Minggu, 18 Januari 2009

Gratissss...


"Free space is history"

-mbak Naomi klein-


Apa yang paling nikmat dan lezat di dunia ini? Gue akan menjawab dengan mudah dan akan dibarengi oleh suara temen-temen se-angkatan gue dengan satu kalimat "SEMUA YANG GRATISSS". Nggak pake embel-embel lagi. Yup, everything that's free is the only answer we can offer. Dan kenikmatan menggunakan atau menghabiskan barang gratisan jauh lebih besar daripada barang yang bayar. Sensasinya itu bener-bener beda! Iya nggak? Coba aja lo dikasih sepotong pizza gratis, cuma-cuma, pasti rasanya jauh lebih enak daripada beli. Bayangin download album 'Dark Captain Light Captain' secara gratis dibandingkan beli cd impornya seharga 200rb-an, pasti lebih meresap dan terngiang-ngiang. hahahha...

Kenapa ya bisa begitu? Apa memang manusia itu makhluk gratisan? hehehhe... Setelah merenung sambil dengerin album 'Dark Captain Light Captain' gratisan tadi, gue menyimpulkan bahwa rasa nikmat tiada tara itu muncul karena... ehm... satu kalimat juga.. karena "Nothing's free today!" atau "Hareee gene mana ada yang gratisss?". Sering kan kita mendengar orang-orang ngomong kaya gitu? Apalagi kalau kita masih dianggap polos karena terus berharap bahwa masih banyak barang gratisan tersisa di dunia ini, omongan itu memang pengelakan yang tepat!

Kenyataannya memang begitu... mau minum beli aqua, mau mandi bayar PAM, mau nge-charge HP bayar listrik, mau pacaran beli pulsa, mau eksis beli Blackberry, mau pipis bayar seceng (Rp 1000), mau parkir bayar minimal Rp 1000 juga, mau tidur setor uang kontrakan atau KPR ke bank, masuk penjara tetep kudu bayar, mau lulus kuliah jangan absen fotokopi bahan, mau nongkrong ke taman menteng bayar parkir juga, mau liat pameran di galeri nasional harus rela ditagih ongkos sama kenek kopaja P20, mau terus hidup ya harus terus kerja, mau kerja ya bayar ongkos lagi. Wakakkaka... Pusing kan?

Jangan ngisup (Pusing-red) deh mendingan... Ini adalah kenyataan pahit yang harus kita hadapi bersama di dunia kapitalisme fana ini. hehehe Hari gini sih apa juga bisa diduitin, bahkan jasa lalu lintas di jalanan didagangin sama polisi gopek (udah nggak mau duit cepek-an). Ini semua memang lingkaran setan jahanam. Dimana semua manusia harus membayar segala sesuatunya untuk terus hidup oleh karena itu mereka harus menghasilkan uang untuk menumpuk cadangan uang, jadi jangan heran semua-semuanya nanti didagangin. Bisa aja kalau gebetan lo kepepet butuh duit, cintanya pun diperjualbelikan. hehhee (lebay...)

Sudah pasti hal-hal yang gratis itu enak karena memang banyak dari tetek bengek itu pada kodratnya hadir cuma-cuma. Mulai dari taman tempat nongkrong yang nggak perlu bayar apa-apa, memang seharusnya ruang publik yang menjadi sarana pergaulan kawula muda. Air yang dulu berlimpah dan menjadi hak semua manusia harus rela diprivatisasi perusahaan asing dan tidak digunakan untuk kemaslahatan orang banyak melainkan kemaslahatan orang yang mampu. Inilah ujung dari komodifikasi (sok keren bgt gw) ketika nilai guna atau pakai itu harus diuangkan. Dari Perceraian artis sampai jalan menemukan Tuhan. Semuanya tidak luput dari biaya. Gimana nggak tambah kere nih kita... hehehe...

Ini hanya keluh kesah gue aja kok. Berhubung kondisi keuangan gue lagi menipis, jadinya sok kritis gini. hahahaha.... Soalnya kalau kita lagi susah, baru deh berasa... betapa kejamnya dunia. Mau ngapa-ngapain bayar! hiks, hiks, hiks... Padahal Gue percaya kalau Tuhan itu nggak matre, Dia kan ngasih semua sumber daya secara cuma-cuma. Jadi salah tuh yang bilang bahwa Adam & Hawa jatuh dari surga itu menderita karena Tuhan sudah memberikan mereka berbagai fasilitas (plus wi-fi! hahahha). Keturunannya aja banyak yang mata duitan dan membuat dunia ini semakin kehilangan "Ruang untuk Anugrah" (ruang untuk yang gratis-gratis). Jangan-jangan saking sedikitnya ruang untuk sesuatu yang gratis, konsep bagi-bagi (share) bakalan lenyap. Mudah-mudahaqn jangan ya... (Aminn). Tapi kalau kata John Lennon (tetepp..) "Love is free... Free is Love". Apalagi "Free as a bird" (halah!)....


*Terinspirasi oleh lingkungan sekitar dan buku "Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar" oleh Marina Silvia K.

Jumat, 02 Januari 2009

Akhirnya LULUS juga...

181208

23.00


Phiuhh.... inilah nafas terlega yang bisa dihembuskan selama 15,5 tahun berada dalam labirin tertutup bernama akademik. Tidak terhitung berapa sumpah serapah dan caci maki dalam hati yang selama ini dipendam selagi diekspresikan. Akhirnya si makhluk keras kepala dan setengah gila ini berhasil mengalahkan raja terakhir dalam game yang telah lelah dimainkannya. Setelah berbagai macam strategi dan tahapan, 2 kata itu muncul juga. MISSION ACCOMPLISHED!

Ibarat agen KGB yang sedang becengkrama bersama agen CIA saat perang dingin, perasaan menaklukan lawan memang tidak ada tandingan. Gw setuju kalau pergulatan hidup gw dengan dunia akademik itu kaya sleeping with the enemy. Gw harus tunggu momen yang tepat untuk memebasmi musuh yang selama ini terus gw tiduri.hehehehe... Ok.. jujur aja... Siapa yang suka dan cinta sama dunia akademik di Indonesia? Sebagai anak muda tentu nonton konser jauh lebih menyenangkan dari mengerjakan PR Matematika 50 soal atau tugas penelitian SPSS. Tapi anak muda itu harus bisa menidurinya sebelum membunuhnya. Because my dad said so! Dalam modernitas, logika ilimah adalah segalanya. Dunia akademik bisa dibilang diwajibkan untuk memodernkan pikiran gw yang nggak ada ilimiah-ilimiahnya ini. Orang tua maunya anak sekolah terus kuliah biar jadi 'bener'. 'Bener mah urusan ntar, yang penting mereka mau liat kita lulus dulu, ya nggak?

Meskipun otak gw pas-pas an (dalam artian beripikir ilimiah tadi), pada akhirnya bisa juga tuh skripsi, yang tebelnya cuma 80 halaman, selesai. Yang menentukan pasti ketika sidangnya, saat-saat ketemu raja terakhir inilah yang membuat gw makin gregetan untuk ngadepinnya. Emang sih nggak pake jurus yang muluk-muluk dan kaya jagoan, tapi akhirnya lulus juga. LULUS... menjadi 4 kata yang bikin gw terobsesi selama setahun terakhir ini. And finally, I made it!!!

Kelulusan gw yang termasuk sedikit lebih cepat dari standar bukan hal yang perlu dibanggakan melainkan direnungkan. Soalnya perjalanan menuju momen ini sama sekali nggak gampang. Dari cerita yang hampir mirip sama termehek-mehek sampai kejutan-kejutan menggoda iman. Gw cuma percaya, kalau gw mau lulus 3,5 tahun, yang perlu gw lakukan hanya perlu percaya bahwa gw bisa lulus saat ini. Dengan kepercayaan itu, kemauan gw jadi sedikit lebay dan usaha gw jadi lebih gokil. Gw beruntung punya temen yang senasib dan sepenanggungan macam Inal. At least jadi lebih yakin dan bisa saling mendorong. Gw sadar banget waktu itu cuma 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Tapi ada banyak hal yang harus dikerjakan, apalagi yang ada deadlinenya. Hiks, hiks, hiks. Thank God gw dianugrahi kemampuan multitasking jadi otak gw punya banyak cluster untuk mengerjakan banyak hal. Namun pada akhirnya skripsi adalah segalanya, beberapa kerjaan pun kudu terlantar demi dia. ckckck.... Apa besok kalo punya anak dinamain skripsi? (hehehhehe jangan ampe deh!)

Gw takjub dengan alam semesta yang bisa berbahasa, gw juga kagum banget sama selera humornya Tuhan. Banyak banget kejadian dan temuan lucu selama proses ini. Dari mulai penentuan siapa yang jadi dosen pembimbing gw (yang sering dianggap rada killer ama anak2) sampai siapa yang jadi penguji gw (salah satu dosen yang jadi suporter setia gw selama ini). Dan gw teramat bersyukur dengan hal itu. Banyak banget pelajaran yang gw dapet selama proses pengerjaan skripsi ini. Gw belajar banget untuk tidak menilai (judge) orang dari awal berkat wawancara sama informan2 gw. Masih banyak banget hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya kemudian menambah bumbu dan kenikmatan pengerjaannya.

Membandingkan waktu pengerjaan dengan persidangan sungguh sangat tidak sepadan. Ketika sudah memperoleh hasil rasanya semuanya terbayar, tapi disidang memang tidak senikmat proses pengerjaan. Yah... mungkin inilah yang namanya orgasme akademik. Kerasa banget kalau happiness is in doing not getting or accomplishing. Tuhan yang sangat misterius juga menghadirkan dosen penguji yang baik hati. hehehehe.... Terima kasih Mbak kiki...!

Orang tua sebagai investor bisa mendapatkan hasil dalam waktu yang sedikit lebih cepat dengan sedikit resiko (jadi cukup menguntungkan berinvestasi di gw). Lega banget, seneng banget, dan banget2 lainnya sudah menanti untuk diungkapkan. Hari ini tiba juga, saat afra menyelesaikan studinya...untuk kemudian mengerjakan segudang impiannya!!! Hehehehe... terima kasih ya atas dukungan dan doanya..!



 
design by suckmylolly.com