Rabu, 15 Februari 2012

Bukan apa-apa




Ternyata


Aku tahu mungkin di sana ada nyeri

Bisa jadi kita tidak jatuh di tempat yang sama

Mencoba jauh demi mati rasa

Jika ada bekasnya, kamu pasti punya sisanya

Tidak perlu obat merah karena kamu masih marah

Mereka bilang seharusnya kita bisa waspada

Berhati-hati tanpa perlu pakai hati

Kita terlalu suka permainan ini

Iseng-iseng bisa dapat hadiah

Sudah sejauh dan selama ini kita bercanda

Tanpa tahu akibatnya

Biar saja… nanti juga tahu rasanya! katanya

Ada kala kita buka mata dan bertanya untuk apa?

Sudah jatuh baru tahu kenapa

Jujur aku suka semuanya

Dari cinta sampai luka

Tapi kamu pura-pura buta

Kalau di antara kita

Tidak pernah ada apa-apa




Senin, 30 Januari 2012

Antara Buruh, Kemacetan, dan Kita



Sudah sebulan lebih saya menghabiskan lebih banyak waktu di kamar kosan. Maklum sebagai semi-pengangguran (baca: freelance) saya punya target untuk menamatkan tumpukan dvd dan buku yang sudah jauh lebih lama 'nganggur' semasa saya bekerja. Saya memilih untuk menarik diri dari perbincangan seputar politik dan sejenisnya dan tidak ingin mengikuti berita apapun terkait peristiwa aktual di negeri ini. Mungkin saya ingin merasakan ketenangan sejenak dengan mengambil peran acuh tak acuh terhadap segala persolan pelik tentang pembangunan. 9GAG dan situs sejenisnya lebih menarik ketimbang situs warta, linimasa hanya membuang waktu, dan televisi hanya seru saat Morgan Sm*ash muncul.



Tapi ada satu berita yang sepertinya sulit untuk dilewatkan karena orang-orang di sekitar saya terus membahasnya dengan cukup heboh. Memang tidak seheboh kasus Xenia, tetapi gaungya cukup terasa karena beberapa dari mereka mengaku terkena imbasnya. Saat semua orang membahas 'Demo Buruh Di Cikarang', saya awalnya hanya bisa berdoa dalam hati agar upaya mereka tidak sia-sia. Menyebalkan memang, tipikal manusia cari aman dan apatis. Namun pergerakan buruh selalu menarik bagi saya, setidaknya mereka tidak butuh BB atau akun twitter untuk menggerakkan ribuan masa yang berani berbicara atas nama keadilan mau turun ke jalan, memblokir jalan tol, dan membuat pengendara mobil serta komuter menjerit/mengeluhkan kemacetan di akun twitternya.



Praktis saya pun tergerak untuk mencari tahu berita terkini tentang isu ini. Saya langsung mencari berita atau pembahasannya di Google. Berharap mendapatkan tautan bermutu tentang analisis demo buruh di cikarang, yang saya lihat sampai halaman 4 di laman pencarian hanyalah judul yang tak jauh dari "Demo Buruh di Cikarang Menutup Pintu Tol Menyebabkan Kemacetan". Dari situs macam Detik sampai Kompas dan situs berita lainnya. Salahkan pembacaan logaritma komputer saya yang hanya berhasil menjaring hasil pencarian dengan judul seperti itu. Alih-alih membaca berita yang membahas tuntutan dan proses negosiasi ataupun upaya pemerintah, yang saya dapatkan hanya penjelasan kenapa jalan tol ke Bekasi-CIkarang macet bukan kepalang.



Saya jadi ingat percakapan di dalam sebua kelompok pesan instan yang membahas demo buruh sebelumnya di depan Gedung DPR/MPR yang juga menyebabkan kemacetan. Ada yang bilang kalau demo seharusnya juga memperhatikan kepentingan orang lain, jangan sampai merepotkan orang lain dengan kemacetan. Dan mungkin ada ribuan kicauan di Twitter yang beranggapan sama dan merasa terbebani dengan demo buruh yang bikin macet. Katakanlah demo/menyampaikan pendapat adalah hak semua warga negara dan peserta demo memang mencapai ribuan, sudah pasti kemacetan menjadi tidak terhindarkan. Muncul kekesalan karena demo mereka bisa menyebabkan kita terlambat, tua di jalan, atau frustasi di dalam kendaraan. Mungkin sebelum melihat Demo Buruh sebagai sumber kemacetan, warga kota bisa kilas balik tentang betapa konyolnya penyebab kemacetan di Jabodetabek. Dari angkot yang ngetem, kecelakaan, putar balik , belokan, atau sesimpel 'ya… udah kebanyakan aja kendaraannya'. Yang ingin saya katakan di sini adalah setidaknya kemacetan dan keterlambatan Anda di jalan tidaklah sia-sia. Karena ada ribuan manusia yang menuntut kenaikan upah, suatu 'cause' atau tuntutan yang sangat mendasar dan jauh lebih wajar daripada menuntut keluar dari kemacetan.


Saat itu, para buruh menentang Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang menggugat keputusan Gubernur Jawa Barat terkait Upah Minimum Kabupaten (UMK) melalui SK NO.561/Kep.1540-Bansos/2011 yang menetapkan UMK Bekasi sebesar Rp 1.491.866,-,Upah kelompok II Rp 1.715.645,- dan Kelompok I Rp 1.849.913,- melalui Pengadilan Tata Usaha Negara atau PTUN Bandung. Ribuan buruh memperjuangkan kesejahteraan mereka yang terancam oleh gugatan pengusaha tersebut. Sebelumnya (2010) pemda Bekasi menetapkan UMK sebesar Rp 1.155.000. Jadi dalam setahun kenaikan upah yang hanya sekitar RP 336.866 masih ingin digugat oleh para pengusaha. 'Battle' yang tidak pernah berakhir ini dipicu oleh logika pengusaha yang tentunya cenderung menganggap kenaikan upah akan berdampak pada profit dan ongkos produksi.


Saya pernah terjebak dalam kemacetan di Gatot Subroto, saat peringatan May Day dimeriahkan oleh ribuan buruh yang turun ke jalan. Dari atas bis kota saya merinding melihat semangat mereka di tengah terik panas dan beban berat untuk menghidupi keluarganya tidak mencegah mereka untuk beraksi. Lain waktu, saya pernah terjebak macet luar biasa saat hari terakhir kampanye Pilkada Jakarta. Jujur, saya jauh lebih ikhlas terjebak macet di tengah para buruh dibanding masa kampanye. Sekilas mungkin tuntutan buruh tidak relevan dengan aktivitas sehari-hari kita atau mungkin lebih tepatnya kita memilih tidak mau tahu. Yang mau kita tahu adalah cepat sampai tujuan di jalan dan bisa langsung nge-charge gadget yang mulai lowbat. Maafkan kesinisan saya, tapi kita bisa pertanyakan lagi pada diri kita, betapa tuntutan para buruh yang bikin kita stuck lebih dari 3 jam di jalan, adalah tuntutan mendasar kita semua. Kita ingin keadilan dan keberpihakan terhadap masyarakat bukan lobi-lobi omong kosong pemerintah dan kelompok pengusaha. Mungkin sebenarnya kita pernah mengutuk para buruh yang menuntut kenaikan upah sebagai biang kemacetan, mungkin kita takut juga kalau upah mereka naik berarti harga barangnya akan naik juga dan kita akan kerepotan menghadapi kenaikan harga barang. Tapi buruh sama saja dengan kita semua, kalau harga naik mereka juga terkena imbasnya, mereka juga mengonsumsi, mereka ingin menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya. Jadi singkat kata, secara mendasar apa tuntutan mereka adalah bagian dari kebutuhan dan tuntutan kita juga.


Pertanyaan yang menarik dari tulisan panjang dan tidak jelas ini adalah:


Siapakah 'kita' yang dimaksud di sini? Kelas yang mana?


bantu saya untuk menjawabnya :p


Selasa, 10 Januari 2012

The drugs don't work


"Antibiotik menyelesaikan semuanya kecuali asmara"

Seandainya semuanya semudah menelan sambil minum air, mungkin kita bisa bertahan.

Rabu, 04 Januari 2012

2011: No distance Left to Run



As 2011 will be ended soon, I have this such an obligation to review shits happened in all years. I hate list but its probably easier to sum up things with list. But all I know is 2011 becomes the most effortless year ever in my life. Well, it's a tough year indeed, while it's also relief in a kind of way. From what I can remember, below find all notable things occurred in 2011:


1. Get out of the box, get out from that comfort zone


I resigned from the job, or I prefer to call it the daily life, which I loved and dedicated to it but found things cracked up by pointless drama. Though I made the decision and proposed my notice on the previous year, I started to quit officially in February. I love what I was doing there, I always be. Who can resist the young people revolutionary spirit and support them for real? I can't. That's why It hurt like a break-up stories.


2. I don't need job I've got my band


Yeah while I was quitting my occupation, I had already got the new one! hahaha Here is the funny thing, every stage of my life, starting from the junior high era, I always find great friends to create band, obviously with common sense of music and field of experience. The last time I'm on band was in my sophomore year in college. And oddly, though all personnels went to the same college, we found this band after we graduated. The coolest thing is I wrote on my 5 years plan when I was 17th, I said that I want to have a shoegaze-noise band. Yup, it's specific anyway hahaha, I even wrote the genre! And thanks god, I found these friends, 3 lovable and hilarious persons, and we officially had our first rehearsal in February. We ended up with 2 songs on our first moment and currently we already have almost 10 songs. We also got some gigs performing opportunities, which was fun and maybe embarrassing at the same time. I think this band made my 2011 :D


Listen Sunday Market District.




3. Post break-up: Slow down and Move to another city, a heavenly one


2011 seemed like purification year for me, it gave me time and room to slow down the pace, to think, and to let go all egos. I learned a lot about acceptance or we likely called it 'ikhlas' and I realized that life would be more cool and settle if I slow down the ambition. I seized this year with learning new things and meeting new friends. I decided to take an internship opportunity in an art archiving organization in Yogyakarta. I lived there for 3 months. To suggest, for all people who want to see life in a slow motion, take sometime to live in this city. I gained more knowledge on art in this place. I worked with some persons that I look up to, had new wonderful friends. And not to forget, I encountered with some unfortunate events in this phase. However, it's all the lessons that I've got to discover. Indeed, it's so fun living in Jogja and engaging with the cultures and thoughts of people there.


4. A good call and new shoes


I always love to change 'shoes' in terms of trying to put myself on a different perspective. During my last moment in Jogja, I've got a good news. An International NGO gave me opportunity to be a temporary staff. In my previous job and activities, I had already encountered with this organization. Long before they gave me a call, I had dream to be part of them but oddly I only want a short time trial. And the wish came true, I was part of them for nearly 3 months. As my-college-of-life-session went through, this opportunity provided so much lessons to study. It's definitely refined my capabilities and perspective, in terms of becoming so-called a development professional. By the end of the year, I was no longer worked for this organization. And I was so lucky for having this opportunity, working with great team, and taking the most enjoyable lunch in the office.


2011 told me some great lines. It said that I should feel okay to live on my way though it's unlike the other's. Why should I run if the distance was no longer necessary. If 2011 was about learning, 2012 will be about initiating and creating. Since it will not likely the end of the world but it is the end of the apathy…














Rabu, 28 Desember 2011

Jarak: Jauh-Dekat Rp 2.000



Sudah lama ternyata sejak terakhir kali saya posting di blog ini. Mungkin kemampuan saya untuk berbagi cerita sudah menurun atau mungkin kemauan saya lebih tepatnya sudah tidak ada.


Entah kenapa, saya tiba-tiba merasa rindu untuk berceloteh kembali dalam ruang ini. Saya ingin merasakan kehangatan saat perasaan dan kegamangan bisa dituangkan dalam secangkir blog cokelat hangat.


Saat ini di kepala saya hanya ada 'jarak'. Mungkin jarak tidak terkait dengan kondisi geografis, bisa jadi dia menjadi konsekuensi dari kedekatan secara fisik. Kita bisa berkata bahwa kita ingin menjaga 'jarak' dengan seseorang. Katakanlah dia seorang eks teman atau eks pacar. Tapi apa gunanya jaga 'jarak' dalam pengertian komunikasi atau fisik jika ternyata setiap hari kita ingin 'dekat' secara maya (baca: stalking). Secara berkala mantengin linimassa, selalu sigap dengan kabar terbaru di situs jejaring sosial, atau untuk kasus yang lebih akut, memanfaatkan google sebagai cara untuk terus memantau orang tersebut.


Jarak menjadi sesuatu yang relatif, itu pasti. Tapi sampai seberapa jauh kita bisa mengukur relatifitas tersebut? Saya dan Nicholas Saputra tentu ber'jarak', kami tidak saling mengenal. Meskipun saya bilang saya kenal dan tahu Nicsap, yang saya tahu pasti hal ini tidak terjadi sebaliknya. Tidak ada dalam lingkaran pertemanan saya yang mengenal dia dan sebaliknya juga bagi dia. Saya dan dia punya 'jarak' yang jauh, itulah faktanya.


Bicara jarak, jauh dan dekat menjadi penting. Relasi kita dengan seseorang atau sesuatu dan bagaimana cara menggambarkan jaraknya adalah hal yang kita lakukan setiap saat. Sialnya kedua kata sifat ini lebih abstrak dibanding jarak itu sendiri. Ada seorang teman yang cerita bahwa dia sedang 'jauh' dari keberuntungan, seakan keberuntungan adalah teman 'dekat' yang kemudian bermusuhan dengannya. Ada lagi yang curhat kalau dia sedang 'dekat' dengan seorang perempuan tapi dia bahkan tidak tahu perempuan tersebut anak ke berapa.


Ada dua hal yang akan membunuh kita perlahan, jarak dan waktu. Tapi buat saya, jarak lebih menakutkan dan terkadang sulit dinegosiasikan. Kita mengenal 'time mangement' tapi asing dengan 'distance management'. Kalau waktu bisa diatur, lantas apa sulitnya mengatur jarak? Toh sopir metromini dan keneknya bisa membuat aturan Jauh-Dekat Rp 2.000 sehingga jauh dan dekat tidak beda harga yang harus dibayar. Sayangnya, jarak dalam hidup ini tidak bisa menggunakan standar metromini, jadi kita harus terus menyesuaikan dan bermain petak umpet dengan jarak. Jadi ingin lari se'jauh' mungkin tapi tetap ada di 'dekat' orang yang kita sayang… (#abaikan)









Jumat, 22 April 2011

Nobody loves you when you're 23


"23"
a song from Jimmy Eat World


I felt for sure last night
That once we said goodbye
No one else will know these lonely dreams
No one else will know that part of me
I'm still driving away
And I'm sorry every day
I won't always love these selfish things
I won't always live...
Not stopping...

It was my turn to decide
I knew this was our time
No one else will have me like you do
No one else will have me, only you

You'll sit alone forever
If you wait for the right time
What are you hoping for?
I'm here I'm now I'm ready
Holding on tight
Don't give away the end
The one thing that stays mine

Amazing still it seems
I'll be 23
I won't always love what I'll never have
I won't always live in my regrets

You'll sit alone forever
If you wait for the right time
What are you hoping for?
I'm here I'm now I'm ready
Holding on tight
Don't give away the end
The one thing that stays mine

You'll sit alone forever
If you wait for the right time
What are you hoping for?
I'm here I'm now I'm ready
Holding on tight
Don't give away the end
The one thing that stays mine...

*dedicated for a friend, whom I will give up my future... one thing that stays mine


Kamis, 07 April 2011

Kalau Rahim Bisa Ngomong

(percakapan saya dengan rahim.)

A (saya) R (Rahim)


A: Aduhh... sakit banget nih perutnya gara-gara mau dapet. Huh!

R: Kan dinding rahimnya lagi memompa...

A: Emangnya kenapa sih kalau kamu lagi memompa kok perutnya jadi sakit? Kamu kenapa?

R: Aduh mana aku tahu... coba kamu tanya dokter kandungan aja :p



Meet my uterus 


Halo, saya Rahim :) !!!



Seperti perempuan yang belum menikah pada umumnya, tidak pernah terlintas di kepala saya untuk periksa ke dokter kandungan. Apalagi saya merasa umur saya masih muda dan belum menikah, buat apa saya ke sana? Lagian dokternya kan laki-laki, males banget, malu kali ya... Emangnya mau periksa sama siapa? Orang tua? Kata mamah sih nggak perlu, kan belum menikah? 


Padahal di kepala saya terlintas banyak sekali pertanyaan seputar fungsi reproduksi dan kesehatannya. Meskipun saya beruntung karena pernah bekerja di lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di isu perempuan dan sering mendapat informasi tentang kesehatan reproduksi, tidak menjamin kalau saya benar-benar mengetahui kondisi alat reproduksi saya. Memang, saya pernah melakukan pemeriksaan pribadi dan merasa sadar jika ada yang tidak wajar dengan vagina atau rahim saya, tapi tentu saya orang awam yang tidak tahu seluk beluk kesehatan reproduksi (kespro). Setumpuk pertanyaan di kepala saya sayangnya tidak bisa dijawab oleh rahim ataupun pelatihan dan buku-buku kesehatan reproduksi. 


Karena pertanyaan mendasar saya adalah 'apakah alat reproduksi saya dalam keadaan sehat & baik-baik saja?' hanya bisa dijawab kalau saya bertanya pada ahlinya. Lantas dengan  segenap kesadaran, saya ingin berkonsultasi dengan dokter kandungan atau ginekolog. Tapi niat itu selama 2 tahun terakhir hanya menjadi niat karena selama ini saya mendengar kalau proses pemeriksaan ke dokter kandungan kurang dirasa nyaman bagi perempuan yang belum menikah. Bahkan kalau kita lihat di salah satu film pendek di film "Pertaruhan" dengan judul "Nona/Nyonya", berkonsultasi ke ginekolog seringkali tidak bersahabat dan cenderung penuh dengan tekanan. Jadi di satu sisi saya ingin pergi memeriksakan alat reproduksi, tapi di sisi lain saya males diperlakukan seperti itu dan tidak tahu harus pergi ke dokter mana yang bersahabat dengan perempuan belum menikah. Saya sempat bertanya ke beberapa orang dan organisasi, ginekolog mana saja yang direkomendasikan. Tapi sejauh itu, saya belum "berani" untuk berhadapan langsung dengan ginekolog untuk konsultasi, pap smear, dan pemeriksaan lain. 


Jadilah hari ini (7 April 2011), salah satu hari yang bersejarah dalam hidup saya. Atas rekomendasi seorang teman, saya mendatangi Rumah Sakit Bunda (yang di Teuku Cik DItiro) untuk periksa ke dr.Irham Suheimi SPoG. Terus terang, sehari sebelumnya saya deg-degan dan membayangkan banyak hal yang menyeramkan. Tentang bagaimana nanti anehnya 'mengangkang' di depan orang yang baru dikenal. Tentang bagaimana rasanya melakukan pap smear. Tentang hasil pemeriksaan apakah saya sehat atau tidak. Tentang bagaimana kesan pertama si dokter terhadap saya. Dan masih banyak tentang yang lain membayangi pikiran saya. Karena pengalaman ini mungkin akan dialami oleh perempuan lain, saya berbagi pengalaman saya. Dengan segenap keberanian, saya masuk ke ruangan periksa dan berhadapan dengan dokter pria yang akan memeriksa vagina saya, phiuhhh....


Jauh dari ketakutan saya, dr.Irham sangat bersahabat dan interaktif dalam mendorong saya untuk mengemukakan keluhan-keluhan yang saya punya. Ketika berkenalan, saya tidak ditanya Nona/Nyonya ataupun Sudah menikah? tapi hanya pertanyaan 'apakah sudah pernah berhubungan?'. Kemudian hal yang ditanyakan di awal adalah 'apakah sudah pernah periksa ke ginekolog sebelumnya?'. Dengan polosnya, saya curhat kalau saya deg-degan karena ini kali pertama dan saya menjelaskan berbagai keluhan yang saya alami, dari siklus haid, keputihan, sampai sindrom menjelang haid. Dengan santai dr. Irham menjawab pertanyaan-pertanyaan awam saya dan memberikan penjelasan informatif tentang keluhan saya. Dia kemudian menyarankan saya untuk Pap smear dan USG untuk mendeteksi apakah ada yang tidak beres dengan vagina dan rahim saya. 


Sampailah saya pada bagian 'harus' membuka kaki dengan lebar dan duduk di kursi khusus untuk diperiksa dan Pap Smear. Sempat merinding saat melihat alat-alat yang akan dimasukkan, sempat lemas juga waktu liat obat dan kapasnya. Saya berkali-kali bertanya apakah sakit atau tidak, tapi dokter Irham berhasil membuat saya lebih tenang untuk menjalani pemeriksaan dengan meyakinkan bahwa tidak sakit. Momen sekitar 15 menit ini menjadi momen yang berkesan karena rasanya campur aduk, antara takut sekaligus berusaha untuk berani memeriksakan diri. Setelah pap smear selesai, saya melakukan USG. Saya bisa melihat rahim saya dan dr.Irham memberikan beberapa penjelasan tentang kondisi rahim saya. Bagaimana indung telurnya dan gejala apa yang mungkin muncul di rahim saya. Ini juga menjadi momen saya bisa berbicara dengan rahim tapi dengan perantara si dr. Irham :)


Setelah pemeriksaan, dr. Irham memberi saya beberapa nasehat untuk menjaga kesehatan alat reproduksi saya dan mengingatkan saya untuk segera periksa kalau ada yang tidak beres. Dengan perasaan lega seperti habis selesai tes IELTS, saya keluar dari ruang konsultasi dan langsung ke kamar mandi karena 'after taste' dari proses pap smear dan USG sedikit membingungkan saya. Tapi di luar itu saya sangat lega karena bisa berbicara dengan rahim saya melalui dr.Irham sebagai perantaranya, saya jadi tahu bagaimana 'kabar' Rahim saya di dalam sana. 



Di luar perasaan lega tersebut, muncul keresahan lain di benak saya. Ok, mungkin saya beruntung bisa mengakses pelayanan seperti ini lengkap dengan konsultasi dengan ginekolog yang berasahabat terhadap pasien yang belum menikah. Tapi apa kabar jutaan perempuan lain di luar sana? Yang tidak pernah berpikir untuk periksa ke ginekolog?  Mungkin mereka belum punya kesadaran tentang kespro, mungkin mereka takut ke ginekolog karena belum menikah, mungkin di daerahnya nggak ada ginekolog karena cuma ada dukun atau bidan, mungkin pelayanan se-nyaman saya tadi tidak bisa diakses dengan biaya murah atau gratis, atau mungkin mereka tidak punya akses sama sekali. 


Ada banyak kemungkinan yang dihadapi oleh perempuan Indonesia dalam keterbatasannya mengakses layanan kespro. Jangan heran kalau angka kematian ibu di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara, 228 per 100.000 (2007-Depkes) dan jumlah penderita kanker serviks di Indonesia termasuk kedua tertinggi di dunia (sekitar 270.000 perempuan di Indonesia meninggal dunia). Selain karena cakupan tenaga medis profesional di Indonesia masih terbatas, tentunya anggapan bahwa layanan seperti periksa ke ginekolog, melakukan pap smear, kontrasepsi hanya bisa diakses oleh orang yang menikah atau harus didampingi orang tua, menjadi penyebab fenomena gunung es ini. Apalagi ketika ingin mencoba untuk pap smear seringkali hanya untuk yang sudah menikah karena takut nanti tidak perawan lagi. Anggapan paling konyol menurut saya, karena ini masyarakat lebih mementingkan keperawanan daripada keselamatan dan kesehatan perempuan. 


Bisa dibayangkan betapa sulitnya jutaan perempuan di Indonesia untuk mengakses pelayanan kespro pada tenaga medik profesional. Jumlah dokter kandungan di Indonesia saja hanya 2200 orang menurut Himpunan Obstetri Ginekolog Seluruh Indonesia, coba bandingkan dengan jumlah perempuannya 118.048.783 juta orang (hayo ini PR untuk mahasiswa kedokteran :p).Untung ada bidan dan dukun tradisional yang menjadi 'garda depan' bagi layanan kespro di daerah yang tidak terjangkau. Itupun jumlahnya masih sangat terbatas. Kondisi ini sungguh mengenaskan bagi saya, tentu saya yakin  pemerintah tidak sanggup memenuhi poin ke 5 MDGs. Jangankan menjamin kesehatan ibu dan perempuan, pemerintah lebih suka membiarkan privatisasi layanan kesehatan dan membatasi anggarannya. Ckckckck... Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau sebuah bangsa tidak mempedulikan nasib perempuan. *Sigh


Seandainya rahim bisa ngomong dan bercerita tentang keadaannya, mungkin ada banyak kematian dan penyakit yang bisa dicegah. Sayangnya, semua perempuan (apapun statusnya) membutuhkan "perantara" untuk berbicara dengan rahimnya. Perempuan membutuhkan akses layanan kespro untuk kelanjutan hidup baik dirinya maupun sebuah bangsa. 

 
design by suckmylolly.com