Rabu, 22 Juli 2009

Ode to Runaway


What does make you smile while you are looking forward?

"I've been thinking about you", you said simply.

Why do so, if I'm already beside you?

"I've just been guessing what's inside your mind maps", you answered.

Then please forgive me, I never intend to disturb your "redundant" thoughts.


We should not argue about those fake plastic trees.

Let me seal your lips with intriguing maneuver.

Leave behind the unrealistic reality.

Postpone all fear of contemporary civilization.

Slow down and swallow this lover's spit.


Don't bully your own faith.

"Why should fall on nihilism?", you asked

"Should we put our trust into one thing?, I replied.

"Just trust me that true love waits", you stated certainly

"I hope it will worth the wait then..."



* This lyrical poem was inspired by those six deadly love songs 

Senin, 20 Juli 2009

Which one do you prefer?



An import product with brand which supports no animal testing, fair trade, againsts domestic violence, and runs a HIV/AIDS campaign OR a local product with unknown reputation of fair trade, animal testing, and sort of csr program?


This question came up in my mind and it started from a decision-making process while I was looking for compact powder. Yup, my cosmetic-product- discovery  has lead me into a tricky consideration and long disputeable thought. As if I was a president, about to make a decision in cutting gasoline price endowment. But it's really serious question. Please help me to think about this, and it would be great for also recommend me something better.


The first choice will make me looked like a consumer with responsiblity and so called ethical one. But, hey...! It's an International brand! And behind the brand, there is a multinational  company which will fly your money away to Paris. To its home where the brand headed. I might declare I'm a consumer with a social concern perspective, but the local industry in my country will fold its carpet (what a paraphrase!), they soon will run out. Because people in this country, like me, just keep their mind with Import commodities which had succesfully build their brand image. In the other hand, the wheel of local industry stop and going to leave thousand people unemployed. Congratulation... you're so virtuous then!


The other choice's position seems so obscure. This local brand has no records of meaningful CSR programs. Rather to stop domestic violence and build women's self esteem, this brand prefer to support a beauty pageant or cover girl competition. Its advertising campaigns eventually, show their concern in utopian beauty. Then, how this image could stimulate audience's  (most of them are women) effort to get closer to that kind of beauty. But as a local commodity, we (local people) could feel proud with this brand. I heard this brand and some from its company product, had been distributed internationally, throughout Asia and Europe, especially their Spa product range. Great job indeed, to hear our local product considered so exotic and natural because the international buyer viewed them as 100% Indonesian product. This step had certainly lifted income of our country. Despite of their utopian beauty image, at least they still attached local identity to their meaning of beauty. They always said that the women who wear this product will bring up the Indonesian Beauty. hahaha....


So why did I take my personal purchase confusion seriously? Because I believe in microeconomic domino effect. I assume that destiny of the local cosmetic industry labour had strong correspondence with my purchase decision. I'm afraid I could trapped in international mega brands false perception. I really don't wanna be a Must-Have-Brand Complex or syndrome. Just because our nation's economy didn't grow as well then we think there's nothing to do about it since we're not as smart as Sri Mulyani. To support our economic growth is not that difficult as financial investment, obligation, and other sophisticated financial instrument. The raise of our purchasing power and amount that we spent will only contribute a fictitious growth, if we keep spend it on import brands. Anyway, I'm not a supporter of a vice president candidate who seems like buy-local evangelist in ads but I consider every act in my financial transaction will be counted. So let's end this never-ending confusion. Phiuhh....like our beloved adbuster campaign said " Why buy into megabrands and their fake marketing cool? Get Free, Go Indie, Buy local, and make every second count." 








Selasa, 30 Juni 2009

momentum itu tiba begitu saja

Tidak sampai 5 menit,
Tidak membuat keributan,
Tenang...
Hanya mengejutkan
Tidak ada aba-aba
Apalagi peluit dimulainya lomba
Tapi telah melampaui garis akhir
Secepat kilat
Seperti gempa besar yang sebentar
Dalam waktu sekejap meruntuhkan apa saja
Ya... benar....!
Apa saja...

Kita sudah dewasa
Pembenaran untuk sebuah kebaikan
Semua pasti ada jalannya
Ungkapan malas cari solusi

Mudah-mudahan tidak nyata
Hanya mengada-ada
Setengah tidak percaya...

Sigh....

Takes time to digest

"Never Trust Men, They Lie and Bubble Alot"

Rabu, 17 Juni 2009

"The Power of Tag"



Bisa dibilang, saya termasuk anggota baru Facebook. Ibarat anak sekolah yang kesiangan, saya termasuk yang telat dalam mengadopsi tren Facebook. Ada satu teman saya yang pantas dinobatkan sebagai Facebook Master, karena dia memanfaatkan Facebook dengan maksimal. Mulai dari mengorek sedalam-dalamnya informasi tentang seseorang, hingga mengangkat isu tertentu untuk disebarluaskan. Dia pula yang membujuk saya untuk membuat account Facebook. Saya akui, tadinya saya memang agak anti Facebook dan sempat mengkritiknya sebagai efek samping teknologi Web 2.0 yang menodai privasi dan interaksi manusia seharusnya. Agak konservatif memang, karena waktu itu saya berpikir bahwa saya tetap 'mengada' bagi diri saya ataupun orang lain tanpa perlu sign up Facebook. Sampai akhirnya model interaksi manusia di sekeliling saya terasa bergeser dengan pertanyaan "Facebook lo apa?" atau permintaan "Add FB gue ya Cin!". Akhirnya saya terseret ombak dan bergabung dengan Facebook. "Welcome to the club Cin!" tanggap teman saya Si Master Facebook tadi. Percaya atau tidak, selama 3 bulan punya FB, saya belum pernah meng-add orang tapi saya tetap kedatangan permintaan confirm. Entah bagaimana, saya berhasil mengumpulkan sekitar 100-an teman, tanpa pernah 'menjemput bola'. Gokil banget kan mahadaya si Facebook ini?!! Hal ini tentu nggak mungkin terjadi dalam interaksi biasa, kecuali anda secakep Luna Maya atau Christian Sugiono. 


Ada satu hal yang mengusik saya sejak kali pertama terdaftar sebagai anggota facebook, yaitu soal "Tag Photo". Saya kembali dibuat heran dengan bertambahnya album foto saya, padahal saya nggak pernah upload foto kecuali untuk profile pictures (bahkan sampai sekarang profile picture saya kurang dari 8). Inilah ajaibnya si "Tag Photo". Teman-teman saya yang Facebook trendy (selalu update FB-nya) dengan setia men-tag saya di foto-foto yang doi upload. Men-tag? Yup, Men-tag! That's it! Saking "happening"-nya kegiatan ini, hingga memunculkan kosa kata kerja baru dalam perbendaharaan kata kita. Saya belum nemu padanan bahasa Indonesia sampai saat ini, mungkin ada yang bisa menambahkan? Soalnya sempat mengganti "men-tag" dengan "masukin" (contoh: Tag gue dong! atau Masukin gw ya!) tapi terdengar kurang enak bukan?hehehe 


Perihal men-tag foto ini juga kerap jadi sengketa (lebay ahhh) di lingkup sosial kita. Tidak terhitung peristiwa-peristiwa menggemparkan akibat perilaku "Tag- men-Tag" yang tidak bertanggung jawab. Semua orang bisa mengalami keduanya, sebagai pelaku atau sebagai korban. Pernah ada satu teman saya, yang memang dianggap sebagai seksi dokumentasi angkatan di jurusan saya, mengupload plus men-Tag foto-foto kami seangkatan di era Ospek. Semua orang tahu, era ospek di zaman perkuliahan (kebetulan jurusan saya feodal akut, ospeknya satu semester) bukanlah masa kejayaan atau era yang bisa dibanggakan. Kita semua adalah itik buruk rupa yang belum berevolusi menjadi angsa. Versi halusnya, kepompong yang belum secantik kupu-kupu. 


Namanya juga kelakuan junior pas ospek, sudah pasti nggak ada yang bener. Tampilan fisik maupun perilaku kita pada saat itu memang sungguh mengenaskan dan tercermin jelas di puluhan foto yang di-tag oleh pelaku. Jelas saja semua Aib dalam foto tersebut telah menjebloskan kita (korban) dalam kategori kasus pencemaran nama baik atau bahkan pembunuhan karakter (Jiahhh....emangnya RS OMNI!!). Mengingat live update-nya sangat bisa diakses dan dilihat siapapun yang menjadi teman kita, habislah citra baik nan imut yang sudah dibangun. Tidak terkecuali saya ya...! foto saya dengan pose amburadul dan candid (karena sedang tidur) mengundang cercaan dan pujian (nggak mungkin banget dipuji!hehehe). Saat mengetahui itu saya hanya bisa " Sigh...." menghela nafas panjang. Nah, mullianya saya, sama sekali belum pernah melakukan perbuatan tercela itu. Mungkin karena saya suka males upload plus nge-tagin semua anggotanya. 


Saya kira, foto itu sudah hangus... atau minimal tersimpan di kotak pandora lah. Tidak akan ada yang berani membukanya. Apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Foto-foto aib itu sudah terlanjur diunggah dan di-tag, syukur-syukur hanya segelintir yang melihat. Tapi kalau lagi apes, yah.... habislah anda. hahaha Akhirnya kritik awal saya tentang FB sukses menyerang saya sendiri. Ini memang risiko yang harus ditanggung dalam penggunaan teknologi situs jejaring sosial 2.0. Mungkin ada pintu bernama privasi yang menjaga saya dari dunia luar (publik). Sayangnya materi pintunya ternyata kaca (transparan pula. bukan kaca film yang mahal!), jadi tidak menghalangi pandangan dunia luar (publik). Jadi inget kata si engkong Marshall Mcluhan dengan generasi pos-literasinya (postliterate). Bagi generasi ini, privasi adalah kemewahan atau kutukan masa lalu. "The planet is like a general store where nosy people keep track of everyone else's business.Jangan heran kalau FB memang surganya orang-orang GU (gila urusan) yang bisa mengoprek info anda sesuai kebutuhan. 


Selain mengeluh tentang "The power of Tag" saya tidak lupa ingin memuji inovasi ini. Selalu ada hikmah di balik setiap musibah (prett!) begitu juga "Tag Photo" ini. Hikmah ini saya peroleh dari seorang teman yang men-tag foto-foto semasa kelas 3 SMP yang terlihat jadul dan uncool di era sekarang ini. Semua orang punya pengalaman dalam masing-masing fotonya dan manfaat foto tentu untuk dikenang. Reaksi kita saat foto-foto jadul itu di-tag tidak jauh dari " Hah? Gue tuh? Cupu berat!" atau "Sumpah, itu kayanya bukan gue deh!" atau versi positifnya "ya ampun... imut banget ya gue waktu itu!". Foto yang nampaknya dipindai (scan) itu sungguh menggugah memori masa lalu, jadi inget waktu ini, inget waktu itu. Tapi kehebatan "The power of Tag"  tidak berhenti sampai situ, dengan sistem Tag tersebut lah reuni bisa diselenggarakan atau silaturahmi terputus mulai terjalin lagi. Semenit setelah foto SMP saya itu di-tag langsung muncul ide reunian, teman-teman yang namanya belum di-tag bisa ditambahkan atau saling mencari yang belum di-tag. Dalam waktu 1 hari sudah terkumpul 20-an orang yang insya Allah menjalin silaturahminya lagi.



Harus diakui, Facebook membawa foto atau gambar ke tingkat selanjutnya. Mungkin kalau mau nyari anggota keluarga yang hilang bisa upload fotonya dan men-tag orang sebanyaknya, bisa membantu. Foto yang tadinya hanya sekedar mengabadikan momen penting dan nggak penting untuk dikenang kemudian hari, menjadi sebuah sarana untuk memperkuat jejaring. Lost and Found mungkin singkatnya. Bisa jadi ada pasangan yang 'jadi' gara-gara aktifitas Tag foto ini, siapa tahu? Foto tidak pernah seinteraktif ini, dengan satu foto yang bisa mengundang puluhan atau ratusan comment bersahut-sahutan. Saya sampai detik ini masih terkagum-kagum karena ternyata gambar-gambar itu tidak stuck di satu penikmat melainkan siapa saja bisa men-tag dan mengundang bermacam interpretasi plus komentar. Kalau dalam kategorinya Mcluhan, Foto sekarang menjadi medium yang cool karena respon-respon manusia yang di-tag. Sekarang secara harafiah saya percaya bahwa gambar berbicara lebih. Lebih rame, lebih seru, lebih 'greget', lebih ancur, ... (tambahkan sendiri sisanya)


 


























Senin, 25 Mei 2009

STOP SHOP AT SWEATSHOP






Ayo kita bikin daftar barang impian yang selama ini ingin kita beli:


Apakah itu sweater garis-garis dan kaos polos merk GAP yang dipakai Pete Wentz di iklannya?


Apakah fashion item pilihanmu itu berupa ankle boots kulit keluaran butik high street asal Spanyol bernama Zara?


Iklan Kate Moss for Topshop membuatmu ingin memiliki one-shoulder dress seperti yang dikenakan oleh supermodel keren itu?


Mungkin kamu sudah lama mengidamkan desain klasik dari celana Levi’s seri 501?


Atau ternyata sepatu Nike Dunk warna-warni limited edition yang harganya bisa membuat kamu stop jajan di kantin sebulan?


Sekilas tidak ada yang salah dengan barang-barang impian tersebut, tapi sepertinya kamu perlu lebih cermat dalam membeli sebuah produk. Bukan saja karena harganya yang mahal tapi kisah dibalik sweater garis-garis GAP atau sepatu Nike itulah yang perlu kita ketahui. Produk-produk keluaran merk global ternama itu sebenarnya memiliki harga lebih dari sekedar angka yang mereka cantumkan di labelnya. Ada banyak produk yang kita konsumsi sehari-hari atau fashion item yang membuat kita terlihat trendi setiap saat, berasal dari Sweatshop. Hmmm… toko apakah itu Sweatshop? 


Sweatshop adalah sebutan untuk pabrik atau tempat produksi (workhsop) yang memperkerjakan karyawan atau buruhnya dengan upah rendah, jam kerja yang panjang, tanpa jaminan dan dalam kondisi yang tidak layak. Istilah Sweatshop berangkat dari era awal revolusi industri (1830) untuk menyebut “Sweater” tipe orang yang menjadi perantara bagi pemilik modal dan pekerja yang memeras tenaga atau keringat (sweat) para pekerjanya dengan kondisi pabrik dan kontrak seperti di atas. 


Seiring dengan berkembangnya dunia industri dan perdagangan yang semakin mendunia, istilah itu tidak hanya berlaku di Inggris, namun identik dengan pekerja di negara berkembang, seperti negeri kita tercinta ini. Di era yang sering disebut sebagai era ‘globalisasi’ ini, proses pembuatan suatu produk tidak harus terletak di tempat merk itu berasal. 


Contohnya sepatu Nike tersebut. Seperti yang kita ketahui, merk Nike berasal dari Amerika Serikat, tetapi jika kita cermati di tag (label) produknya, sering kita jumpai tulisan ‘made in china’, ‘made in vietnam’, bahkan ‘made in Indonesia’. Ketika sudah memasuki era post-industrial, si merk Nike yang tadinya diproduksi di negara asal, mulai memindahkan pabriknya ke negara dunia ketiga. Kira-kira kenapa mereka memilih pabrik yang lebih jauh ya? Jawabannya singkat, hal ini dilakukan untuk mengurangi ongkos produksi. 


Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, standar upah tenaga kerjanya sudah cukup tinggi dan spesialisasinya sudah bergeser menjadi pemasar (marketing) merk, bukan lagi produsen produk. Sedangkan di negara berkembang seperti Indonesia, standar upahnya masih rendah. Selain itu, peraturan tentang ketenagakerjaannya juga masih longgar, tidak seketat di negara-negara maju. Sehingga akan lebih menguntungkan bagi produsen untuk memindahkan proses produksi di negara dunia ketiga tersebut.


Nah, merk-merk yang disebutkan di atas termasuk beberapa produsen yang memiliki Sweatshop di berbagai negara, seperti Cina, Vietnam, Chile, Indonesia, dan lain-lain. Di pabrik yang menjadi mitra mereka, buruhnya tidak mendapatkan upah yang layak, jaminan kerja, dan jam kerja yang panjang. Semua ini dilakukan demi mengurangi ongkos produksi, sayangnya murahnya ongkos produksi nggak berimbas ke harga produknya. 


Bayangkan, untuk sepasang sepatu Nike yang bukan limited edition saja kita harus membayar minimal Rp 200.000-an bahkan lebih dari Rp 600.000-an. Coba kita bandingkan dengan pendapatan buruhnya yang sebulannya hanya bisa mengantongi Rp 900.000-an yang berarti mereka hanya mendapatkan RP 30.000,-/harinya. Bahkan dari buruh-buruh tersebut ada yang sudah bekerja selama 10 tahun dan pastinya tidak mampu beli sepatu Nike Dunk nan trendi itu.


Kita tentu tidak ingin terlihat fashionable atau gaya di atas penderitaan orang lain kan? Sebagai konsumen, kita sebenarnya punya peran untuk merubah keadaan tersebut. Salah satu caranya adalah menjadai konsumen yang etis (ethical consumer). Jadi kita tidak hanya dibutakan oleh merk ataupun modelnya, tetapi juga memperhatikan asal muasal produk tersebut. Apakah mereka telah memberlakukan perdagangan yang adil lewat penjualan produknya. Sehingga pada akhirnya dengan protes dan boikot, produsen mulai memperhatikan kesejahteraan pekerjanya. So for now, be ethically fashion darlings!



*Artikel ini akan muncul di rubrik Change_Fashion di Majalah Change (free magazine) klik di sini untuk keterangan lebih lanjut.

Kereta Maya





Menanti hingga Ia berhenti

Masuk saat pintunya terbuka

Tengok kiri dan kanan 

Adakah sela yang tersedia


Bergantung erat pada ruas berongga

Jatuhkan lamunan 

Arahkan mata ke berbagai penjuru

Pemandangan antar dimensi 


Layaknya kehidupan

kesempatan pantang disia-siakan

tidak ada kepastian

tapi semua memang tentang kesabaran

Siapa sabar dia dapat


Biar sesak terjejal penglaju

tidak akan lelah ia menunggu

terselip suara menderu

diiringi sebuah lagu 

dalam hati Ia tak pernah berhenti merindu...

 
design by suckmylolly.com