Tampilkan postingan dengan label Enlightment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Enlightment. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2009

Kisah Bocah Penjual Rempeyek

Bagi yang kuliah di UI dan sekitarnya, daerah kober pasti bukan tempat yang asing lagi. Entah kenapa sebutan Kober (yang berarti kuburan) bisa cocok untuk namain tempat hamparan barang-barang murah untuk segala keperluan. Sampai-sampai muncul pertanyaan di kepala gw, "Apa sih yang mahal di kober?". Dari beragam hal menarik yang gw jumpai di sana, tapi ada satu yang menarik perhatian gw. Bukan... bukan tempat ngejilid skripsi cepat nan murah atau jasa nyablon satuan, melainkan seorang anak kecil yang sering banget nongkrong di depan indomart. Di daerah kober dan ui ada 2 minimarket, indomart kober sama alfamart psiko UI, dua-duanya adalah penyuplai kebutuhan mahasiswa situ dan pastinya cukup sering dikunjungi para mahasiswa. Salah satu pengunjungnya adalah gw, dan anak kecil yang nongkrong di depan indomart itu membuat gw jatuh cinta pada pandangan pertama.

Gw inget, pertama kali liat dia di Indomart kober, gw bertanya-tanya, ni anak ngapain ya duduk di sini? lagi minta-minta atau gimana ya? Tapi gw terlalu fokus dengan kebutuhan logistik jadi langsung masuk aja dulu. Pas gw keluar, gw amati lagi tuh anak dengan cermat. And the best thing was he's not begging but put up some things for sale. Barang dagangannya ditaruh ember trus ditutupin koran gitu, jadi gw nangkepnya dia jualan. Gw dekati dia, lantas gw bertanya komoditi apa yang dia jual dan ternyata beberapa jenis gorengan (tempe, bakwan, etc), kue pisang, dan rempeyek kacang. Tanpa pikir panjang, gw beli aja beberapa rempeyek dari dia.

Beberapa waktu kemudian, gw liat dia lagi di depan Indomart kober. Masih dengan style dan dagangan yang sama. Gw juga berminat lagi beli rempeyeknya. Entah kenapa setiap gw liat anak itu, gw selalu bertanya-tanya: dari jam berapa dia jualan? rumahnya dimana? sekolah nggak? dan berbagai pertanyaan GU (gila urusan) lainnya soal doi. Gw cuma nggak habis pikir aja, dia masih jualan sampai sekitar jam 10, berhubung masih sekecil itu. Kalau sudah seperti ini pasti pikiran gw kemana-mana. Dari anggaran pendidikan negara sampai orang yang punya mobil jaguar. Rasanya gw pengen banget ketemu engkong Marx terus curhat sama dia sambil makan nasi kucing.

Tadi malam gw dan dimdim ngambil ATM di deket Alfamart Psiko UI dan bocah itu udah stay tune di sana. Padahal tadinya pas parkir di depan Indomart, gw bertanya-tanya : tumben nggak keliatan tuh bocah? Eh, taunya pas ke Alfamart, dia udah ada aja di situ. Seperti biasa, gw selalu terkesima sama dia dengan gaya nongkrong yang datar, dia juga bukan tipe anak yang memaksa kita untuk membeli dagangannya. Dia cuma jembrengin dagangannya dan sesekali menawarkan ke orang yang lewat. Malah menurut gw, gaya dia jualan cenderung pasrah dan pasif. Pas keluar Alfamart, gw langsung beli lagi rempeyeknya, tapi kali ini si dimdim tertarik liat gulungan daun pisang yang ternyata berisi kue pisang. Alhasil gw beli rempeyek dan kue pisang. Terus gw jalan ke arah kober, dan ternyata anak kecil itu juga lagi jalan, berhubung gw udah gatel banget pengen tahu tentang dia, si dimdim gw suruh manggil doi. Ternyata dimdim mau beli kue pisang lagi (aksi basa basi aja), kemudian kita tanyakan pertanyaan-pertanyaan itu ke dia.

Ternyata dia udah mulai jualan dari jam 5 sore. Cemilan yang dia jual dibuat oleh ibunya (home made). Dia masih sekolah dan duduk di kelas 4, rumahnya di srengseng sawah. Pas tahu rumahnya di situ, si dimdim yang fasih sama daerah situ bertanya lebih jauh. Rumahnya terletak di bilangan Kali Bates (where the hell tuh kali?) untuk mencapai daerah itu bisa naik angkot... dari kober. Tapi si dimdim tau angkot itu nggak sampe malem dan bener aja, dia kalau udah jam 10 harus naik angkot ke lenteng trus naik ojek. hah? Kita berdua terperangah, "Naik Ojek? Berapa tuh?". Lantas dia menjawab dengan ekspresi datar "Rp 5.000". Kita akhirnya berkesimpulan kalau total biaya yang dibutuhkan untuk sampai kober dan pulang ke rumahnya adalah 8.500 (berangkat naik angkot.. 2.000, pulang naik ojek + angkot= 6.500). Sekedar ilustrasi ya kawan, kue pisang yang dia jual satunya 700 perak dan rempeyeknya 1.500. Untuk bisa pulang dan berangkat berarti dia harus bisa menjual setidaknya 4 rempeyek dan 4 kue pisang (hitungan kasar). Ya kalau sehari komoditinya terjual 20 biji, kalau ternyata hanya laku 8 biji? Berarti dia pulang dengan tangan kosong. Belum selesai dengan soal ongkos ini, muncul pertanyaan dari kepala gw : Kapan ya dia mengerjakan PRnya? Kan jualan itu tetap butuh biaya produksi, berapa ya? Untung nggak ya? Sekolahnya gimana bayarnya ? Makannya gimana? Gimana cara dia beli buku dan seragam? Dia pernah liburan ke Dufan nggak ya? Punya sepeda nggak kira-kira? Bakalan ngelanjutin sekolah ke SMP nggak ya? Gimana cara dia belajar biar lulus UAN? and so on and on... Pertanyaan-pertanyaan yang kalau dilanjutkan bisa bikin mata gw berkaca-kaca. FYI, ketika dia memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kami, badan gw sampai gemetar. Bukannya lebay, tapi emang itu yang gw rasain.


Bocah penjual rempeyek ini hanya secuil dari gambaran nasib negara yang kita tinggali. Jangankan membandingkan nasib ade gw sama dia (umurnya nggak beda jauh), sama nasib anak penjaga kos gw aja kayanya masih jauhhh! Bocah ini mungkin hanya jadi seberkas api yang bisa membakar semangat para pejuang perubahan. Tapi bocah ini bisa bikin gw berjanji dalam hati. Dan mungkin bisa membuat kita semua keluar dari zona nyaman itu. Menurut gw nasib bocah itu erat kaitannya dengan gw, dan anda-anda sekalian. Jadi kalau gw atau lo pada membuat sesuatu yang sedikit berarti, pasti nasib bocah itu bisa berubah. Entah kenapa gw percaya itu bisa. Ya nggak?








Kamis, 05 Februari 2009

Berlalu setelah Dilalui




"Would you erase me?"

"Do I know you?"


Kalimat pertanyaan tersebut adalah penggalan dari dialog film brilian karya Michel Gondry dan Charlie Kauffman, Eternal Sunshine of The Spotless Mind (ESTSP). Film ini sangat menarik dan menyisakan sedikit ruang hampa di dalam pikiran bagi setiap penonton yang menyelaminya. Ruang hampa itu sebenarnya tidak benar-benar steril karena gerakan kilas balik menggerakkan arusnya. Arus mengorek masa lalu menjadi kegiatan lumrah untuk dilakukan oleh stimuli pengingat. Tidak heran memori menjadi kunci dari masa lalu dan hal inilah yang menjadi tokoh utama film ESTSP. It's all about precence and absence of your past memory. Si lacuna inc laris manis didatangi para tokoh dalam film tersebut, kenapa? Karena memori adalah gerbang utama untuk membuka masa lalu. Tokoh-tokoh tersebut berlomba-lomba membunuh memori atas nama masa lalu.

Kenapa masa lalu perlu dibunuh? karena membuka gerbang masa lalu sama haramnya dengan membuka kotak pandora. Menelusuri masa lalu, selain berarti nostalgia masa-masa indah juga berarti membuka tensoplast dari luka yang menganga. Perlahan-lahan perih dan memaksa kita untuk mengaduh. Di dalam masa lalu terletak hal-hal yang pantas dikenang untuk kembali diceritakan tetapi ada juga yang ditutup-tutupi karena itu adalah bekas luka atau koreng yang tidak pantas untuk diceritakan. Para tokoh tersebut ingin membuat memori mereka tentang sesuatu menjadi ground zero. Karena menghapus masa lalu adalah obat dari segalanya. Sesuatu yang tidak beres itu lah yang menyelinap dalam alam bawah sadar dan merusak lamunan kala sadar.

Sama halnya dengan masa lalu orang lain. Mengetahui ataupun menyelami masa lalu orang lain adalah hal yang paling anda inginkan dan tidak inginkan dalam waktu bersamaan. Hal yang paling ingin anda ketahui sekaligus yang tidak ingin anda ketahui. Kenapa? sekali lagi, karena menyelidiki masa lalu sama dengan membuka kotak pandora. Ada penyesalan yang diiringi perasaan impas atas pertanyaan yang selalu muncul. Ada orang yang dengan senang hati membagi cerita masa lalunya (berarti dia merasa berada di posisi yang aman sekarang) tetapi ada orang yang sangat selektif untuk membaginya (entah karena merasa posisi amannya terancam jika ia memberi tahu atau ia benar-benar butuh untuk buat janji dengan dokter lacuna inc).

Ada yang bilang masa lalu adalah bagian yang berkontribusi untuk membentuk siapa anda sekarang. ya iyalah ya... Dia memang hiasan yang ditempelkan dalam adonan, ada yang terlihat bagus setelah dipanggang tapi ada juga yang gagal. Menyembunyikan masa lalu berarti menyembunyikan siapa anda sebenarnya, menghapus masa lalu (manuver yang lebih kejam) berarti mengosongkan kalimat lengkap tentang anda. Siapapun pasti pernah melalui sesuatu yang nggak asik dan ini wajar. Semua orang pasti pernah menyesali sesuatu dan hal ini memang tahap yang harus dilewati. Menyelesaikan sesuatu di masa lalu tidak harus dilakukan dengan mengundang Doraemon untuk memohon mesin waktunya. Mungkin penyesalan bisa diobati dengan hal-hal yang kita perbuat sekarang, mungkin... That's why The Time is Now, not long ago or upcoming.

"You can erase someone from your mind, but getting them out of your heart is another story." -Eternal Sunshine-

Jika diberi voucher lacuna inc, saya akan mengahapus memori tentang momen-momen kehilangan



Bagaimana dengan anda?


Rabu, 11 Juni 2008

Bubarkan FPI atau Ahmadiyah?


Imagine there’s no religion…

(imagine-John Lennon)


Phiuhh…no wonder yaa John Lennon bikin lirik kaya gitu apalagi klo doi liat fenomena yang mendominasi layar kaca dan berbagai media di Indonesia akhir-akhir ini. Setelah sekian lama absen posting di blog, akhirnya saya udah gatel sekaligus gregetan untuk mencurahkan isi kepala dan pendapat tentang isu paling panas yang diawali oleh penyerangan FPI di Monas. FYI, salah satu teman saya jadi korban bahkan sampai dioperasi berkat keberingasan Laskar ‘Mengaku’ Islam. Ok… mendadak sekarang orang mulai ngomongin agama terutama islam yang dikaitkan oleh kekerasan dan Ahmadiyah yang terancam dibubarkan. Despite of those silly violence reasons, ini sih emang pengalihan isu BBM yang sebenarnya jauh lebih krusial. Lagi seru-serunya demo BBM dan nyalah-nyalahin pemerintah, ehh…muncul deh si Munarman yang ‘Sarjana Hukum’ itu. Beberapa jam yang lalu saya liat acara debat di TV one yang membahas kontroversi Ahmadiyah. Saya sedih banget liatnya, saya yang merasa islam, malu sama pembelaan orang yang Kontra Ahmadiyah di acara tersebut.

Orang-orang yang kontra Ahmadiyah dengan ‘hot’ nya ngomongin Allah, Rasulullah, Aqidah, dan banyak hal-hal yang Islam banget lainnya. Saya Salut sama wakil dari The Wahid Institute yang pro Ahmadiyah. Saya lega masih ada orang kaya dia di dunia ini. Kemudian, inilah isi kepala saya yang gregetan dengan statement ‘Ahmadiyah itu Sesat !!!’ .Duh (ala Gossip Girl)… who the hell are you? Memutuskan itu sesat ini halal, itu dosa, ini pahala. Saya aja bukan orang Amadiyah sakit Hati apalagi yang Ahmadiyah? Pertama-tama, saya yakin niat awal terciptanya konsep yang bernama ‘agama’ adalah baik. Sebagai pedoman hidup, pengatur pola perilaku, dan bagian dari membangun peradaban. Udah pasti agama tidak diciptakan untuk merendahkan satu pihak dan merendahkan pihak lainnya, untuk alat politik, untuk mengeksploitasi sesama manusia, apalagi untuk mendapatkan minyak.


Di abad 20 memang beda perangnya, sekarang jamannya fundamentalis vs non fundamentalis. Bencinya lagi nih, semua pihak berebut melakukan pembelaan atas nama agama. Yang ini bilang itu sesat, yang ini bilang itu kafir atau malah domba tersesat. And so on….nggak ada abisnya. Agama kok dijadiin pembelaan atas tindak kekerasan atau perang? Mana pake teriak-teriak “Allahu Akbar” lagii. Ckckck… taruhan deh, kalo Rasullulah masih hidup pasti dia sedih banget liat umatnya. Kok bisa ya kaya gitu? Untuk apa? Jihad? Umm…menurut saya jihad itu refer ke resistensi dan tentu bukan resistensi atas keyakinan seseorang. Kan sejarahnya Jihad itu untuk memperjuangkan islam dari dominasi yang bukan islam dan menindas bahkan melakukan tindak kekerasan ke orang Islam. Islam sendiri dulu dianggap sesat. Kalau rakyat Palestina, mereka berjihad untuk melawan kemarukan Israel that’s make sense. Tapi kalau Berjihad untuk membubarkan Ahmadiyah??? Hu uh..no…no..that’s not Jihad, frankly. Daripada beringas-beringas gitu mau bubarin Ahmadiyah ato ngancurin klub-klub malam, mendingan datengin tuh Exxon Mobil, Freeport, Newmont, ato bahkan Bakrie group untuk melawan pemerasan yang mereka udah lakuin sama negara kita. Mending juga tiru tuh Mahatma Gandhi yang against without violence.


Ada yang bilang agama itu sesat karena nggak sesuai dengan yang tertulis di kitab suci. Nggak sesuai dengan apa yang sudah diajarkan, dll. Umm…kalo mau berargumen pake kitab suci, wah udah susah tuh ngusutnya. Kitab suci kan bagian dari sejarah, yang pada jaman itu idup aja juga belum nih kita. Ada dua cara sih untuk memperkuatnya, yang pertama minjem mesin waktunya Doraemon, then we could chat with the prophets and do ‘live classification’. Yang kedua, tentu saja hanya dengan meyakini kebenaran dan keabsahannya. Cara pertama semua juga tahu itu nggak mungkin, cara kedua? That’s It! Di situlah poinnya! “yakin” hanya itulah satu2nya cara ‘meyakini sebuah kebenaran’. This is the issue of belief not what the bible said and dogma! Tuhan, agama, kitab suci, dan embel-embelnya berawal dari sebuah keyakinan.

Saya sering berimajinasi, what if I were born as a jewish?hehehe…nyatannya saya lahir dengan nama Afra Suci Ramadhan dalam keluarga islam yang religius. Saya besar dengan berbagai kegiatan ‘keagamaan’ seperti mengaji, mengkhatami Al Quran, menyambangi pengajian, berpuasa, shalat lima waktu, shalat sunnah, dan masih banyak lagi. Fortunately, hal tersebut tidak membuat saya mendefinisikan islam secara sempit apalagi fasis. Saya percaya semua orang berhak memiliki keyakinannya masing-masing. Satu-satunya yang membatasi hak manusia adalah hak orang lain. It’s not about God or any prophets, It’s about how you respect each other as a human being. Ada orang yang mengaku Islam tapi cuma sekedar identitas KTP, ada yang mengaku Haji tapi rajin poligami (pake nyontohin Rasul pula), ada yang mengaku rajin pengajian tapi kelakuan kaya setan. Orang emang aneh2 ya??hehhehe…… Malah jaman dulu pake jilbab aja dilarang di Indonesia, islam garis keras dianggap ancaman tetapi setelah penguasa rezim meanganggap agama sebagai kekuatan politik tersendiri, langsung deh semua dibuat sok Islami. (ress…. Banget…)

Apa yang coba saya katakan di sini adalah, kebenaran itu melalui perjuangan untuk menjadi ‘benar’ dan itu bukan kebenaran yang sekonyong-konyongnya muncul dan ada. Agama memang bagian dari identitas dan pelampiasan akan hasrat kesadaran kolektif tapi sungguh bukan bagian dari perilaku kekerasan dalam bentuk apapun. Coba deh kita tonton channel animal instinct pas adegan binatang2 yang berantem. Mereka aja nggak segitunya lhooo… Ahmadiyah hanya fenomena gunung ES yang berarti klo dibubarin cuma mecahin es yang diatas. Di bawahnya???ckckckck…mengerikan. Soal agama sebagai alat politik, ummm... ada satu quote “In a country with people mostly illiterate, it’s impossible to unite them with Marx and it possible only with Nationalism or Religion.” Ya klo nggak pake ganyang malaysia ya bawa2 Islam deh.


Saya percaya kalau memang surga benar adanya, pasti pelaku kekerasan atas nama agama nggak akan diizinin masuk dan menikmatinya. Ayolah… dunia ini bukan hanya milik kalian saja, bermiliyar2 manusia hidup di dalamnya. Sampai kapan mau saling membeda-bedakan dan Merasa paling benar?



-Fin-

There by The Grace of God

Listening to The Moldy Peaches and Coldplay’s Viva La Vida or Death and All of His Friends mp3 playlist

 
design by suckmylolly.com