Rabu, 11 April 2012

24 songs for 24 years

3rd Song: Tom Waits - Dead and Lovely





She was a middle class girl
She was in over her head
She thought she would
Stand up in the deep end

He had a bullet proof smile
He had money to burn
She thought she had the moon
In her pocket

But now she's dead
She's so dead
Forever dead and lovely now

I've always been told to
Remember this...
Don't let a fool kiss you
Never marry for love

He was hard to impress
He knew everyone's secrets
He wore her on his arm
Just like jewelry

He never gave but he got
He kept her on a leash
He's not the kind of wheel
You fall asleep at

But now she's dead
Forever dead
Forever dead and lovely now

Come closer, look deeper
You've fallen fast
Just like a plane on a
Stormy sea

She made up someone to be
She made up somewhere to be from
This is one business in the
World where that's no
Problem at all

Everything that is left
They will only plow under
Soon every one you knew
Will be gone

And now she's dead
Forever dead
Forever dead and lovely now

Now she's dead
Forever dead
Forever dead and lovely now

I've always been told to
Remember this...
Don't let a kiss fool you
Never marry for love

Everything has it's price
Everything has it's place
What's more romantic
Then dying in the moonlight?

Now they're all watching the sea
What's lost can never be broken
Her roots were sweet
But they were so shallow

And now she's dead
Forever dead
Forever dead and lovely now

And now she's dead
Forever dead
And she's so dead and lovely now

24 songs for 24 years



2nd Song: UNKLE - Lonely Souls




God knows you're lonely souls
God knows you're lonely souls
God knows you're lonely souls
Yeah, yeah

I believe there's a time and a place
To let your mind drift and get out of this place
I believe there's a day and a place
That we will go to, and I know you wanna share.

There's no secret to living (There's no secret to living)
Just keep on walking
There's no secret to dying (There's no secret to dying)
Just keep on flying.

I'm gonna die in a place that don't know my name
I'm gonna die in a space that don't hold my fame.

God knows you're lonely souls
God knows you're lonely souls.

I believe there's a time when the cord of life
Should be cut, my friends (Cut the cord, my friend)
I believe there's a time when the cord can be cut
And this vision ends (Let this vision end).

But I'm gonna die in a place that don't know my name
And I'm gonna cry in a space that don't hold my fame.

Walking in the cold
Just keep on flying
There'll be a searchlight
On the mountain high
God knows you're lonely souls
God knows you're lonely souls
God knows you're lonely souls
God knows you're lonely souls
Yeah yeah yeah yeah yeah
I'm a lonely soul.

I'm gonna die in a place that don't know my name
I'm gonna die in a place that don't know my name.

God knows you are lonely souls
Lonely souls
Lonely souls
Lonely souls
I'm a lonely soul.

So long, little chapel
???
Pack up your light
Pack up your light
Say goodbye to the holy water life

Minggu, 08 April 2012

24 songs for 24 years

1st Song : Arctic Monkeys - Love is A Laserquest





Do you still feel younger than you thought you would by now
Or darling have you started feeling old yet?
Don't worry I'm sure that you're still breaking hearts
With the efficiency that only youth can harness

And do you still think love is a laserquest
Or do you take it all more seriously?
I've tried to ask you this in some daydreams that I've had
But you're always busy being make believe

And do you look into the mirror to remind yourself you're there
Or has somebody's goodnight kisses got that covered?
When I'm not being honest I pretend that you were just some lover

Now I can't think of air without thinking of you
I doubt that comes as a surprise
And I can't think of anything to dream about
I can't find anywhere to hide
And when I'm hanging on by the rings around my eyes
And I convince myself I need another
For a minute it gets easier to pretend that you were just some lover

When I'm pipe and slippers and rocking chair
Singing dreadful songs about summer
Will I've found a better method of pretending you were just some lover?
Will I've found a better method of pretending you were just some lover?

Minggu, 01 April 2012

Kelas Menengah, Berfungsilah...




Hei kelas menengah, mimpi apa semalam?


Mimpi membangun rumah lengkap dgn halamannya?

Melihat john Mayer di Java Jazz?

Liburan tengah/akhir tahun di Phuket dgn promo AirAsia?

Merayakan pernikahan dengan pesta kebun?

Naik jabatan atau promosi di lain divisi?

Melunasi cicilan Grand Livina seketika?

Mendapat bingkisan iPhone 4S lengkap dengan Siri-nya?

Mendapat bonus pulsa unlimited untuk update status?


Ayo Bangun!


Indonesia sudah lelah

Karena Semua berlomba-lomba dgn fahamnya

Indeks pembangunan telah kadaluarsa

Perekonomian kreatif berjalan entah ke mana

Pendidikan tidak lagi menyisakan lahan

Social Media bukan segalanya

Ketidakadilah butuh tindakan

Kekerasan butuh perlawanan

Karena diam bukanlah jawaban


Ya, karena diam bukanlah jawaban... Sekian


Sabtu, 31 Maret 2012

Ideologi: Apa Artinya untuk Masa Kini?




Sudah lama saya tidak mengobrol lama dengan Papa, mungkin terakhir kali saat membicarakan makna pendidikan S2 saat saya baru lulus kuliah. Suatu waktu, 3 tahun setelah saya lulus kuliah, saat sedang menonton saluran TV BBC yang sedang menayangkan dokumenter si tampan Simon Reeve, Tropic of Cancer, percakapan mendalam pun terjadi secara tiba-tiba. Jam setengah 2 pagi, tanpa basa-basi Papa bertanya ke saya: "Jadi, ideologi kamu apa?". Reaksi pertama bisa dipastikan saya terkejut, lalu bengong. Ya iyalah bengong, orang tua macam apa yang nanya pertanyaan kaya gitu jam 2 pagi? hahaha Kemudian saya menelan ludah dan bertanya apa maksud pertanyaan Papa. Dan beliau menjelaskan bahwa dia menanyakan apa ideologi yang saya jadikan pegangan tindakan, sikap, dan tujuan hidup saya. Saya pun tercekat. Terus terang campur aduk rasanya. Seperti ditampar tapi di satu sisi tamparannya lembut dan penuh perhatian. Pada waktu itu, kepala saya kosong mendadak. Saya tidak bisa menjawabnya. Tapi kemudian saya bilang kalau saya berpegangan pada suatu ide di mana kesetaraan, keadilan manusia, dan ketiadaan dominasi kekuasaan menjadi tujuan dan cara pandang keseharian. Papa terdiam sejenak, dia berpikir, kemudian dia bertanya: "Apa Islam bisa masuk ke dalam ide yang kamu maksud?"


Sial, pertanyaan kedua ternyata jauh lebih susah. Lantas, saya menjawab: "Aku percaya Islam itu punya semua ide yang aku maksud, begitu juga sebaliknya, ide yang aku maksud emang ada di Islam". Sebelum disamber dengan pertanyaan ketiga, saya langsung bilang:"Tapi nggak semua orang yang percaya Islam, percaya dengan kesetaraan atau keadilan Pa. Mungkin mereka lebih percaya sama uang, atau mereka lebih percaya sama neraka dan pahal dibanding percaya sama Islam itu sendiri." Papa pun membalas pernyataan saya dengan ceramah selama lebih dari setengah jam tentang betapa pentingnya kita punya panduan atau pegangan untuk menjalani kehidupan ini. Bagi Papa, Islam adalah ideologi yang dia pilih dan tentunya diajarkan ke anak-anaknya. Saya selalu merasa beruntung, Papa mengajarkan Islam dengan mudah sekaligus mendalam dan saya pun dianjurkan mempertanyakan keyakinan saya terhadap sebuah cara pandang. Dari ceramah-ceramah konyol tapi serius a la Papa, saya menyerap banyak nilai yang kemudian saya terapkan dalam mengambil sikap, tindakan, dan menentukan tujuan hidup saat umur semakin bertambah. Papa juga pernah memperingatkan: "suatu hari keyakinan kamu pasti akan diuji. Apa yang selama ini kamu yakini bisa berubah atau malah berlaku selamanya" Saya pun bertanya: "Diuji kaya gimana pah? pake soal gitu?" Maklum, saya baru mau naik ke SMP jadi nggak ngeh gimana menguji ideologi. Dan papa menambahkan:"Nanti kamu bisa tahu dari pengalaman dan mengamati orang-orang di sekitar kamu."


Butuh proses dan waktu untuk akhirnya memahami ceramah-ceramah Papa di kemudian hari. Ideologi pada waktunya akan terasa seperti cinta sejati. Kita tidak bisa hanya percaya tapi juga ada bukti. Mengutip dari pernyataan Ibu Ninuk pendiri Yayasan Kesehatan Perempuan: "Percaya itu satu hal, pembuktian itu hal lain". Sekali lagi, saya beruntung bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai jenis latar belakang, saya belajar dari mereka banyak hal. Dari remaja Indramayu, mbah penjual sekoteng dekat kosan saya di jogja, teman-teman, dan masih banyak lagi. Ada ungkapan klise di buku Sinar Dunia, Pengalaman adalah guru terbaik, dan sekali lagi, yang klise-klise selalu ada buktinya.


Ketika menyinggung ideologi, kebanyakan orang di lingkup saya biasanya terbagi ke dalam tiga kubu:


1. Percaya ideologi itu perlu ditunjukkan dan diejawantahkan dalam semua lini dari lini massa sampai lini baju;

2. Ideologi itu perlu diyakini dan diamalkan dalam keseharian tanpa perlu digembar-gemborkan;

3. Ideologi itu nggak usah dipikirin dan gak ada faedahnya, keberatan kalau diomongin.


Ketiga poin ini bisa jadi kategori sekaligus mungkin berlaku sebagai tahapan. Serupa dengan cinta sejati, Ideologi juga sarat dengan pencarian. Memang ada yang bertahan dengan ideologi yang diturunkan sedari lahir (seperti agama misalnya) tapi ada juga yang terus bertransformasi tanpa henti.


Belajar pengalaman, meyakini sebuah ideologi seringkali juga bersinggungan dengan jati diri. Ideologi bisa memberi jawaban dari pertanyaan "Siapa Sih Lo?" jawabannya bisa "Gue Islam", "Gue punker'", "Gue liberal", dst. Dan karena hal ini juga, pengalaman saya membuktikan kadang dalam meyakini ideologi, kita sering mencari panutan. Berbagai faktor bisa membentuk ideologi masing-masing orang, tapi jalannya seringkali tidak mulus. Sekali lagi, serupa dengan cinta sejati, ideologi juga banyak melahirkan sakit hati. Baik dalam catatan sejarah pergerakan, ataupun permainan politik, ada pihak yang 'banting setir' dengan didasari motif yang berbeda-beda. Ada motif yang personal, ada juga yang sifatnya kolektif, kita tidak pernah tahu pasti. Saya tidak akan menjabarkan contohnya, karena teman-teman pasti punya contoh di sekitarnya, di kelompok masing-masing. Dari pengalaman saya, hal paling bikin pusing dan ujian paling sulit adalah sinkronisasi keyakinan, sikap, tindakan, dan tujuan. Mempraktekkan kesetaraan tanpa pandang bulu pasti jauh lebih sulit dari sekedar meyakininya. Bahasa kerennya "Practice What You Preach", itupun kalau kamu "Preach", kalau nggak yah beruntung nggak perlu "Practice" banget. hehehe Saya banyak menyaksikan orang dengan tipe 1 (lihat di atas) tapi minus amalannya. Berteriak menuntut keadilan tapi menentukan upah tanpa dialog dan dasar yang kuat. Ada juga yang tipe 2, ini dia yang sering saya jadikan panutan. Ibu rumah tangga yang mengajarkan demokrasi dengan sederhana di keluarga terlihat lebih keren dibanding petinggi partai berembel-embel demokrasi (atau demokrat :p). Jangan sedih, yang tipe 3 lebih banyak lagi, daripada mikirin tujuan sama pandangan hidup mendingan ngeband aja, tapi kalau musisi favoritnya pake kaos 'working class hero' langsung google Amnesty International :D.

Masalahnya ideologi (sama kaya cinta sejati sekali lagi :p), terkesan seperti omong kosong dan utopia belaka. Saya pernah denger omongan: "Ya elah mau demokrasi kek, mau negara Islam kek, mau rezim 'Pancasila' kek, Yang penting gue makan dan bisa tidur nyenyak". Yang ideal-ideal sepertinya cuma ada di surga, mengutip Pramoedya, itu juga kalau ada surganya, tapi kalau tidak ada yang mempraktekan ideologi memang menguap entah ke mana. Saya pernah kenal dengan seseorang yang nggak pernah belajar feminisme, nggak tahu 30 Deklarasi Universal HAM, tapi dia sadar hak kesehatan reproduksi perempuan dan peka dengan masyarakat sekitar rumahnya. Mungkin sekilas seperti orang biasa, tapi kehidupan memang dibangun oleh orang-orang biasa, meskipun sejarah selalu berpihak pada yang dianggap 'luar biasa'. Ideologi biar bagaimanapun butuh bukti, bukan sekedar janji. Lebih jauh lagi kadang ideologi melibatkan musuh, bisa jadi untuk mengumpulkan pasukan demi mencapai tujuan.


Melihat geliat gerakan anak muda di Indonesia 5 tahun belakangan ini, muncul pertanyaan yang menurut saya penting, tapi sepertinya sering diabaikan karena takut terlalu 'berat' pembicaraannya. Apa sebenarnya ideologi gerakan anak muda kekinian? Karena menurut saya aksi pasti butuh tujuan, mungkin sebenarnya aktor-aktornya meyakini sesuatu tapi konsep yang diyakini ini belum dijelaskan dalam sebuah ide. Mungkin sudah ada kelompok-kelompok yang menjelaskannya dan dengan gencar melancarkan aksi-aksi mereka. Setiap generasi dalam pergerakannya punya kisahnya sendiri-sendiri.Menarik untuk menyarikan aksi-aksi kaum muda dalam sebuah ideoogi. Mungkin mereka punya tujuan yang sama tapi jalan yang berbeda, atau sebaliknya. Ibaratnya orang naik angkot, sebelum memilih jurusan angkot pasti harus tahu jurusannya. Gerakan anak muda punya imaji tentang perubahan seberapa jauh ideologi tersebut mempengaruhinya? Jawabannya bebas, silakan kasih masukan.

Asal ini semua bukan hanya soal janji atau eksistensi, tapi tentu harus ada bukti :).



#TentangPerubahan&Anak Muda(Seri 1)

Jumat, 16 Maret 2012

why bother?

Whether your relationship was authorized by God, the state, or your sorry finances, it’s never easy to know whether, when, and how to tie it on or break it off.

Rabu, 15 Februari 2012

Bukan apa-apa




Ternyata


Aku tahu mungkin di sana ada nyeri

Bisa jadi kita tidak jatuh di tempat yang sama

Mencoba jauh demi mati rasa

Jika ada bekasnya, kamu pasti punya sisanya

Tidak perlu obat merah karena kamu masih marah

Mereka bilang seharusnya kita bisa waspada

Berhati-hati tanpa perlu pakai hati

Kita terlalu suka permainan ini

Iseng-iseng bisa dapat hadiah

Sudah sejauh dan selama ini kita bercanda

Tanpa tahu akibatnya

Biar saja… nanti juga tahu rasanya! katanya

Ada kala kita buka mata dan bertanya untuk apa?

Sudah jatuh baru tahu kenapa

Jujur aku suka semuanya

Dari cinta sampai luka

Tapi kamu pura-pura buta

Kalau di antara kita

Tidak pernah ada apa-apa




 
design by suckmylolly.com