Sabtu, 24 April 2010

Yang Muda Yang Ragu-Ragu

Tentang Pilihan


Ada kutipan klise yang mengatakan bahwa 'hidup itu adalah tentang pilihan'. Karena saya termasuk kaum yang percaya adanya free will (bukan free wifi ya...) dalam diri manusia. Jadi pilihan yang ada dalam hidup seperti kutipan di atas saya yakini sebagai hak penuh dari manusia sebagai pemilih. Mau jadi manusia seperti apa itu pilihan kita, mau memilih atau tidak, lagi-lagi ini pilihan kita. Nyatanya hidup tidak sesimpel pilihan ganda di soal Ujian Nasional. Entah kenapa, pilihan dalam hidup seperti soal pilihan ganda yang harus digabung dengan essai. Mungkin ilustrasinya seperti ini:

tanya: "Mau kuliah di PTN apa PTS?"

a. Kuliah di PTN yang bergaya swasta
alasan & konsekuensi: ............
b. Kuliah di PTS yang punya kualitas setara dengan PTN
alasan & konsekuensi.........
c. Tidak keduanya
alasan & konsekuensi.....


Kalau soal Ujian Nasional kaya model begini, dijamin makin banyak murid, orang tua murid, bahkan guru yang akan berdemo menentang UN. Sayangnya UN lebih instan dari hidup dan hidup tidak seinstan lulus UN yang bisa dapet bocoran. Untuk beberapa kasus, ada yang tidak punya pilihan. Sungguh memprihatinkan ya kalau hidup adalah tentang pilihan? Tapi mungkin jawaban orang yang menikmati hidup: "Justru di situlah seninya hidup".

Buat yang masih muda, memilih adalah PR tersendiri, yang tentu saja bukan hanya persoalan konsekuensi & alasan, tetapi juga otoritas. Kecenderungannya, anak muda dibilang masih labil, belum berpengalaman, dan nggak bisa dikasih kewenangan untuk menentukan pilihannya "sendiri". Udah nggak punya 'gigi' untuk bikin pilihan, anak muda punya jiwa yang penuh dengan keraguan. Meskipun manusia seumur hidupnya akan terus berada di tahap becoming, fase muda adalah tahapan 'being' yang paling sulit dilalui. Setidaknya menurut saya ya... karena saya 'seperti' tidak punya kewenangan penuh untuk menentukan pilihan saya sendiri dan beberapa keterbatasan lain.

Pengalaman 'memilih' merupakan sesuatu yang asangat personal dan subyektif. Di umur 13 tahun (3 SMP), saya merasa kebingungan, haruskah mengikuti 'kata hati' atau 'kata teman'. Saya minder belum pernah pacaran, saya suka Sonic Youth bukan Jennifer Lopez, saya hobi ke perpustakaan baca sastra angkatan '65 bukan ke kantin, saya bosen sekolah dan memilih cabut, saya eneg sama PIM terus nyobain piknik ke monas, saya pernah memutuskan untuk potong rambut ala brian molkonya placebo, saya selalu absen kelas matematika di bimbel biar bisa jalan bareng sama temen, dan masih banyak keputusan labil yang saya buat. Kini, saat kilas balik, ya... sebagian ada yang saya sesali tapi ada juga yang saya syukuri.

Beda lagi pas resmi berumur 17 tahun (lulus SMA), saya kembali dihadapkan pada pilihan sulit dan bahkan tidak ada pilihan. Saya sungguh ragu-ragu, apakah lebih baik 'mempertahankan' daripada 'melepaskan'? Saya memutuskan untuk tetap kuliah di komunikasi dibandingkan kuliah di Sekolah tinggi negara, Saya meninggalkan hubungan yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Saya memilih untuk tidak tinggal di rumah orang tua. Saya melepaskan sahabat terbaik karena satu alasan. Saya lulus lebih cepat atau tidak sama sekali. Saya melupakan keinginan berkarir di arena kreatif komersil untuk kerja di NGO.

Katanya di awal umur 20 seseorang akan mengalami sebuah krisis. Nyatanya udah dari umur belasan saya punya kecenderungan untuk mengalami 'krisis'. Sekarang di umur 22 saya kembali diserbu dengan keraguan, Di mana saya harus berpijak, 'Impian' atau 'Kenyataan'? Karena tidak semua impian jadi kenyataan dan kenyataan berdasarkan impian. Pilihan seperti apa yang harus saya putuskan? Kenyamanan atau kemapanan. Pasangan hidup idaman atau sepaham. Pasca sarjana atau masih menyusun rencana. Kajian Seni atau studi gender. Buku tebal atau Ipad. hehehe

Mungkin saya orang yang menikmati hidup sekaligus suka menyesalinya. Saya sering kecewa dengan pilihan yang saya buat tapi saya selalu punya pembenaran tersendiri. Pilih A atau B toh tetap sama-sama huruf cuma beda pengucapan. Buat saya nggak ada pilihan yang lebih baik yang ada pilihan yang tepat pada konteksnya. Jika sekarang saya menyesali pilihan saya, berarti saya mengabaikan konteksnya, karena pada akhirnya pilihan 'gagal' yang saya buat adalah terbaik di zamannya. hehehe Yang jelas saya tahu sejak kecil pilihan yang harus saya lakukan adalah membuat impian jadi kenyataan dengan mengikuti kata hati saya. Karena ini hidup saya, bukan dia, bukan juga anda.


*Saya bermimpi maka saya ada (nggak tahu latinnya...hehehehe)

Minggu, 18 April 2010

Let's Quit


Have you ever feel that tedious?

Yeah, I mean that kind of circumstance, a dull one.
The moment when you're waking up from your pointless sleep, you find your brain has drained.
You don't have any idea what you're supposed to be and do today, yet you still get countless appointments and responsibilities.

You overwhelm all possible opportunities.
There is a zero state for your mind to figure it out somehow.
It's as simply as do-nothing-day.
Because it's too much.
And there's no such a thing called 'undo' in your life.
You should keep going though you refuse to push the play menu.
I prefer to escape.

By watching Jared Hess' stupid-brainy-sci-fi-wannabe titled "Gentlemen Broncos"






Listening Charlotte Gainsbourg' latest bomb (assembled with my favorite Beck)




And appreciating hyperreality version of Richard Wright's untitled wall painting for turner prize exhibition.





We all miss an escape, don't we?

 
design by suckmylolly.com