




This is one of my favorite session. I took all at Schmutzer, Ragunan. Good place to runaway from your fucking spaces. Ever wonder how come it provides such a wonderful location?
Thanks to Carina as a beautiful and great model and Carolin Monteiro for those ethnic collections.
Jumat, 18 Juli 2008
Photo shoot for Change magz : Touch of Javanism
Rabu, 16 Juli 2008
Mendikte si Pendikte
Itu adalah hal-hal yang disebar-luaskan oleh industri mode lewat katalog terbaru, majalah, maupun komentar para pengamat mode. Biasanya tren dilihat dari rangkaian koleksi di berbagai Fashion Week mulai dari Milan sampai New York. Beralih ke koran, beberapa waktu lalu saya membaca artikel di sebuah koran (kalau tidak salah Media Indonesia) yang membahas tentang "The Sartorialist" sebuah blog milik Scott Schuman. Apa istimewanya blog ini? oke... saya adalah salah satu pengunjung setianya dan melihat postingan satu bulan di blog itu -menurut saya- jauh lebih bermanfaat dan masuk akal untuk referensi saya, dibanding majalah-majalah lifestyle bergengsi. Saya mengetahui blog ini sejak tahun lalu dari style.com yang menjadikannya link tersendiri. Setelah terdampar di blog simpel namun menarik ini, saya -terus terang- semakin percaya diri untuk bergaya sesuai kemauan saya. Blog ini berisi foto-foto berbagai macam orang dari berbagai kota di dunia (milan, new york, new delhi,dll) yang berpose mengenakan pakaian pilihan mereka sendiri dan dijepret oleh si Scott. Terus? Di mana letak menariknya? Yang menarik adalah orang-orang pilihan Scott itu memang orang biasa (common people) dan satu dua orang terkenal yang memiliki 'statement' tersendiri dalam berpakaian. Ada yang menggabungkan setelan t-shirt jeans dengan Doc Marten ukuran besar, ada juga yang hanya mengenakan black dress tertutup dengan turtle neck, polos tanpa hiasan namun terlihat sangat berkarakter, dan masih banyak lagi everyday-ordinary-but-cult style. Blog ini begitu terkenal di kalangan pecinta fashion bahkan banyak perancang terkenal yang menjadikan gaya-gaya orang tersebut sebagai inspirasi dan tampilan mood boardnya. Media-media besar macam Vogue, Elle, atau GQ juga kepincut dengan kumpulan common people dalam sartorialist. Gaya yang beredar di jalanan ini ternyata berhasil mendikte para pendikte di industri fashion. Padahal bisa jadi para model dadakan itu hanya memilih pakaian berdasarkan insting dan sama sekali tidak mendapatkan sentuhan brand-brand terkenal macam Loubotin atau Miu-Miu. Padu-padan karya mereka kemudian mengusik benak perancang yang sudah kehabisan ide dan mereka juga menjadi inspirasi banyak pengamat. Agaknya ini menjadi semacam produksi-reproduksi mode dan bagi anda yang termakan bimbingan industri mode nampaknya harus mulai cerdas dalam memilih.
Coba sekarang anda kunjungi blog tersebut (thesartorialist.com), oprek archive-archive lamanya dari tahun 2006 dan anda akan tahu bahwa kepercayaan diri dalam menentukan gaya anda sendiri itu timeless. Karena saya tidak melihat zipper jacket itu ketinggalan zaman. Jangan gadaikan koleksi lama anda, maksimalkan apa yang ada di lemari, dan jangan terjebak dalam lingkaran mode... Salam Sartorial !

Rabu, 11 Juni 2008
Bubarkan FPI atau Ahmadiyah?
Imagine there’s no religion…
(imagine-John Lennon)
Phiuhh…no wonder yaa John Lennon bikin lirik kaya gitu apalagi klo doi liat fenomena yang mendominasi layar kaca dan berbagai media di Indonesia akhir-akhir ini. Setelah sekian lama absen posting di blog, akhirnya saya udah gatel sekaligus gregetan untuk mencurahkan isi kepala dan pendapat tentang isu paling panas yang diawali oleh penyerangan FPI di Monas. FYI, salah satu teman saya jadi korban bahkan sampai dioperasi berkat keberingasan Laskar ‘Mengaku’ Islam. Ok… mendadak sekarang orang mulai ngomongin agama terutama islam yang dikaitkan oleh kekerasan dan Ahmadiyah yang terancam dibubarkan. Despite of those silly violence reasons, ini sih emang pengalihan isu BBM yang sebenarnya jauh lebih krusial. Lagi seru-serunya demo BBM dan nyalah-nyalahin pemerintah, ehh…muncul deh si Munarman yang ‘Sarjana Hukum’ itu. Beberapa jam yang lalu saya liat acara debat di TV one yang membahas kontroversi Ahmadiyah. Saya sedih banget liatnya, saya yang merasa islam, malu sama pembelaan orang yang Kontra Ahmadiyah di acara tersebut.
Orang-orang yang kontra Ahmadiyah dengan ‘hot’ nya ngomongin Allah, Rasulullah, Aqidah, dan banyak hal-hal yang Islam banget lainnya. Saya Salut sama wakil dari The Wahid Institute yang pro Ahmadiyah. Saya lega masih ada orang kaya dia di dunia ini. Kemudian, inilah isi kepala saya yang gregetan dengan statement ‘Ahmadiyah itu Sesat !!!’ .Duh (ala Gossip Girl)… who the hell are you? Memutuskan itu sesat ini halal, itu dosa, ini pahala. Saya aja bukan orang Amadiyah sakit Hati apalagi yang Ahmadiyah? Pertama-tama, saya yakin niat awal terciptanya konsep yang bernama ‘agama’ adalah baik. Sebagai pedoman hidup, pengatur pola perilaku, dan bagian dari membangun peradaban. Udah pasti agama tidak diciptakan untuk merendahkan satu pihak dan merendahkan pihak lainnya, untuk alat politik, untuk mengeksploitasi sesama manusia, apalagi untuk mendapatkan minyak.
Di abad 20 memang beda perangnya, sekarang jamannya fundamentalis vs non fundamentalis. Bencinya lagi nih, semua pihak berebut melakukan pembelaan atas nama agama. Yang ini bilang itu sesat, yang ini bilang itu kafir atau malah domba tersesat. And so on….nggak ada abisnya. Agama kok dijadiin pembelaan atas tindak kekerasan atau perang? Mana pake teriak-teriak “Allahu Akbar” lagii. Ckckck… taruhan deh, kalo Rasullulah masih hidup pasti dia sedih banget liat umatnya. Kok bisa ya kaya gitu? Untuk apa? Jihad? Umm…menurut saya jihad itu refer ke resistensi dan tentu bukan resistensi atas keyakinan seseorang. Kan sejarahnya Jihad itu untuk memperjuangkan islam dari dominasi yang bukan islam dan menindas bahkan melakukan tindak kekerasan ke orang Islam. Islam sendiri dulu dianggap sesat. Kalau rakyat Palestina, mereka berjihad untuk melawan kemarukan Israel that’s make sense. Tapi kalau Berjihad untuk membubarkan Ahmadiyah??? Hu uh..no…no..that’s not Jihad, frankly. Daripada beringas-beringas gitu mau bubarin Ahmadiyah ato ngancurin klub-klub malam, mendingan datengin tuh Exxon Mobil, Freeport, Newmont, ato bahkan Bakrie group untuk melawan pemerasan yang mereka udah lakuin sama negara kita. Mending juga tiru tuh Mahatma Gandhi yang against without violence.
Ada yang bilang agama itu sesat karena nggak sesuai dengan yang tertulis di kitab suci. Nggak sesuai dengan apa yang sudah diajarkan, dll. Umm…kalo mau berargumen pake kitab suci, wah udah susah tuh ngusutnya. Kitab suci kan bagian dari sejarah, yang pada jaman itu idup aja juga belum nih kita. Ada dua cara sih untuk memperkuatnya, yang pertama minjem mesin waktunya Doraemon, then we could chat with the prophets and do ‘live classification’. Yang kedua, tentu saja hanya dengan meyakini kebenaran dan keabsahannya. Cara pertama semua juga tahu itu nggak mungkin, cara kedua? That’s It! Di situlah poinnya! “yakin” hanya itulah satu2nya cara ‘meyakini sebuah kebenaran’. This is the issue of belief not what the bible said and dogma! Tuhan, agama, kitab suci, dan embel-embelnya berawal dari sebuah keyakinan.
Saya sering berimajinasi, what if I were born as a jewish?hehehe…nyatannya saya lahir dengan nama Afra Suci Ramadhan dalam keluarga islam yang religius. Saya besar dengan berbagai kegiatan ‘keagamaan’ seperti mengaji, mengkhatami Al Quran, menyambangi pengajian, berpuasa, shalat lima waktu, shalat sunnah, dan masih banyak lagi. Fortunately, hal tersebut tidak membuat saya mendefinisikan islam secara sempit apalagi fasis. Saya percaya semua orang berhak memiliki keyakinannya masing-masing. Satu-satunya yang membatasi hak manusia adalah hak orang lain. It’s not about God or any prophets, It’s about how you respect each other as a human being. Ada orang yang mengaku Islam tapi cuma sekedar identitas KTP, ada yang mengaku Haji tapi rajin poligami (pake nyontohin Rasul pula), ada yang mengaku rajin pengajian tapi kelakuan kaya setan. Orang emang aneh2 ya??hehhehe…… Malah jaman dulu pake jilbab aja dilarang di Indonesia, islam garis keras dianggap ancaman tetapi setelah penguasa rezim meanganggap agama sebagai kekuatan politik tersendiri, langsung deh semua dibuat sok Islami. (ress…. Banget…)
Apa yang coba saya katakan di sini adalah, kebenaran itu melalui perjuangan untuk menjadi ‘benar’ dan itu bukan kebenaran yang sekonyong-konyongnya muncul dan ada. Agama memang bagian dari identitas dan pelampiasan akan hasrat kesadaran kolektif tapi sungguh bukan bagian dari perilaku kekerasan dalam bentuk apapun. Coba deh kita tonton channel animal instinct pas adegan binatang2 yang berantem. Mereka aja nggak segitunya lhooo… Ahmadiyah hanya fenomena gunung ES yang berarti klo dibubarin cuma mecahin es yang diatas. Di bawahnya???ckckckck…mengerikan. Soal agama sebagai alat politik, ummm... ada satu quote “In a country with people mostly illiterate, it’s impossible to unite them with Marx and it possible only with Nationalism or Religion.” Ya klo nggak pake ganyang malaysia ya bawa2 Islam deh.
Saya percaya kalau memang surga benar adanya, pasti pelaku kekerasan atas nama agama nggak akan diizinin masuk dan menikmatinya. Ayolah… dunia ini bukan hanya milik kalian saja, bermiliyar2 manusia hidup di dalamnya. Sampai kapan mau saling membeda-bedakan dan Merasa paling benar?
-Fin-
There by The Grace of God
Listening to The Moldy Peaches and Coldplay’s Viva La Vida or Death and All of His Friends mp3 playlist
Kamis, 05 Juni 2008
Kamis, 24 April 2008
20 Days to 20 years old
Day 20 If tomorrow never comes
Akhirnya hari ke-20 tiba juga tepat nanti jam 12 genap sudah 20 tahun saya ada di bumi ini. Jika tahun-tahun kemarin saya berangan-angan apa yang akan terjadi setelah umur saya bertambah, kali ini saya ingin berangan-angan jika hari esok tidak ada. Yup… saya berimajinasi andai saja tanggal 24 April lenyap dari kalender saya maupun anda. Otomatis jika tidak ada tanggal 24, saya tidak akan berumur 20 tahun. Kok bisa? Ya semua bisa saja terjadi dari yang paling buruk hingga yang paling baik.
Seandainya besok tidak ada, berarti saya ingin menjadi manusia pada umumnya. Saya lelah mencari tahu banyak hal karena semakin saya tahu kenyataan yang ada semakin membuat saya enggan untuk terus ada di sini. Saya ingin stop membaca buku terutama e-booknya Foucault. Saya tidak ingin menelusuri Archeology of knowledge. Kalau memang benar Knowledge is the power, saya tidak ingin memiliki power tersebut. Saya mau tutup mata agar tidak tahu bahwa unilever membakar habis hutan
Saya ingin berhenti menulis, simpan saja semua kata-kata di benak terdalam agar orang-orang di luar
Is it true? Apakah saya benar menginginkannya? Hahaha….percaya atau tidak, di mimpi saya pun bayangan itu tidak pernah hadir. Hehehe….jadi kenapa dong saya ingin jadi seperti orang kebanyakan?
Hmm… mungkin jika tanggal 24 tidak ada, itu berarti saya tidak akan pernah merayakan ulang tahun, saya tidak akan lagi berefleksi pada diri saya sendiri. Lebih jauh, saya semakin terasing dari diri saya sendiri karena saya berusaha sekali untuk diterima masyarakat, untuk hidup dalam sistem, kembali mereproduksi budaya yang ada, dan diam mengikuti apa saja yang ada. Alih-alih diterima di masyarakat, saya semakin jauh dari tujuan hidup saya.
Pertanyaan itu terus menghantui pikiran saya, “Am I on the right track?” sudahkah saya membuat keputusan yang tepat? Dulu saya selalu berpikir tentang keberhasilan, bahwa hidup ini seperti rencana pemasaran yang harus menciptakan strategi agar berhasil mencapai tujuan. Tapi saya tidak ingin bergabung dalam IMK (Ikatan Masyarakat Kapitalis) yang menganggap bahwa hidup itu persoalan gagal atau berhasil. Hidup saya bukan bisnis dan saya tidak pernah berjudi dalam mengambil keputusan. Sesulit-sulitnya perjalanan saya, saya tidak ingin kembali ke awal, apa yang ada tinggal saya nikmati saja. Misalnya besok tidak pernah ada, itu artinya akhir dari cerita saya adalah seorang gadis 19 tahun yang masih punya banyak hutang tugas dengan dosen dan teman sekelompok saya, masih belum mampu memahami orang yang saya sayangi, dan masih ragu akan jalan yang dituju. Afra adalah perempuan yang dengan semanngatnya memberi pemahaman yang beragam pada setiap orang yang dia jumpai, seorang anak sulung yang belum cukup membahagiakan orang tuanya, dan seorang kekasih yang memiliki banyak kekurangan. Andaikan waktu berhenti di hari ini, nama afra suci ramadhan akan diasosiasikan dengan kutu buku pembenci matematika, dan tiba-tiba..
“Breaking news” di sela2 menulis, dimdim menelpon dan zapp…..di bilang ada di depan rumah!!! Waduh! Segera tadi saya turun ke bawah, and he bring me present, a backpack that I’m dying to have, he warn me not to open it till he call me again. Geeeezzzz….i’m so speechless!! Mendadak gagu rasanya…Thanks a lot dimdim…U bring me plenty surprises that I always fascinated by them.
Ok lanjutt….
Afra diidentikkan dengan weezer, girl from mars (kata seorang teman yang beranggapan bahwa saya tidak memiliki sifat venus), pendengar musik2 aneh, menulis, jurnal perempuan, komunikasi UI (which I’m not proud at all), kuliner traveller, kenek metromini (karena saya hafal jalan dan angkutan umum di
20 Days to 20 years old
Day 11-19
Day 11
Always hate to wake early in the morning. Became so common for coming late to Philosophy and Ethic Communication class. Hip hip hurray, there’re no lecture for second term, I spent my time waiting for rain with my friend Ciwil. It’s always funny to hear his blurbs and stories. Then, I went to Ogilvy Action office for doing ADOI interview. Today’s not really hard though numb feeling still tangled in my head.
Day 12
Nothing happens today. Everything’s in a right place, the schedule went so smoothly from global marketing class to Editorial brainstorming. I thought I was the laziest girl on earth today, really effortless and sleep all the day. I did many sophisticated conversation and finished my homework quickly.
Day 13
I really wish I could understand my seminar lecturer’s mind. He’s kinda in between outrageous or out of mind. It always wasted for being in his class. I put my sympathy but I think everybody in his class will agree to ignore him. Sorry anyway Mr. Ari. I know you are such a revolutionary one yet you never get out of “Habermas thing”. I always waited for Marxist discussion on the class and it never happen actually. He does so critical. Maybe my mind (and of course everybody in the class) just cannot fit into his. In opponent, I love today copywriting class anyway, my guest lecturer is a famous writer. She is Prima Rusdi, the one with short story that I always love. She taught us many great things and tips, not only for our carrier but also for my dreams. I wanna be like her always. She looks so in love in writing, so passionate about movie, so nationalist, and so critical. What a beautiful mind she has!
Day 14
Day went on like other Thursday, not in a hurry. After advertising class I had to go to ADOI office after a week before. I can’t stand on
Day 15
We love Friday aren’t we? How couldn’t we love it? Only one class, tomorrow is gonna be Saturday and you’re having plenty of time to be wasted. Unfortunately, I have to attend guest lecture and it will take too far from Woman Journal foundation office. Imagine the distance, Ampera to tebet! Oh no, oh my (like
Day 16
We’re (me and my friends) longing to meet our seniors to share experiences and knowledge. I hate starbucks but had to come in because of the gathering or mentoring. Time went fast and I have to live, I have to go to Blitz with my dimdim. Yup! We’d like to watch another French movie. We’re participated in the festival as good audience who choose right movie. The movie named Les Deux Mondes or two worlds maybe in English. The movie had stunning story but the atmosphere was just not right this time. I didn’t like part in that movie, I hate break up lovers. It seemed so wrong and we’re all agreed, no one like that moment certainly.
Day 17
Sunday ? Felt the Futsal ambience while accompanied dimdim’s game. Since it will help my AXE futsal version campaign. Finally, I’ve found my Campaign’s tagline. “No Score without Goal, No Goal without Score” FYI it’s for AXE Score variant.
Today just waste great time with dimdim. I am reading an awesome book, ‘Eat, Pray, Love’. It’s just sooo…. Me! The author seems have many things in common with me. It’s a must to read! Elizabeth Gilbert went to
Day 18
I hate Monday. Luckily, thanks to Dove Brand Manager, Mba Ika who’s so chic and pretty, for lending her hectic time to be interviewed. It’s for my research task sake and she’s so cooperated with any question. The lovely one came, She also offered walls Ice cream. Ummm….yummy!
I had to submit some articles for ADOI, It’s already deadline. No one love the dead line, we’re hopping live line.hahaha……
Day 19
This week is no attending-lecture week. I say off to college. I don’t want to go there. I want to use my chance for absent. Luckily, my lecturer didn’t present, he’s also absent. So today I was saved. Since several days ago I always think about something that I can’t describe, even to myself,what it’s all about. The more I searched the stability the closer myself into instability. The more I tried to erase the more it present. Leaving is just as impossible as staying. The more I wanted to complete it the more I lost it. Many questions flew inside my head, some might answered yet another never be. What becomes my soundtrack is a hopeless song, such as: only in dream-weezer, goodbye-asobi seksu, or against the tide –radio dept. I’m so thankful that I believe in God, I have a private conversation with confidential guarantee. I want to apologize to people surround me, I acted so weird, my mind rather skipped, and my emotion became so unpredictable. Ok then,I finish my day with weezer’s ….”If u want to destroy my sweater…. Oooo…”
Minggu, 06 April 2008
20 Days to 20 Years Old
Prologue
Soon, only in 20 days later, I will officially passed my teenager era. Some might say that teenager is the only phase where u allowed to be that rebel, expressive, play around, and make a fast decision in uncertainty. Is it true? So, will I become impressive, pragmatist, serious, and making decision with considerations when I turn into 20 ??? Honestly, I always want to be the rebel, expressive, and hilarious one. What will happen then on my way to be 20 years old girl? Let’s figure it…
Day 1
Its raining on the street. Me and my Editor in Chief needed shelter to be saved from the wetness. We’ve just got back from Sanggar Anak Akar a place for keeping and maintaning street children. I saw there, a child asked the elder about religion, prophet, heaven, and hell. What an innocent child u are… (how about u adult?). Then lunch in Tifa foundation office, actually I almost bewildered by the lunch conversation, its quite distinctive. They talked about public policy, politics, and others. Thanks for them I got a knowledge lunch too. My day end up with my daily reading, Erich Fromm “What kind of men, then, does our society need? What is the ‘social character’ suited to 20th century Capitalism? It needs men who co-operate smoothly in large groups ;who want to consume more and more, and those whose taste are standardized and can be easily influenced and anticipated” Hopefully, I’m not one of them.
Day 2
According to plan, me and my dimdim would go around Jakarta to meet several people for business sake. He (dimdim) seemed not in a good condition since 2 days ago affected by his side job deadline. I didn’t allow him to be that way actually. But there’s something that have to be finished. The nightmare came when he picked me up, he looked so pale and powerless. I couldn’t stand to see him like this and I went to nearest drugstore to buy medicine. He’s getting worse and I knew, I should call his family to get him. Thank God, his brother came and took us to his home. I hated him for resisting my offer to meet the doctor. I knew he need doctor so bad, but he insisted not to. I respected his decision and decide to stay, take care of him by my self. I wanted to be on his side…
While I was guarding him, I read a book, conversation with Pramoedya A. Toer. It was really a good book, burn my spirit. Pram has left us, but not his messages with the total revolution spirit. He said “Saya rasa, Indonesia sudah tidak bisa tertolong lagi, kecuali dengan melakukan perubahan yang radikal. Dan ini harus dipimpin oleh angkatan muda. Jangan banyak bicara, harus langsung bertindak!”
Day 3
Today I accompanied my dimdim. His body still remained suffer but already recovered. All day long we read funny illustration book by benny & mice which was so sociologically witty & silly. Took a rest and emptied the brain… Wondered tomorrow activity. Already hate the pattern, bored, blanked, numbed, fucked!
Day 4
Woke up in the morning, so lazy… Communication ethic lesson, like usual not interested. Gathered with my task group talked about tomorrow presentation. Deadline always pissed me off.
Day 5
I had chanced to watch the most sensational movie more than the box office one. Fitna this movie called and its name exactly reflected its content. Its provocative, political purposed, and having no direction at all. But religion is one of the most sensitive issues. Only one question in my mind. What do they search for anyway?
Day 6
Hectic… full class attendance. But I was having precious class with Prima Rusdi on my copywriting class. I had to fight for my group thesis. Got to find my lecture soon. Caught the train, finally I got it. Silly things that I always do on the train are starred to everyone near me, observed what’s going on here, and sleep for a while. I had successful dinner with dimdim, I dreamed on pasta then I eat pizza and garlic bread. Yummyy……it seems so rainy hard everyday. Luckily I will start my class at afternoon tomorrow, so I can have sleep more… hip hip hooray!
Day 7
Washed and Ironed clothes, watched oprah, showered my hair. I always love Thursday. Everything goes slowly and easy. Just no rush, follow the rhythm, no hurry at all. But I had to attend editorial meeting at the office. Brainstorming for upcoming edition, stuck but then relieved. Finally, Friday tomorrow…Please no college homework, I’ already fed up!!hahahaha….
Day 8 “Important day”
Why this day became necessary? First thing, umm… My not-quiet-new Cell phone was almost lost at campus. Almost? How come?Ok…explanation: I drowned in my cyber world diving moment through Hotspot UI speedy wi-fi. I guessed I was drowning too deep in my Powerbook screen so that I couldn’t realize, I have a black Sony Erricsson Phone. Yup, when my friend came to me, I recognized my cell phone, which I bought with my own money for half, had successfully vanished into nowhere. I kept searching but it turned to zero. I was kinda panicked a lot for 15 first minutes. Then I could think about it slowly and just pass this moment. It mentioned as ‘almost lost’ because after 1 hour its lost, someone called Mas Iwan from Fisip D3 administration had found my beloved cell phone and he ringed my Dimdim. So say thanks to my Mas Iwan (for finding my precious one), Dimdim (for being patient with my temper), and God (For giving chances to keep the cell phone well next time). Second events, I was having adventure with my friend Inal. We had to meet a guest lecture at Kedoya and there were no idea at all in our heads about how to get there. I convinced Inal that Jakarta is a kind of tropical forest, which is so adventurous and challenging to be conquered. Followed with ‘asking street’ method we could reach at the location successfully and it proved my statement, we could conquered the-long-long-trip to get there. We’re now ready to be compared with Dora the Explorer!
Day 9
Saturday Night always impressed me. The night always let me to try any kind of place, food, movie, anything! Tonight I surveyed a place for my upcoming project and it’s located at the Ancol sea shore. I think It’s a happening place in Jakarta nowadays. It’s Segarra, a dining at the edge of the Ancol Beach. They offer expensive supper and it became torturing for your skin since you had to battle with mosquitos. They pricked my feet a lot. Huh! It’s true a fine dining surrounded by tropical beach, packaged with tropical insect (mosquitos).
Day 10
Today is Sunday. Time to set my room again and do my college homework. Luckily, I’ve spare time at evening and like usual, I spent it with Dimdim. We went to cinema, watched French Movie festival “La Vie en Artiste”. Comedy movie with heart touching message. We ended by licking gelato mascarpone and choco caramel. Yummy…





