara berpakaian sesuai dengan apa yang menjadi tren musim itu. Belum lagi ada berbagai merk yang mempromosikan koleksinya per musim. Ketika artikel dibaca dan kita menutup majalah, kita sudah punya 'bekal' yang mempengaruhi kita dalam menimbang apa yang akan kita pakai. Sekarang katanya lagi musim Tye Dye dan Jam tangan Nooka, skinny jeans diprediksikan meredup digantikan oleh wide leg pants ala hippie atau celana pantalon.

Itu adalah hal-hal yang disebar-luaskan oleh industri mode lewat katalog terbaru, majalah, maupun komentar para pengamat
mode. Biasanya tren dilihat dari rangkaian koleksi di berbagai Fashion Week mulai dari Milan sampai New York. Beralih ke koran, beberapa waktu lalu saya membaca artikel di sebuah koran (kalau tidak salah Media Indonesia) yang membahas tentang "The Sartorialist" sebuah blog milik Scott Schuman. Apa istimewanya blog ini? oke... saya adalah salah satu pengunjung setianya dan melihat postingan satu bulan di blog itu -menurut saya- jauh lebih bermanfaat dan masuk akal untuk referensi saya, dibanding majalah-majalah lifestyle bergengsi. Saya mengetahui blog ini sejak tahun lalu dari style.com yang menjadikannya link tersendiri. Setelah terdampar di blog simpel namun menarik ini, saya -terus terang- semakin percaya diri untuk bergaya sesuai kemauan saya. Blog ini berisi foto-foto berbagai macam orang dari berbagai kota di dunia (milan, new york, new delhi,dll) yang berpose mengenakan pakaian pilihan mereka sendiri dan dijepret oleh si Scott. Terus? Di mana letak menariknya? Yang menarik adalah orang-orang pilihan Scott itu memang orang biasa (common people) dan satu dua orang terkenal yang memiliki 'statement' tersendiri dalam berpakaian. Ada yang menggabungkan setelan t-shirt jeans dengan Doc Marten ukuran besar, ada juga yang hanya mengenakan black dress tertutup dengan turtle neck, polos tanpa hiasan namun terlihat sangat berkarakter, dan masih banyak lagi everyday-ordinary-but-cult style. Blog ini begitu terkenal di kalangan pecinta fashion bahkan banyak perancang terkenal yang menjadikan gaya-gaya orang tersebut sebagai inspirasi dan tampilan mood boardnya. Media-media besar macam Vogue, Elle, atau GQ juga kepincut dengan kumpulan common people dalam sartorialist. Gaya yang beredar di jalanan ini ternyata berhasil mendikte para pendikte di industri fashion. Padahal bisa jadi para model dadakan itu hanya memilih pakaian berdasarkan insting dan sama sekali tidak mendapatkan sentuhan brand-brand terkenal macam Loubotin atau Miu-Miu. Padu-padan karya mereka kemudian mengusik benak perancang yang sudah kehabisan ide dan mereka juga menjadi inspirasi banyak pengamat. Agaknya ini menjadi semacam produksi-reproduksi mode dan bagi anda yang termakan bimbingan industri mode nampaknya harus mulai cerdas dalam memilih.

Coba sekarang anda kunjungi blog tersebut (thesartorialist.com), oprek archive-archive lamanya dari tahun 2006 dan anda akan tahu bahwa kepercayaan diri dalam menentukan gaya anda sendiri itu timeless. Karena saya tidak melihat zipper jacket itu ketinggalan zaman. Jangan gadaikan koleksi lama anda, maksimalkan apa yang ada di lemari, dan jangan terjebak dalam lingkaran mode... Salam Sartorial !


Rabu, 11 Juni 2008

Bubarkan FPI atau Ahmadiyah?


Imagine there’s no religion…

(imagine-John Lennon)


Phiuhh…no wonder yaa John Lennon bikin lirik kaya gitu apalagi klo doi liat fenomena yang mendominasi layar kaca dan berbagai media di Indonesia akhir-akhir ini. Setelah sekian lama absen posting di blog, akhirnya saya udah gatel sekaligus gregetan untuk mencurahkan isi kepala dan pendapat tentang isu paling panas yang diawali oleh penyerangan FPI di Monas. FYI, salah satu teman saya jadi korban bahkan sampai dioperasi berkat keberingasan Laskar ‘Mengaku’ Islam. Ok… mendadak sekarang orang mulai ngomongin agama terutama islam yang dikaitkan oleh kekerasan dan Ahmadiyah yang terancam dibubarkan. Despite of those silly violence reasons, ini sih emang pengalihan isu BBM yang sebenarnya jauh lebih krusial. Lagi seru-serunya demo BBM dan nyalah-nyalahin pemerintah, ehh…muncul deh si Munarman yang ‘Sarjana Hukum’ itu. Beberapa jam yang lalu saya liat acara debat di TV one yang membahas kontroversi Ahmadiyah. Saya sedih banget liatnya, saya yang merasa islam, malu sama pembelaan orang yang Kontra Ahmadiyah di acara tersebut.

Orang-orang yang kontra Ahmadiyah dengan ‘hot’ nya ngomongin Allah, Rasulullah, Aqidah, dan banyak hal-hal yang Islam banget lainnya. Saya Salut sama wakil dari The Wahid Institute yang pro Ahmadiyah. Saya lega masih ada orang kaya dia di dunia ini. Kemudian, inilah isi kepala saya yang gregetan dengan statement ‘Ahmadiyah itu Sesat !!!’ .Duh (ala Gossip Girl)… who the hell are you? Memutuskan itu sesat ini halal, itu dosa, ini pahala. Saya aja bukan orang Amadiyah sakit Hati apalagi yang Ahmadiyah? Pertama-tama, saya yakin niat awal terciptanya konsep yang bernama ‘agama’ adalah baik. Sebagai pedoman hidup, pengatur pola perilaku, dan bagian dari membangun peradaban. Udah pasti agama tidak diciptakan untuk merendahkan satu pihak dan merendahkan pihak lainnya, untuk alat politik, untuk mengeksploitasi sesama manusia, apalagi untuk mendapatkan minyak.


Di abad 20 memang beda perangnya, sekarang jamannya fundamentalis vs non fundamentalis. Bencinya lagi nih, semua pihak berebut melakukan pembelaan atas nama agama. Yang ini bilang itu sesat, yang ini bilang itu kafir atau malah domba tersesat. And so on….nggak ada abisnya. Agama kok dijadiin pembelaan atas tindak kekerasan atau perang? Mana pake teriak-teriak “Allahu Akbar” lagii. Ckckck… taruhan deh, kalo Rasullulah masih hidup pasti dia sedih banget liat umatnya. Kok bisa ya kaya gitu? Untuk apa? Jihad? Umm…menurut saya jihad itu refer ke resistensi dan tentu bukan resistensi atas keyakinan seseorang. Kan sejarahnya Jihad itu untuk memperjuangkan islam dari dominasi yang bukan islam dan menindas bahkan melakukan tindak kekerasan ke orang Islam. Islam sendiri dulu dianggap sesat. Kalau rakyat Palestina, mereka berjihad untuk melawan kemarukan Israel that’s make sense. Tapi kalau Berjihad untuk membubarkan Ahmadiyah??? Hu uh..no…no..that’s not Jihad, frankly. Daripada beringas-beringas gitu mau bubarin Ahmadiyah ato ngancurin klub-klub malam, mendingan datengin tuh Exxon Mobil, Freeport, Newmont, ato bahkan Bakrie group untuk melawan pemerasan yang mereka udah lakuin sama negara kita. Mending juga tiru tuh Mahatma Gandhi yang against without violence.


Ada yang bilang agama itu sesat karena nggak sesuai dengan yang tertulis di kitab suci. Nggak sesuai dengan apa yang sudah diajarkan, dll. Umm…kalo mau berargumen pake kitab suci, wah udah susah tuh ngusutnya. Kitab suci kan bagian dari sejarah, yang pada jaman itu idup aja juga belum nih kita. Ada dua cara sih untuk memperkuatnya, yang pertama minjem mesin waktunya Doraemon, then we could chat with the prophets and do ‘live classification’. Yang kedua, tentu saja hanya dengan meyakini kebenaran dan keabsahannya. Cara pertama semua juga tahu itu nggak mungkin, cara kedua? That’s It! Di situlah poinnya! “yakin” hanya itulah satu2nya cara ‘meyakini sebuah kebenaran’. This is the issue of belief not what the bible said and dogma! Tuhan, agama, kitab suci, dan embel-embelnya berawal dari sebuah keyakinan.

Saya sering berimajinasi, what if I were born as a jewish?hehehe…nyatannya saya lahir dengan nama Afra Suci Ramadhan dalam keluarga islam yang religius. Saya besar dengan berbagai kegiatan ‘keagamaan’ seperti mengaji, mengkhatami Al Quran, menyambangi pengajian, berpuasa, shalat lima waktu, shalat sunnah, dan masih banyak lagi. Fortunately, hal tersebut tidak membuat saya mendefinisikan islam secara sempit apalagi fasis. Saya percaya semua orang berhak memiliki keyakinannya masing-masing. Satu-satunya yang membatasi hak manusia adalah hak orang lain. It’s not about God or any prophets, It’s about how you respect each other as a human being. Ada orang yang mengaku Islam tapi cuma sekedar identitas KTP, ada yang mengaku Haji tapi rajin poligami (pake nyontohin Rasul pula), ada yang mengaku rajin pengajian tapi kelakuan kaya setan. Orang emang aneh2 ya??hehhehe…… Malah jaman dulu pake jilbab aja dilarang di Indonesia, islam garis keras dianggap ancaman tetapi setelah penguasa rezim meanganggap agama sebagai kekuatan politik tersendiri, langsung deh semua dibuat sok Islami. (ress…. Banget…)

Apa yang coba saya katakan di sini adalah, kebenaran itu melalui perjuangan untuk menjadi ‘benar’ dan itu bukan kebenaran yang sekonyong-konyongnya muncul dan ada. Agama memang bagian dari identitas dan pelampiasan akan hasrat kesadaran kolektif tapi sungguh bukan bagian dari perilaku kekerasan dalam bentuk apapun. Coba deh kita tonton channel animal instinct pas adegan binatang2 yang berantem. Mereka aja nggak segitunya lhooo… Ahmadiyah hanya fenomena gunung ES yang berarti klo dibubarin cuma mecahin es yang diatas. Di bawahnya???ckckckck…mengerikan. Soal agama sebagai alat politik, ummm... ada satu quote “In a country with people mostly illiterate, it’s impossible to unite them with Marx and it possible only with Nationalism or Religion.” Ya klo nggak pake ganyang malaysia ya bawa2 Islam deh.


Saya percaya kalau memang surga benar adanya, pasti pelaku kekerasan atas nama agama nggak akan diizinin masuk dan menikmatinya. Ayolah… dunia ini bukan hanya milik kalian saja, bermiliyar2 manusia hidup di dalamnya. Sampai kapan mau saling membeda-bedakan dan Merasa paling benar?



-Fin-

There by The Grace of God

Listening to The Moldy Peaches and Coldplay’s Viva La Vida or Death and All of His Friends mp3 playlist

Kamis, 05 Juni 2008

Riding Without Wave






Kamis, 24 April 2008

20 Days to 20 years old

Day 20 If tomorrow never comes

Akhirnya hari ke-20 tiba juga tepat nanti jam 12 genap sudah 20 tahun saya ada di bumi ini. Jika tahun-tahun kemarin saya berangan-angan apa yang akan terjadi setelah umur saya bertambah, kali ini saya ingin berangan-angan jika hari esok tidak ada. Yup… saya berimajinasi andai saja tanggal 24 April lenyap dari kalender saya maupun anda. Otomatis jika tidak ada tanggal 24, saya tidak akan berumur 20 tahun. Kok bisa? Ya semua bisa saja terjadi dari yang paling buruk hingga yang paling baik.

Seandainya besok tidak ada, berarti saya ingin menjadi manusia pada umumnya. Saya lelah mencari tahu banyak hal karena semakin saya tahu kenyataan yang ada semakin membuat saya enggan untuk terus ada di sini. Saya ingin stop membaca buku terutama e-booknya Foucault. Saya tidak ingin menelusuri Archeology of knowledge. Kalau memang benar Knowledge is the power, saya tidak ingin memiliki power tersebut. Saya mau tutup mata agar tidak tahu bahwa unilever membakar habis hutan Indonesia untuk ditanam kelapa sawit. Saya ingin memiliki cincin kawin dengan emas 20 karat karena itu saya tidak boleh tahu bahwa kurang lebih 6 truk limbah yang akan mencemari alam sekitar pertambangannya.

Saya ingin berhenti menulis, simpan saja semua kata-kata di benak terdalam agar orang-orang di luar sana tidak tahu menahu akan pikiran saya. Saya merasa terasing karena tidak mendengarkan Gen fm dan bukan penikmat pop culture. Simply to say, I wanna be like common people, I wanna do whatever common people do. Lulus kuliah 4 tahun dengan skripsi yang positivis, menjadi orang ‘korporat’ yang kerja di distrik bisnis Sudirman-Kuningan, menikah dengan suami yang mengorbankan dirinya menjadi kepala keluarga, beranak-pinak hingga penduduk Indonesia terus bertambah dan siap dibebani hutang Negara. Saya mau jadi ibu-ibu fashionista yang tidak pernah absen keluaran terbaru dari Fjl atau club21, membeli haute couture nya Hussein Chalayan seharga jutaan rupiah, menjemput anak di High Scope, wanita karier dengan gaji dua digit, and so on….

Is it true? Apakah saya benar menginginkannya? Hahaha….percaya atau tidak, di mimpi saya pun bayangan itu tidak pernah hadir. Hehehe….jadi kenapa dong saya ingin jadi seperti orang kebanyakan?

Hmm… mungkin jika tanggal 24 tidak ada, itu berarti saya tidak akan pernah merayakan ulang tahun, saya tidak akan lagi berefleksi pada diri saya sendiri. Lebih jauh, saya semakin terasing dari diri saya sendiri karena saya berusaha sekali untuk diterima masyarakat, untuk hidup dalam sistem, kembali mereproduksi budaya yang ada, dan diam mengikuti apa saja yang ada. Alih-alih diterima di masyarakat, saya semakin jauh dari tujuan hidup saya.

Pertanyaan itu terus menghantui pikiran saya, “Am I on the right track?” sudahkah saya membuat keputusan yang tepat? Dulu saya selalu berpikir tentang keberhasilan, bahwa hidup ini seperti rencana pemasaran yang harus menciptakan strategi agar berhasil mencapai tujuan. Tapi saya tidak ingin bergabung dalam IMK (Ikatan Masyarakat Kapitalis) yang menganggap bahwa hidup itu persoalan gagal atau berhasil. Hidup saya bukan bisnis dan saya tidak pernah berjudi dalam mengambil keputusan. Sesulit-sulitnya perjalanan saya, saya tidak ingin kembali ke awal, apa yang ada tinggal saya nikmati saja. Misalnya besok tidak pernah ada, itu artinya akhir dari cerita saya adalah seorang gadis 19 tahun yang masih punya banyak hutang tugas dengan dosen dan teman sekelompok saya, masih belum mampu memahami orang yang saya sayangi, dan masih ragu akan jalan yang dituju. Afra adalah perempuan yang dengan semanngatnya memberi pemahaman yang beragam pada setiap orang yang dia jumpai, seorang anak sulung yang belum cukup membahagiakan orang tuanya, dan seorang kekasih yang memiliki banyak kekurangan. Andaikan waktu berhenti di hari ini, nama afra suci ramadhan akan diasosiasikan dengan kutu buku pembenci matematika, dan tiba-tiba..

“Breaking news” di sela2 menulis, dimdim menelpon dan zapp…..di bilang ada di depan rumah!!! Waduh! Segera tadi saya turun ke bawah, and he bring me present, a backpack that I’m dying to have, he warn me not to open it till he call me again. Geeeezzzz….i’m so speechless!! Mendadak gagu rasanya…Thanks a lot dimdim…U bring me plenty surprises that I always fascinated by them.

Ok lanjutt….

Afra diidentikkan dengan weezer, girl from mars (kata seorang teman yang beranggapan bahwa saya tidak memiliki sifat venus), pendengar musik2 aneh, menulis, jurnal perempuan, komunikasi UI (which I’m not proud at all), kuliner traveller, kenek metromini (karena saya hafal jalan dan angkutan umum di jakarta), dan The porno (band yang saya gandrungi dan produseri). Alhamdulillah, nyaris 20 tahun saya hidup, saya merasa cukup bahagia dan puas sekaligus penuh syukur, walaupun saya sedikit jorok, berantakan, cuek, suka ngasal, tidak memiliki keluarga yang seperti di iklan pepsodent, nggak punya kacamata way farer, tidak mengecat rambut menjadi cokelat (karena sudah cokelat dari sananya), dan tidak pernah nonton tv. Saya bersyukur punya orang-orang terdekat yang support saya (especially my no.1 supporter, dimdim), papa yang menasehati saya dengan pandangan idealisnya, teman-teman yang kacrut, bocor, dan bikin ketawa sampe koit (galdiran, anak Kom 2005, Change crew). Kalaupun hari esok tidak ada, saya bahagia dengan hidup saya yang dikelilingi orang-orang hebat nan gaul.hehehhe…...

Kata-kata penutup, “We’re supposed to be happy naturely, so why do we try hard to find it then?”


20 Days to 20 years old

Day 11-19


Day 11

Always hate to wake early in the morning. Became so common for coming late to Philosophy and Ethic Communication class. Hip hip hurray, there’re no lecture for second term, I spent my time waiting for rain with my friend Ciwil. It’s always funny to hear his blurbs and stories. Then, I went to Ogilvy Action office for doing ADOI interview. Today’s not really hard though numb feeling still tangled in my head.

Day 12

Nothing happens today. Everything’s in a right place, the schedule went so smoothly from global marketing class to Editorial brainstorming. I thought I was the laziest girl on earth today, really effortless and sleep all the day. I did many sophisticated conversation and finished my homework quickly.

Day 13

I really wish I could understand my seminar lecturer’s mind. He’s kinda in between outrageous or out of mind. It always wasted for being in his class. I put my sympathy but I think everybody in his class will agree to ignore him. Sorry anyway Mr. Ari. I know you are such a revolutionary one yet you never get out of “Habermas thing”. I always waited for Marxist discussion on the class and it never happen actually. He does so critical. Maybe my mind (and of course everybody in the class) just cannot fit into his. In opponent, I love today copywriting class anyway, my guest lecturer is a famous writer. She is Prima Rusdi, the one with short story that I always love. She taught us many great things and tips, not only for our carrier but also for my dreams. I wanna be like her always. She looks so in love in writing, so passionate about movie, so nationalist, and so critical. What a beautiful mind she has!

Day 14

Day went on like other Thursday, not in a hurry. After advertising class I had to go to ADOI office after a week before. I can’t stand on Jakarta’s road. The road never stops freak you out and never ending pain. I really don’t wanna live here, it’s not my place. Take me out then…

Day 15

We love Friday aren’t we? How couldn’t we love it? Only one class, tomorrow is gonna be Saturday and you’re having plenty of time to be wasted. Unfortunately, I have to attend guest lecture and it will take too far from Woman Journal foundation office. Imagine the distance, Ampera to tebet! Oh no, oh my (like Austin band) it’s true, I caught up on a fucking boring traffic (and it’s like hundreds one). Hectic, exhausted, I need a rest, really…

Day 16

We’re (me and my friends) longing to meet our seniors to share experiences and knowledge. I hate starbucks but had to come in because of the gathering or mentoring. Time went fast and I have to live, I have to go to Blitz with my dimdim. Yup! We’d like to watch another French movie. We’re participated in the festival as good audience who choose right movie. The movie named Les Deux Mondes or two worlds maybe in English. The movie had stunning story but the atmosphere was just not right this time. I didn’t like part in that movie, I hate break up lovers. It seemed so wrong and we’re all agreed, no one like that moment certainly.

Day 17

Sunday ? Felt the Futsal ambience while accompanied dimdim’s game. Since it will help my AXE futsal version campaign. Finally, I’ve found my Campaign’s tagline. “No Score without Goal, No Goal without Score” FYI it’s for AXE Score variant.

Today just waste great time with dimdim. I am reading an awesome book, ‘Eat, Pray, Love’. It’s just sooo…. Me! The author seems have many things in common with me. It’s a must to read! Elizabeth Gilbert went to Bali for writing this book, after some pages passed I’ve realized that I’m the lucky one for knowing God early. Believe me, it helps always.

Day 18

I hate Monday. Luckily, thanks to Dove Brand Manager, Mba Ika who’s so chic and pretty, for lending her hectic time to be interviewed. It’s for my research task sake and she’s so cooperated with any question. The lovely one came, She also offered walls Ice cream. Ummm….yummy!

I had to submit some articles for ADOI, It’s already deadline. No one love the dead line, we’re hopping live line.hahaha……

Day 19

This week is no attending-lecture week. I say off to college. I don’t want to go there. I want to use my chance for absent. Luckily, my lecturer didn’t present, he’s also absent. So today I was saved. Since several days ago I always think about something that I can’t describe, even to myself,what it’s all about. The more I searched the stability the closer myself into instability. The more I tried to erase the more it present. Leaving is just as impossible as staying. The more I wanted to complete it the more I lost it. Many questions flew inside my head, some might answered yet another never be. What becomes my soundtrack is a hopeless song, such as: only in dream-weezer, goodbye-asobi seksu, or against the tide –radio dept. I’m so thankful that I believe in God, I have a private conversation with confidential guarantee. I want to apologize to people surround me, I acted so weird, my mind rather skipped, and my emotion became so unpredictable. Ok then,I finish my day with weezer’s ….”If u want to destroy my sweater…. Oooo…”

 
design by suckmylolly.com