Sabtu, 31 Maret 2012

Ideologi: Apa Artinya untuk Masa Kini?




Sudah lama saya tidak mengobrol lama dengan Papa, mungkin terakhir kali saat membicarakan makna pendidikan S2 saat saya baru lulus kuliah. Suatu waktu, 3 tahun setelah saya lulus kuliah, saat sedang menonton saluran TV BBC yang sedang menayangkan dokumenter si tampan Simon Reeve, Tropic of Cancer, percakapan mendalam pun terjadi secara tiba-tiba. Jam setengah 2 pagi, tanpa basa-basi Papa bertanya ke saya: "Jadi, ideologi kamu apa?". Reaksi pertama bisa dipastikan saya terkejut, lalu bengong. Ya iyalah bengong, orang tua macam apa yang nanya pertanyaan kaya gitu jam 2 pagi? hahaha Kemudian saya menelan ludah dan bertanya apa maksud pertanyaan Papa. Dan beliau menjelaskan bahwa dia menanyakan apa ideologi yang saya jadikan pegangan tindakan, sikap, dan tujuan hidup saya. Saya pun tercekat. Terus terang campur aduk rasanya. Seperti ditampar tapi di satu sisi tamparannya lembut dan penuh perhatian. Pada waktu itu, kepala saya kosong mendadak. Saya tidak bisa menjawabnya. Tapi kemudian saya bilang kalau saya berpegangan pada suatu ide di mana kesetaraan, keadilan manusia, dan ketiadaan dominasi kekuasaan menjadi tujuan dan cara pandang keseharian. Papa terdiam sejenak, dia berpikir, kemudian dia bertanya: "Apa Islam bisa masuk ke dalam ide yang kamu maksud?"


Sial, pertanyaan kedua ternyata jauh lebih susah. Lantas, saya menjawab: "Aku percaya Islam itu punya semua ide yang aku maksud, begitu juga sebaliknya, ide yang aku maksud emang ada di Islam". Sebelum disamber dengan pertanyaan ketiga, saya langsung bilang:"Tapi nggak semua orang yang percaya Islam, percaya dengan kesetaraan atau keadilan Pa. Mungkin mereka lebih percaya sama uang, atau mereka lebih percaya sama neraka dan pahal dibanding percaya sama Islam itu sendiri." Papa pun membalas pernyataan saya dengan ceramah selama lebih dari setengah jam tentang betapa pentingnya kita punya panduan atau pegangan untuk menjalani kehidupan ini. Bagi Papa, Islam adalah ideologi yang dia pilih dan tentunya diajarkan ke anak-anaknya. Saya selalu merasa beruntung, Papa mengajarkan Islam dengan mudah sekaligus mendalam dan saya pun dianjurkan mempertanyakan keyakinan saya terhadap sebuah cara pandang. Dari ceramah-ceramah konyol tapi serius a la Papa, saya menyerap banyak nilai yang kemudian saya terapkan dalam mengambil sikap, tindakan, dan menentukan tujuan hidup saat umur semakin bertambah. Papa juga pernah memperingatkan: "suatu hari keyakinan kamu pasti akan diuji. Apa yang selama ini kamu yakini bisa berubah atau malah berlaku selamanya" Saya pun bertanya: "Diuji kaya gimana pah? pake soal gitu?" Maklum, saya baru mau naik ke SMP jadi nggak ngeh gimana menguji ideologi. Dan papa menambahkan:"Nanti kamu bisa tahu dari pengalaman dan mengamati orang-orang di sekitar kamu."


Butuh proses dan waktu untuk akhirnya memahami ceramah-ceramah Papa di kemudian hari. Ideologi pada waktunya akan terasa seperti cinta sejati. Kita tidak bisa hanya percaya tapi juga ada bukti. Mengutip dari pernyataan Ibu Ninuk pendiri Yayasan Kesehatan Perempuan: "Percaya itu satu hal, pembuktian itu hal lain". Sekali lagi, saya beruntung bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai jenis latar belakang, saya belajar dari mereka banyak hal. Dari remaja Indramayu, mbah penjual sekoteng dekat kosan saya di jogja, teman-teman, dan masih banyak lagi. Ada ungkapan klise di buku Sinar Dunia, Pengalaman adalah guru terbaik, dan sekali lagi, yang klise-klise selalu ada buktinya.


Ketika menyinggung ideologi, kebanyakan orang di lingkup saya biasanya terbagi ke dalam tiga kubu:


1. Percaya ideologi itu perlu ditunjukkan dan diejawantahkan dalam semua lini dari lini massa sampai lini baju;

2. Ideologi itu perlu diyakini dan diamalkan dalam keseharian tanpa perlu digembar-gemborkan;

3. Ideologi itu nggak usah dipikirin dan gak ada faedahnya, keberatan kalau diomongin.


Ketiga poin ini bisa jadi kategori sekaligus mungkin berlaku sebagai tahapan. Serupa dengan cinta sejati, Ideologi juga sarat dengan pencarian. Memang ada yang bertahan dengan ideologi yang diturunkan sedari lahir (seperti agama misalnya) tapi ada juga yang terus bertransformasi tanpa henti.


Belajar pengalaman, meyakini sebuah ideologi seringkali juga bersinggungan dengan jati diri. Ideologi bisa memberi jawaban dari pertanyaan "Siapa Sih Lo?" jawabannya bisa "Gue Islam", "Gue punker'", "Gue liberal", dst. Dan karena hal ini juga, pengalaman saya membuktikan kadang dalam meyakini ideologi, kita sering mencari panutan. Berbagai faktor bisa membentuk ideologi masing-masing orang, tapi jalannya seringkali tidak mulus. Sekali lagi, serupa dengan cinta sejati, ideologi juga banyak melahirkan sakit hati. Baik dalam catatan sejarah pergerakan, ataupun permainan politik, ada pihak yang 'banting setir' dengan didasari motif yang berbeda-beda. Ada motif yang personal, ada juga yang sifatnya kolektif, kita tidak pernah tahu pasti. Saya tidak akan menjabarkan contohnya, karena teman-teman pasti punya contoh di sekitarnya, di kelompok masing-masing. Dari pengalaman saya, hal paling bikin pusing dan ujian paling sulit adalah sinkronisasi keyakinan, sikap, tindakan, dan tujuan. Mempraktekkan kesetaraan tanpa pandang bulu pasti jauh lebih sulit dari sekedar meyakininya. Bahasa kerennya "Practice What You Preach", itupun kalau kamu "Preach", kalau nggak yah beruntung nggak perlu "Practice" banget. hehehe Saya banyak menyaksikan orang dengan tipe 1 (lihat di atas) tapi minus amalannya. Berteriak menuntut keadilan tapi menentukan upah tanpa dialog dan dasar yang kuat. Ada juga yang tipe 2, ini dia yang sering saya jadikan panutan. Ibu rumah tangga yang mengajarkan demokrasi dengan sederhana di keluarga terlihat lebih keren dibanding petinggi partai berembel-embel demokrasi (atau demokrat :p). Jangan sedih, yang tipe 3 lebih banyak lagi, daripada mikirin tujuan sama pandangan hidup mendingan ngeband aja, tapi kalau musisi favoritnya pake kaos 'working class hero' langsung google Amnesty International :D.

Masalahnya ideologi (sama kaya cinta sejati sekali lagi :p), terkesan seperti omong kosong dan utopia belaka. Saya pernah denger omongan: "Ya elah mau demokrasi kek, mau negara Islam kek, mau rezim 'Pancasila' kek, Yang penting gue makan dan bisa tidur nyenyak". Yang ideal-ideal sepertinya cuma ada di surga, mengutip Pramoedya, itu juga kalau ada surganya, tapi kalau tidak ada yang mempraktekan ideologi memang menguap entah ke mana. Saya pernah kenal dengan seseorang yang nggak pernah belajar feminisme, nggak tahu 30 Deklarasi Universal HAM, tapi dia sadar hak kesehatan reproduksi perempuan dan peka dengan masyarakat sekitar rumahnya. Mungkin sekilas seperti orang biasa, tapi kehidupan memang dibangun oleh orang-orang biasa, meskipun sejarah selalu berpihak pada yang dianggap 'luar biasa'. Ideologi biar bagaimanapun butuh bukti, bukan sekedar janji. Lebih jauh lagi kadang ideologi melibatkan musuh, bisa jadi untuk mengumpulkan pasukan demi mencapai tujuan.


Melihat geliat gerakan anak muda di Indonesia 5 tahun belakangan ini, muncul pertanyaan yang menurut saya penting, tapi sepertinya sering diabaikan karena takut terlalu 'berat' pembicaraannya. Apa sebenarnya ideologi gerakan anak muda kekinian? Karena menurut saya aksi pasti butuh tujuan, mungkin sebenarnya aktor-aktornya meyakini sesuatu tapi konsep yang diyakini ini belum dijelaskan dalam sebuah ide. Mungkin sudah ada kelompok-kelompok yang menjelaskannya dan dengan gencar melancarkan aksi-aksi mereka. Setiap generasi dalam pergerakannya punya kisahnya sendiri-sendiri.Menarik untuk menyarikan aksi-aksi kaum muda dalam sebuah ideoogi. Mungkin mereka punya tujuan yang sama tapi jalan yang berbeda, atau sebaliknya. Ibaratnya orang naik angkot, sebelum memilih jurusan angkot pasti harus tahu jurusannya. Gerakan anak muda punya imaji tentang perubahan seberapa jauh ideologi tersebut mempengaruhinya? Jawabannya bebas, silakan kasih masukan.

Asal ini semua bukan hanya soal janji atau eksistensi, tapi tentu harus ada bukti :).



#TentangPerubahan&Anak Muda(Seri 1)

Jumat, 16 Maret 2012

why bother?

Whether your relationship was authorized by God, the state, or your sorry finances, it’s never easy to know whether, when, and how to tie it on or break it off.

Rabu, 15 Februari 2012

Bukan apa-apa




Ternyata


Aku tahu mungkin di sana ada nyeri

Bisa jadi kita tidak jatuh di tempat yang sama

Mencoba jauh demi mati rasa

Jika ada bekasnya, kamu pasti punya sisanya

Tidak perlu obat merah karena kamu masih marah

Mereka bilang seharusnya kita bisa waspada

Berhati-hati tanpa perlu pakai hati

Kita terlalu suka permainan ini

Iseng-iseng bisa dapat hadiah

Sudah sejauh dan selama ini kita bercanda

Tanpa tahu akibatnya

Biar saja… nanti juga tahu rasanya! katanya

Ada kala kita buka mata dan bertanya untuk apa?

Sudah jatuh baru tahu kenapa

Jujur aku suka semuanya

Dari cinta sampai luka

Tapi kamu pura-pura buta

Kalau di antara kita

Tidak pernah ada apa-apa




Senin, 30 Januari 2012

Antara Buruh, Kemacetan, dan Kita



Sudah sebulan lebih saya menghabiskan lebih banyak waktu di kamar kosan. Maklum sebagai semi-pengangguran (baca: freelance) saya punya target untuk menamatkan tumpukan dvd dan buku yang sudah jauh lebih lama 'nganggur' semasa saya bekerja. Saya memilih untuk menarik diri dari perbincangan seputar politik dan sejenisnya dan tidak ingin mengikuti berita apapun terkait peristiwa aktual di negeri ini. Mungkin saya ingin merasakan ketenangan sejenak dengan mengambil peran acuh tak acuh terhadap segala persolan pelik tentang pembangunan. 9GAG dan situs sejenisnya lebih menarik ketimbang situs warta, linimasa hanya membuang waktu, dan televisi hanya seru saat Morgan Sm*ash muncul.



Tapi ada satu berita yang sepertinya sulit untuk dilewatkan karena orang-orang di sekitar saya terus membahasnya dengan cukup heboh. Memang tidak seheboh kasus Xenia, tetapi gaungya cukup terasa karena beberapa dari mereka mengaku terkena imbasnya. Saat semua orang membahas 'Demo Buruh Di Cikarang', saya awalnya hanya bisa berdoa dalam hati agar upaya mereka tidak sia-sia. Menyebalkan memang, tipikal manusia cari aman dan apatis. Namun pergerakan buruh selalu menarik bagi saya, setidaknya mereka tidak butuh BB atau akun twitter untuk menggerakkan ribuan masa yang berani berbicara atas nama keadilan mau turun ke jalan, memblokir jalan tol, dan membuat pengendara mobil serta komuter menjerit/mengeluhkan kemacetan di akun twitternya.



Praktis saya pun tergerak untuk mencari tahu berita terkini tentang isu ini. Saya langsung mencari berita atau pembahasannya di Google. Berharap mendapatkan tautan bermutu tentang analisis demo buruh di cikarang, yang saya lihat sampai halaman 4 di laman pencarian hanyalah judul yang tak jauh dari "Demo Buruh di Cikarang Menutup Pintu Tol Menyebabkan Kemacetan". Dari situs macam Detik sampai Kompas dan situs berita lainnya. Salahkan pembacaan logaritma komputer saya yang hanya berhasil menjaring hasil pencarian dengan judul seperti itu. Alih-alih membaca berita yang membahas tuntutan dan proses negosiasi ataupun upaya pemerintah, yang saya dapatkan hanya penjelasan kenapa jalan tol ke Bekasi-CIkarang macet bukan kepalang.



Saya jadi ingat percakapan di dalam sebua kelompok pesan instan yang membahas demo buruh sebelumnya di depan Gedung DPR/MPR yang juga menyebabkan kemacetan. Ada yang bilang kalau demo seharusnya juga memperhatikan kepentingan orang lain, jangan sampai merepotkan orang lain dengan kemacetan. Dan mungkin ada ribuan kicauan di Twitter yang beranggapan sama dan merasa terbebani dengan demo buruh yang bikin macet. Katakanlah demo/menyampaikan pendapat adalah hak semua warga negara dan peserta demo memang mencapai ribuan, sudah pasti kemacetan menjadi tidak terhindarkan. Muncul kekesalan karena demo mereka bisa menyebabkan kita terlambat, tua di jalan, atau frustasi di dalam kendaraan. Mungkin sebelum melihat Demo Buruh sebagai sumber kemacetan, warga kota bisa kilas balik tentang betapa konyolnya penyebab kemacetan di Jabodetabek. Dari angkot yang ngetem, kecelakaan, putar balik , belokan, atau sesimpel 'ya… udah kebanyakan aja kendaraannya'. Yang ingin saya katakan di sini adalah setidaknya kemacetan dan keterlambatan Anda di jalan tidaklah sia-sia. Karena ada ribuan manusia yang menuntut kenaikan upah, suatu 'cause' atau tuntutan yang sangat mendasar dan jauh lebih wajar daripada menuntut keluar dari kemacetan.


Saat itu, para buruh menentang Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang menggugat keputusan Gubernur Jawa Barat terkait Upah Minimum Kabupaten (UMK) melalui SK NO.561/Kep.1540-Bansos/2011 yang menetapkan UMK Bekasi sebesar Rp 1.491.866,-,Upah kelompok II Rp 1.715.645,- dan Kelompok I Rp 1.849.913,- melalui Pengadilan Tata Usaha Negara atau PTUN Bandung. Ribuan buruh memperjuangkan kesejahteraan mereka yang terancam oleh gugatan pengusaha tersebut. Sebelumnya (2010) pemda Bekasi menetapkan UMK sebesar Rp 1.155.000. Jadi dalam setahun kenaikan upah yang hanya sekitar RP 336.866 masih ingin digugat oleh para pengusaha. 'Battle' yang tidak pernah berakhir ini dipicu oleh logika pengusaha yang tentunya cenderung menganggap kenaikan upah akan berdampak pada profit dan ongkos produksi.


Saya pernah terjebak dalam kemacetan di Gatot Subroto, saat peringatan May Day dimeriahkan oleh ribuan buruh yang turun ke jalan. Dari atas bis kota saya merinding melihat semangat mereka di tengah terik panas dan beban berat untuk menghidupi keluarganya tidak mencegah mereka untuk beraksi. Lain waktu, saya pernah terjebak macet luar biasa saat hari terakhir kampanye Pilkada Jakarta. Jujur, saya jauh lebih ikhlas terjebak macet di tengah para buruh dibanding masa kampanye. Sekilas mungkin tuntutan buruh tidak relevan dengan aktivitas sehari-hari kita atau mungkin lebih tepatnya kita memilih tidak mau tahu. Yang mau kita tahu adalah cepat sampai tujuan di jalan dan bisa langsung nge-charge gadget yang mulai lowbat. Maafkan kesinisan saya, tapi kita bisa pertanyakan lagi pada diri kita, betapa tuntutan para buruh yang bikin kita stuck lebih dari 3 jam di jalan, adalah tuntutan mendasar kita semua. Kita ingin keadilan dan keberpihakan terhadap masyarakat bukan lobi-lobi omong kosong pemerintah dan kelompok pengusaha. Mungkin sebenarnya kita pernah mengutuk para buruh yang menuntut kenaikan upah sebagai biang kemacetan, mungkin kita takut juga kalau upah mereka naik berarti harga barangnya akan naik juga dan kita akan kerepotan menghadapi kenaikan harga barang. Tapi buruh sama saja dengan kita semua, kalau harga naik mereka juga terkena imbasnya, mereka juga mengonsumsi, mereka ingin menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya. Jadi singkat kata, secara mendasar apa tuntutan mereka adalah bagian dari kebutuhan dan tuntutan kita juga.


Pertanyaan yang menarik dari tulisan panjang dan tidak jelas ini adalah:


Siapakah 'kita' yang dimaksud di sini? Kelas yang mana?


bantu saya untuk menjawabnya :p


Selasa, 10 Januari 2012

The drugs don't work


"Antibiotik menyelesaikan semuanya kecuali asmara"

Seandainya semuanya semudah menelan sambil minum air, mungkin kita bisa bertahan.

Rabu, 04 Januari 2012

2011: No distance Left to Run



As 2011 will be ended soon, I have this such an obligation to review shits happened in all years. I hate list but its probably easier to sum up things with list. But all I know is 2011 becomes the most effortless year ever in my life. Well, it's a tough year indeed, while it's also relief in a kind of way. From what I can remember, below find all notable things occurred in 2011:


1. Get out of the box, get out from that comfort zone


I resigned from the job, or I prefer to call it the daily life, which I loved and dedicated to it but found things cracked up by pointless drama. Though I made the decision and proposed my notice on the previous year, I started to quit officially in February. I love what I was doing there, I always be. Who can resist the young people revolutionary spirit and support them for real? I can't. That's why It hurt like a break-up stories.


2. I don't need job I've got my band


Yeah while I was quitting my occupation, I had already got the new one! hahaha Here is the funny thing, every stage of my life, starting from the junior high era, I always find great friends to create band, obviously with common sense of music and field of experience. The last time I'm on band was in my sophomore year in college. And oddly, though all personnels went to the same college, we found this band after we graduated. The coolest thing is I wrote on my 5 years plan when I was 17th, I said that I want to have a shoegaze-noise band. Yup, it's specific anyway hahaha, I even wrote the genre! And thanks god, I found these friends, 3 lovable and hilarious persons, and we officially had our first rehearsal in February. We ended up with 2 songs on our first moment and currently we already have almost 10 songs. We also got some gigs performing opportunities, which was fun and maybe embarrassing at the same time. I think this band made my 2011 :D


Listen Sunday Market District.




3. Post break-up: Slow down and Move to another city, a heavenly one


2011 seemed like purification year for me, it gave me time and room to slow down the pace, to think, and to let go all egos. I learned a lot about acceptance or we likely called it 'ikhlas' and I realized that life would be more cool and settle if I slow down the ambition. I seized this year with learning new things and meeting new friends. I decided to take an internship opportunity in an art archiving organization in Yogyakarta. I lived there for 3 months. To suggest, for all people who want to see life in a slow motion, take sometime to live in this city. I gained more knowledge on art in this place. I worked with some persons that I look up to, had new wonderful friends. And not to forget, I encountered with some unfortunate events in this phase. However, it's all the lessons that I've got to discover. Indeed, it's so fun living in Jogja and engaging with the cultures and thoughts of people there.


4. A good call and new shoes


I always love to change 'shoes' in terms of trying to put myself on a different perspective. During my last moment in Jogja, I've got a good news. An International NGO gave me opportunity to be a temporary staff. In my previous job and activities, I had already encountered with this organization. Long before they gave me a call, I had dream to be part of them but oddly I only want a short time trial. And the wish came true, I was part of them for nearly 3 months. As my-college-of-life-session went through, this opportunity provided so much lessons to study. It's definitely refined my capabilities and perspective, in terms of becoming so-called a development professional. By the end of the year, I was no longer worked for this organization. And I was so lucky for having this opportunity, working with great team, and taking the most enjoyable lunch in the office.


2011 told me some great lines. It said that I should feel okay to live on my way though it's unlike the other's. Why should I run if the distance was no longer necessary. If 2011 was about learning, 2012 will be about initiating and creating. Since it will not likely the end of the world but it is the end of the apathy…














Rabu, 28 Desember 2011

Jarak: Jauh-Dekat Rp 2.000



Sudah lama ternyata sejak terakhir kali saya posting di blog ini. Mungkin kemampuan saya untuk berbagi cerita sudah menurun atau mungkin kemauan saya lebih tepatnya sudah tidak ada.


Entah kenapa, saya tiba-tiba merasa rindu untuk berceloteh kembali dalam ruang ini. Saya ingin merasakan kehangatan saat perasaan dan kegamangan bisa dituangkan dalam secangkir blog cokelat hangat.


Saat ini di kepala saya hanya ada 'jarak'. Mungkin jarak tidak terkait dengan kondisi geografis, bisa jadi dia menjadi konsekuensi dari kedekatan secara fisik. Kita bisa berkata bahwa kita ingin menjaga 'jarak' dengan seseorang. Katakanlah dia seorang eks teman atau eks pacar. Tapi apa gunanya jaga 'jarak' dalam pengertian komunikasi atau fisik jika ternyata setiap hari kita ingin 'dekat' secara maya (baca: stalking). Secara berkala mantengin linimassa, selalu sigap dengan kabar terbaru di situs jejaring sosial, atau untuk kasus yang lebih akut, memanfaatkan google sebagai cara untuk terus memantau orang tersebut.


Jarak menjadi sesuatu yang relatif, itu pasti. Tapi sampai seberapa jauh kita bisa mengukur relatifitas tersebut? Saya dan Nicholas Saputra tentu ber'jarak', kami tidak saling mengenal. Meskipun saya bilang saya kenal dan tahu Nicsap, yang saya tahu pasti hal ini tidak terjadi sebaliknya. Tidak ada dalam lingkaran pertemanan saya yang mengenal dia dan sebaliknya juga bagi dia. Saya dan dia punya 'jarak' yang jauh, itulah faktanya.


Bicara jarak, jauh dan dekat menjadi penting. Relasi kita dengan seseorang atau sesuatu dan bagaimana cara menggambarkan jaraknya adalah hal yang kita lakukan setiap saat. Sialnya kedua kata sifat ini lebih abstrak dibanding jarak itu sendiri. Ada seorang teman yang cerita bahwa dia sedang 'jauh' dari keberuntungan, seakan keberuntungan adalah teman 'dekat' yang kemudian bermusuhan dengannya. Ada lagi yang curhat kalau dia sedang 'dekat' dengan seorang perempuan tapi dia bahkan tidak tahu perempuan tersebut anak ke berapa.


Ada dua hal yang akan membunuh kita perlahan, jarak dan waktu. Tapi buat saya, jarak lebih menakutkan dan terkadang sulit dinegosiasikan. Kita mengenal 'time mangement' tapi asing dengan 'distance management'. Kalau waktu bisa diatur, lantas apa sulitnya mengatur jarak? Toh sopir metromini dan keneknya bisa membuat aturan Jauh-Dekat Rp 2.000 sehingga jauh dan dekat tidak beda harga yang harus dibayar. Sayangnya, jarak dalam hidup ini tidak bisa menggunakan standar metromini, jadi kita harus terus menyesuaikan dan bermain petak umpet dengan jarak. Jadi ingin lari se'jauh' mungkin tapi tetap ada di 'dekat' orang yang kita sayang… (#abaikan)









 
design by suckmylolly.com